Jelaga

Misserasera
Chapter #20

Keputusan Konyol

Menerima kabar kurang sedap dari Ibu dan Bang Artan, membuat aku makin tenggelam ke dalam pelukan Mas Angin. Pelarian, aku tahu itu. Bang Artan kebingungan karena Ibu menjadi rapuh. Ayah tidak punya hati, datang untuk menghina, memaki Ibu sebagai penyebab kebangkrutan keluarga. Ibu sudah tidak bekerja di kantor asuransi, sehari-hari Ibu dan Bang Artan mengandalkan dari hasil membuka warung. Pesangon Ibu memang sebagian digunakan untuk membuka usaha. Supaya roda kehidupan terus berputar. Mau tak mau, aku meminta Ibu menghentikan biaya kuliah. Rasanya malu jika tambah merepotkan. Mencari pekerjaan tambahan adalah solusinya. Namun, kini aku tidak sepenuhnya bebas. Mas Angin terkadang merajuk karena aku tak punya waktu. Aku juga tak tahu kenapa begitu terikat dengannya. Pernah aku merasakan kebodohan ini. Kenapa nurut saja apa maunya. Mulai menjauhi pertemanan dengan anak kos Mbah Tin. Bahkan dengan Simbah mulai jarang mengobrol. Lagi-lagi Mas Angin yang mengatur ini dan itu. Dia tidak suka aku makan masakan Simbah. Katanya, lebih baik aku jujur kalau lapar dan Mas Angin akan mengajakku makan bersama. Masalahnya, belum apa-apa aku sudah pernah kena tegur secara tidak langsung. Ini berkaitan dengan ibu Mas Angin yang tak sengaja bertemu denganku saat aku mengunjungi Mas Angin yang sakit typus. Kesan pertama perkenalan itu, sudah memberikan intuisi warning kepadaku. Melihat sorot matanya, melihat senyum palsunya. Semua terbaca jelas. Ibu Mas Angin sama saja dengan Mas Angin. Gerak-geriknya adalah peta isi hatinya. Bibir boleh saja senyum terkulum, tetapi sorot mata tak pernah bisa bohong. Kalimat pertama yang kudengar dari mulutnya adalah kalimat menusuk. “Iya, Angin sakit karena jarang makan. Dia lebih mengutamakan orang lain sampai mengorbankan dirinya sendiri!” ucapnya sembari menatapku sinis. Aku diam saja. Ibu Mas Angin tidak menyebut nama. Masa iya kutanyakan apa aku yang ia tuduh pemakan jatah makanan anaknya tersebut. Setelah Mas Angin sembuh kubahas ini dengannya. Seperti biasa Mas Angin selalu jengah diajak berdiskusi. Mengalihkan pembahasan serius dan memilih menyalurkan hasrat cintanya. Setiap kali aku bicara serius, Mas Angin bersentuhan fisik. Lama-lama aku muak. Beberapa kali aku mengajukan perpisahan, ketika hubungan kami menginjak tahun ke dua. Namun, semua itu gagal. Mas Angin punya seribu cara untuk mengulik rasa tidak tegaku. Sifat Anggoro Kasih yang welas asih terlalu menguasai perasaanku sampai dibutakan mana yang benar mana yang palsu.

Paling menyebalkan dia menggunakan rasa iba sebagai senjata. Kali ke-4 kutekankan dengan serius untuk putus. Mas Angin melakukan drama paling menjijikan. Kesalnya, aku tahu itu drama, tetapi tetap saja aku jatuh lagi di lubang yang sama. Tidak jadi berpisah dengannya. Gara-garanya sungguh konyol, karena dia memainkan drama bunuh diri sebagai akting terburuknya. Waktu itu aku tidak punya pilihan lain, selain meredam lebih dulu. Setelah situasi terkendali dan adem, ingin rasanya mulai lagi kuajukan petisi perpisahan itu. Bisa jadi, hubungan ini memang sudah kacau dari mulanya. Sebab aku menjadikannya tempat pelarian dari kehilangan-kehilangan yang bukan kesalahannya. Kupikir dia bisa jadi zona penyejuk. Aku pikir Mas Angin bisa lebih dewasa karena usianya lebih tua. Ternyata aku menemukan dia jauh lebih kekanakan dari Gery yang suka masa bodoh. Karakter terjelek Mas Angin ada pada sifat temperamentalnya. Mudah tersinggung hanya karena didahului saat mengantre, mudah marah saat berkendara di jalan, dia juga tidak suka ketika aku lebih menyukai sesuatu daripada dirinya. Misal jika aku memperhatikan artis yang menurutku ganteng dia akan dengan kekanakan mencari keburukan menjatuhkan artis tersebut. Sungguh konyol.

Kekonyolannya bukan itu saja. Di depan ibunya Mas Angin seperti anak itik yang ciut nyalinya. Baik ibu dan bapaknya menuntut Mas angin untuk cepat lulus dan segera bekerja, sehingga cepat membantu sekolah adik-adiknya yang ada lima. Bahkan yang terakhir masih TK. Kehidupan keluarga mereka bukanlah keluarga sederhana, karena bapak Mas Angin lumayan memiliki jabatan. Namun, gaya hidup mereka sering membuat akhir bulan mereka berada dalam kesulitan. Diam-diam, aku yang kerja sampingan sampai di dua tempat, justru menambal sulam kebutuhan Mas Angin di Jogja. Itu saja masih salah di mata keluarganya. Aku tertuduh sebab Mas Angin jarang pulang ke Pati. Padahal Mas Angin jarang pulang karena malas ditanya-tanya soal kemajuan skripsinya yang membuat dia frustrasi. Tertolak berkali-kali oleh dosen pembimbing juga gagal ujian skripsi membuat sisi dirinya yang suka memaksakan kehendak semakin liar. Terdampak pada aku tentu saja. Si welas asih yang menjadi goblok karena cinta. Akh, cinta yang bukan cinta, karena sebenarnya aku setengah hati kepadanya. Serba salah memang, sudah lelah sampai kapan drama disalahpahami selalu menimpaku. Entahlah apa yang kujalani ini. Hubungan kami lebih seperti hubungan hasrat berpacaran. Tidak ada deeptalk atau hubungan dalam satu sama lain. Tidak ada sisi lain dirinya yang membuatku nyaman. Tapi hubungan ini terpaksa terus kujalani. Ada sebabnya, dan ini suatu rahasia lagi dalam kehidupanku. Hanya ini suatu kebodohan.

***

Dia mengancamku menggunakan belati. Bukan diarahkan padaku, tetapi seakan ingin ia tusukan pada rahangnya sendiri. Sejak saat itu … aku tahu bakal menjadi budaknya. Kedua kakinya mengapit kedua pahaku, tak ada celah memberontak. Dia dengan teriakan keputusasaannya menceracau. Menyalahkan tuntutan sang bapak untuk secepatnya menyelesaikan kuliah, menemui dosen yang tak kunjung memberikan persetujuan lulus ujian skripsinya. Dia dengan rambut potongan cepak masih mengenakan kemeja putih yang seluruh kancingnya terbuka, menyalahkan semua orang atas nasib sial yang menimpa. Matanya merah menyala seperti iblis bertanduk.

“Kini kamu harapan satu-satunya, Kasih! Apa kamu juga tidak menginginkanku?” teriaknya mengeram padaku. Mirip anjing kelaparan dengan liur menetes. Aku kembali berusaha berontak. Tubuh setengah telanjang penuh keringat. Wajahku tanpa air mata, tatapku masih tajam tapi hatiku patah. Teringat pada kisah kelam yang justru buat aku kaku. Tak berkutik, tak bernyali.

Aku tak mau! Dalam hatiku berteriak nyaring. Sayangnya mulutku terkunci rapat. Teriakan-teriakn penolakan itu hanya hidup di isi kepala. Aku masih dua puluh dua tahun. Ini pertama kalinya aku berpacaran diluar batas dan dia lelaki pertama yang melakukan seperti ini. Aku sama sekali tak berniat memberikan kehormatanku. Kutahu ini bukan hal baik. Intuisiku menentang. Aku tidak menikmati cumbu rayu yang lebih seperti pembalasan dendam. Murni gejolak dalam dirinya yang ingin dipadamkan … melalui aku. Entah apa alasannya harus aku, saat itu aku tak paham karena bucin menyelimuti perasaanku. Selanjutnya kutahu itu dungu. Sebab fase itu bukanlah cinta, melainkan ilusi dari ketertarikan fana. Dan yeah, aku terpedaya.

Kali itu pertamakalinya dia berhasil memasuki diriku. Dia dengan pongahnya, merajai tubuhku sementara sebilah belati masih dalam genggaman. Dua detik, cukup dua detik rasa ibaku menyeruak dan pahaku mengendur dari pertahanan. Dia berhasil dan aku kalah. Kalah bukan saja kehormatanku terenggut paksa, tetapi juga kalah dalam menjaga pantangan Anggoro Kasih yang menaungiku. Aku melanggarnya … berhubungan diluar pernikahan yang direstui Tuhan dan leluhur. Aku melanggarnya, pantangan bersatu bersama orang yang energinya tidak selaras.

Sejak itu aku sudah tahu bahwa hidupku akan berantakan. Di bawah kendali penjarahan kehormatan berbalut hubungan asmara, aku menangis dalam diam. Berkali-kali mengingat Tuhan, sekaligus merasa dihinakan sebagai manusia oleh manusia lainnya. Parahnya manusia itu kusebut dengan sebutan “pacar”. aku bodoh, amat bodoh. Penjaga-penjaga dengan banyak pasang mata berkeliaran tak bisa menahanku, sebab aku sendiri yang memberi dua detik kesempatan pada setan berwujud manusia itu.

***

Sejam berikutnya dia masih kelelahan, sedikit terpejam. Otak dalam kepalaku masih mencoba mencerna apa yang terjadi. Kutatap langit-langit kamar kos 3x4 meter. Kedua tanganku terangkat lemas, merentangkan telapak tangan dan mengintip dari celahnya. Sontak pandanganku terkejut, menagkap energi yang lama kurindukan. Mas Jati. Bulun kuduk merinding, leher dan dagu meremang.

“Aku payah, ya …?! ucapku pada sosok yang sedari kecil kurasakan kehadirannya. Air mataku meleleh.

Lihat selengkapnya