Engkus mencuci Raja Utara dan Candy Red di halaman. Airnya mengaliri kerikil-kerikil di bawah kakiku. Masih berdiri mematung. Otak sedang mengurai sesuatu, mengolahnya menjadi suatu kalimat yang akan kuberitahu pada Engkus. Masih tertahan karena berat terucap.
“Engkus, bagaimana kondisi Raja Utara sekarang?” tanyaku perlahan, sangat hati-hati sebab takut Engkus sudah meraba hal yang ingin aku ungkapkan.
“Kenapa, Kasih? Kamu masih mau menjualnya?” tanya Engkus tanpa basa-basi.
Gagal, gagal sudah. Engkus memang pandai membaca ekspresi muka. Terutama jika aku tegang dan menelan ludah berulang kali sebelum mengatakan sesuatu. Ini yang Engkus sering bilang sejak aku kecil. Mendadak aku tak mau kehilangan Engkus untuk keluarga kami. Jika Ibu dan Bang Artan telah pindah, maka Engkus akan kembali ke Sukabumi. Kasihan Bang Artan kalau kehilangan Engkus. Slang air tersiram ke kakiku, Engkus sengaja. Dagunya mendongak menunggu jawabanku.
“Anu, apa Engkus sudah tahu rencana Ibu?”
“Rencana yang mana, pindah?” ada gurat kesedihan yang kutangkap dari Engkus.
Aku mengangguk mengiyakan. Lalu aku ceritakan apa yang aku dengar dari Ibu kemarin. Engkus juga menyambungkan cerita yang didapat dari Ibu. Intinya, mau tak mau, Engkus akan pulang kampung. Engkus juga tak mau tinggal mengabdi pada Bude Atmo. Pesan Kakek memang untuk menjaga rumah ini. Namun, sekarang kepemilikan telah berganti. Seseorang yang dulu mati-matian menolak warisan Kakek kini mengambil alih sebab Ibu berhutang banyak kepadanya. Yeah, jumlah uang yang cukup banyak. Ditambah Ibu juga harus pensiun dini.
“Baiklah, Engkus. Raja Utara dan Candy Red dijual saja!” tukasku.
Mata Engkus membeliak. “Dua?” tanya Engkus sambil menunjuk dua jari.
“Iya, terserah terjual berapa, Engkus. Berikan saja uang itu separuh pada Bang Artan, dan sebagian lagi untukmu.”
“Kenapa, Kasih?” Engkus terperanjat dan masih mengolah keputusanku barusan di isi kepalanya.
“Aku bekerja paruh waktu, menghasilkan cukup lumayan dan sekarang ini aku dilindungi keajaiban,” kataku menjelaskan.
“Keajaiban apa?” Engkus penasaran,
“Yeah, adalah pokoknya!”
“Jangan melakukakan hal yang tidak-tidak, Kasih!” Engkus memperingatkan. Aku tersenyum menenangkannya. Engkus yang sudah kuanggap paman sendiri lebih memahami kegilaan ku dibandingkan Ayah dan Ibu.
“Jadi bagaimana, bisa dijual tidak?” tanyaku penuh harap.
“Sebetulnya bisa saja, kalau tidak mengharapkan harga tinggi.”
“Tidak, tidak!” aku menggeleng, “berapa saja asalkan cukup untuk bekalmu pulang kampung dan juga Bang Artan agar menyimpan uang sendiri tanpa bergantung pada Ibu untuk beberapa saat,” ujarku meyakinkan Engkus.
Wajah Engkus menyiratkan rasa haru. Menyudahi menyirami air pada Raja Utara dan kini mulai melakukan kegiatan mengelap menggunakan kanebo. Tapi sebelumnya, Engkus lebih dulu mengelap pipinya yang lebih dulu basah entah oleh peluh keringat, atau air mata… entahlah.
Mataku juga mengerjap-ngerjap, menahan sesuatu yang panas yang ingin meluncur. Kulihat ke atas, menyaksikan burung kecil pulang ke sarang. Mereka terbang meliuk-liuk, mencari-cari dimana letak pohon yang menyimpan rumah mereka. Hmm, mereka seperti aku … mencari-cari rumah yang ingin aku hinggapi.
***