Jelaga

Misserasera
Chapter #19

Hadir dan Hilang

Embusan angin tipis melingkari leher telanjang, menyelinap lamat-lamat keharuman dupa kemenyan yang sangat sakral, membuat bulu kuduk di belakang leher dan kedua lengan tanganku berdiri tegak secara serentak. Ada aliran listrik bertegangan rendah yang mendesir di sepanjang tulang belakangku, memaku tubuh kecilku dalam kaku sesaat.

Jantungku berdegup gila, bukan karena rasa takut yang mencekam, melainkan karena getaran keakraban purba yang meluap dalam inti jiwaku. Menatap langit-langit kamar, berbaring di atas kasur yang empuknya cuma sedikit. Dua tahun sudah menipis. Mau beli lagi tapi sayang uangnya. Lalu aku teringat amplop cokelat dari Engkus. Aku berpikir untuk mengganti saja agar kondisi tulang belakang tidak semakin parah.

Berdeham tiga kali, seperti biasa sosok leluhur berwujud Mas Jati datang menyapa agar aku tidak terkejut. Setelah kujawab iya, dia baru muncul dan menarik napas lega. Spontan aku terduduk. Mengetahui sedikit saja asal-usulnya membuatku segan dan canggung. Sebab itu aku putuskan untuk tidak mengetahui lebih lanjut. Kuhentikan pembacaan mengenai sejarah masa lalunya.

“Kenapa berhenti?” tanya Mas Jati seolah mendengar kata hatiku. Akh, dia memang selalu mengintip apa pun yang aku katakan dalam hati. Hampir tak ada ruang rahasia antara kami. Sebabnya mungkin juga karena aku adalah jiwa yang ia persiapkan selama tiga ratus tahun.

“Anda tahu?” aku balas bertanya. Pertanyaan yang tak perlu, dia sudah pasti tahu.

“Kenapa menghindar, Kasih?” Dia tak peduli dan tidak berniat menjawab pertanyaanku.

“Ngeri. Aku tak mau terlibat dengan apa pun yang anda rencanakan!” jawabku ketus. Sangat berani padanya. Kuanggap dia adalah sosok yang paling tahu diriku ‘tak mudah untuk diperintah’. Dengannya aku tak pernah sembunyikan apa pun karena dia selalu mengikuti aku sedari kecil, dia pasti paham. Anak keturunannya ini tak suka didikte.

“Bahkan kamu menolak sebelum aku jelaskan,” ucapnya setengah putus asa setengah gemas.

Seharusnya dia tidak heran. Aku mirip sepertinya. Karakter dan sifatku menurun dari DNA leluhur yang bersemayam dalam sel-sel darahku. Mas Jati, hmm, aku lebih senang memanggilnya begitu. Lebih manusiawi. Menggertakan gigi yang menjadi ciri khasnya saat berpikir. Mas Jati lantas bertanya serius.

“Apa terlalu memalukan terlahir menjadi garis keturunanku?”

Lihat selengkapnya