Usiaku 22 tahun saat wisuda. Semua berjalan normal, hanya saja tanpa kehadiran keluarga. Baik Ayah maupun Ibu masing-masing memiliki alasan kesibukan. Mas Anginlah yang setia menemani. Sehingga aku mulai memaafkan tindakannya yang memaksakan kehendak, terlalu posesif dan konyolnya aku menganggap dia adalah bagian dari keluargaku. Hubunganku dengan teman dan keluarga bisa dibilang setipis debu beterbangan. Namun, di usia ini … aku pun mendapatkan ledakan emosi tertahan. Aku menaggungnya sendiri, selama ini. Diam-diam menghindari Mas Angin yang ternyata dipenuhi kegagalan. Celakanya, aku hamil. Akh, tidak. Tuhan memberikan hadiah kecil dengan cara kehamilan untuk menyelamatkan aku dari sesuatu hal yang lebih buruk. Jelas ini anak Mas Angin. Dia satu-satunya. Namun, hal tidak mengenakkan terjadi dan teramat menghina. Baru saja kabar berita kehamilanku masuk sebagai informasi ke dalam kepalaku. Kalimat yang dia ucapkan sudah melukai persaanku.
“Kamu yakin itu anakku?” tanya Mas Angin bernada gelisah.
Aku cukup mengenali sinyal ia hendak lari dari tanggung jawab. Aku diam, namun, tanganku bergetar hebat menggenggam hasil USG.
***
Ribuan detik lalu ….
Perawat memanggilku. Tertatih langkahku menuju ruang periksa dokter obgyn. Dokter akan memeriksa lebih teliti. Alasan sebelumnya mengapa aku dilarikan ke rumah sakit ini adalah perutku yang kram tiba-tiba dengan penuh rasa kesakitan. Kupikir gerd kambuh. Pihak IGD langsung paham dan langsung memanggil bidan bertugas.
Masih kuingat betul, pada ruang dokter berbau antiseptik. Tubuhku diperiksa sekali lagi. Mas Angin menemaniku di ruangan ini. Melihat dengan mata kepalanya sendiri benda sebesar kacang yang terpampang di layar monitor USG. Anehnya dia berucap gembira dengan sangat lebay pada kehadiran makhluk kecil dalam rahimku. Sekali lagi membuatku melongo dengan keahliannya berbicara. Seharusnya kutahu itu hanyalah akting. Aku mengabaikan intuisiku dengan meyakinkan batin dengan apa yang tampak di depan mata.
Bidan dan dokter tidak menaruh curiga sama sekali. Mereka hanya mewanti-wanti dengan kehamilan usia muda. Apalagi dalam kondisi tidak siap―tidak dalam pernikahan. Mas Angin berkoar akan segera menikahiku. Dia berujar kami memang akan segera menikah. Karena statusku sebagai mahasisiwi yang baru saja lulus, terlihat lebih muda dari usia sebenarnya, membuat dokter dan bidan memperlihatkan wajah khawatir. Pada saat itu aku berwajah seperti anak SMA, juga bertubuh kecil ramping. Saking tak mau dianggap sebagai penipu, Mas Angin memberikan kartu identitasku pada dokter dan bidan, tertera di KTP usiaku 22 tahun. Mereka lega, tetapi tatapannya masih menyudutkan. Di ruangan itu aku tersudut, semua mata memandang dan dia bersikap bak pahlawan kesiangan yang akan menerima diriku apa adanya. Ugh, memuakan. Bukankah dialah pelaku. Kenapa jadi aku yang harus malu. Apa aku malu? Pada Tuhan, ya tentu saja. Tetapi tidak pada manusia-manusia di ruangan ini.
Perawat berbelas kasih dan membiarkan aku tertidur di kasur periksa. Sementara menunggu Mas Angin menebus obat.
Detik, menit … hingga satu jam setelahnya tak tampak batang hidung Mas Angin. Aku masih kesakitan dan meringkuk seperti udang. Tangan melingkar perut, seakan ada yang harus aku bela sekarang. Diam-diam air mata mengalir di pipi.
Bidan dan beberapa perawat berbisik. Kupikir saat itu dua jam telah berlalu.
“Berpacaran berapa lama?” tanya Bu Bidan akhirnya, mencemaskan kondisiku. Sekaligus ketidakjelasan obat yang tengah ditebus itu.
Kutahu arah pertanyaannya. Mereka semua tengah meragukan Mas Angin.
“Dua tahun,” ucapku lesu.
“Apa pacaran zaman sekarang sudah sebebas itu, ya?” ujarnya memancing.
Aku diam saja tak menjawab. Menghela napas, beringsut membetulkan bantal. Perawat muda tahu aku diam-diam menangis. Aku terbiasa disalahpahmi orang. Sering terpojok dianggap salah. Kendati aku mempunyai alasan, tak akan ada yang mau mendengarku. Akh, sudahlah. Menceritakan yang sebenarnya pun percuma. Tak siapa pun yang percaya, diperkosa pacar sendiri. Iya, lalu apa namanya kalau bukan rudapaksa jika berhubungan badan, sementara sebilah belati terancam menggores leher mengalirkan darah. Dan aku berakhir di sini. Dalam ruang periksa kehamilan menunggu kedatangan Mas Angin yang tak pasti.
***
“Apa ada nomor lain yang bisa dihubungi?” tanya bidan cemas.
“Banyak yang kabur setelah tahu pacarnya hamil,” seloroh bidan itu lagi.
“Aku yakin Mas Angin tidak begitu!” bantahku sengit. Namun, akhirnya dalam hatiku mulai meragukan itu. Terlalu lama jika menunggu antrean obat. Hari mendekati senja. Bayangan dibalik tirai ruangan berwarna lembayung dan aku dapat melihat burung berkelompok terbang di atas langit.
“Mba Kasih, ini balasan SMS!” ujar perawat muda mengabarkan. Tadi memang kuputuskan meminjam telepon genggamnya mengirim SMS pada Ayah. Kutahu pria itu mengecewakan ibuku, tetapi di saat seperti ini aku membutuhkan peran Ayah. Tidak berharap banyak padanya, mengetahui dia merespons saja merupakan titik oase bagiku.
Isi pesanku cukup singkat. “Kasih sakit, Ayah. Jemput Kasih pulang!”
Dan jawaban Ayah juga hanya singkat. “Iya! Di mana?”
Jarak kota asalku ke Jogja membutuhkan waktu empat jam perjalanan. Ayah tak bertanya apa pun, mungkin karena sebelumnya diberitahu ini ponsel milik perawat rumah sakit.
Tak berlangsung lama, ponsel perawat itu berdering lagi. Tahun 2009 dering nokia memang cukup ikonik. Perawat itu tidak menggantinya dengan ringtone populer seperti lagu Peterpan atau D’Masiv yang sedang nge-hits.