Jelaga

Misserasera
Chapter #22

Luka Batin


Masa kejatuhanku ini, bisa dibilang terbantu dengan adanya Moody dan Ludi. Setiap perkenalan membawa arti dalam kehidupan, bukan? Sekarang baru aku mengerti. Jadi inilah alasan sebelum Bani pergi untuk selamanya dia mengenalkan sosok Moody dan Ludi kepadaku. Sungguh tak menyangka saat itu bila kelak di kemudian hari, Ludi dan Moody jadi penolong bagiku.

Sarapan tersedia di meja makan. Mereka memperlakukan aku dan Bulan layaknya keluarga sendiri. Dua kakak berdik itu masih sama seperti dulu. Ramah dan ceria, juga suka membantu. Mirip ayah mereka yang berwajah riang dan bijaksana.

“Apa kabar dengan Om?” tanyaku bukan sekadar basa-basi, memang tiba-tiba ingat ayah mereka.

“Sudah punya keluarga lagi!” ujar Ludi nyengir.

Melihat rupa kagetku, Ludi langsung memberi kode dengan telapak tangannya jika ini bukan berita menyakitkan.

“Kami sudah dewasa sekarang ini, Kasih. Tidak seperti dulu melarang ayah kami menikah lagi. Menghargai kehidupan orang lain dan belajar untuk tidak memaksakan kehendak,” ucap Ludi bijaksana. Aku terhenyak mendengar tuturan katanya. Ludi yang sekarang benar-benar berbeda. Bertambahnya usia memang membuat pemikiran manusia berkembang.

Aku menyuapkan bubur pada Bulan. Bubur yang dibuat oleh Moody, dia yang paling semangat memasak bubur nasi berisi lobak dan daging untuk Bulan. Kuperhatikan wajah ayu putriku ini. Sama sekali tidak kangen papahnya. Aku lega. Tanpa sadar aku menarik napas, dan mengembuskannnya dengan keras. Moody yang mendekat dan menggeser kursi di sebelahku mendengarnya.

“Apa ada yang tidak enak, Kasih?” matanya berulangkali melihat pada hasil masakannya.

“Oh, tidak bukan begitu. Aku sedang mengamati Bulan yang tidak menanyakan papahnya artinya dia nyaman bersama kalian, ha-ha-ha!” tawaku terasa hambar. Mengingat Mas Angin, tentang apa pun itu membuat tubuhku seketika dialiri arus dingin.

“Oh, syukurlah kalau Bulan senang. Kami pun senang dengan adanya Bulan. Lalu bagaimana perasaan ibunya, apa kangen papahnya Bulan?”

Aku langsung menggeleng, mantap. Aku sendiri heran. Semati rasa itu aku dengannya.

“Main, nikah-nikahannya sudah selesai!” tuturku geram. Moody melotot, aku tak peduli. Memang kenyatannya begitu. Mas Angin sudah menceraikan aku tanpa dipikir panjang. Harga diriku terpelanting parah.

“Pagi ini aku akan mencari pekerjaan, Moody!" ujarku optimis. Tanganku mengelus kepala Bulan. Di luar dugaan, serentak Mody dan Ludi melarang. Mereka bilang aku tenang dulu dan jangan cepat membuat rencana. Biar saja Moody dan Ludi yang memenuhi kebutuhan. Hatiku menjerit. Haru sekaligus kagum dengan empati mereka. Bagaimana tidak, aku teman yang jarang memberi kabar semenjak berhubungan dengan Mas Angin, dan dengan rasa malu mengetuk rumah mereka. Justru menerima kebaikan yang luar biasa besar. Aku menggeleng, mengatakan ini tak benar. Aku harus secepatnya mencari nafkah.

“Lalu bagaimana dengan Bulan?” tanya Ludi menghantam pikiranku lagi. Yeah, aku juga memikirkan itu. Rencanaku setelah mendapat pekerjaan tersebut, aku akan meminta izin untuk membawa anak sembari bekerja. Tentu saja pekerjaan yang ingin kudatangi serupa dengan pekerjaan-pekerjaan kasar yang pernah kulakukan dulu.

“Akan kutunjukkan Bulan anak yang anteng,” ucapku ragu sendiri. Mengingat bagaimana anak itu suka menyiram tangannya sendiri dengan susu hanya karena ingin melihat bulu-bulu di tangannya bekerja melindungi kulit atau tidak.

***


Merenungkan hidup dalam rumah sepi. Tanganku cekatan membuka tutup mesin cuci dan mengambil pakaian yang telah dikeringkan. Bulan tidur pulas, sementara aku mendengkus beberapa kali.

Berdiri di depan cermin dengan gurat kecewa memayungi wajah. Tiga puluh menit lalu aku menemani Moody berdandan. Memadupadankan pakaian yang akan ia kenakan pada acara kantornya malam ini. Meninggalkan rasa iri terselubung. Bukan cemburu pada kecantikan atau kesuksesan. Ini rasa terjujur yang timbul akibat percikan cemburu yang sehat. Cemburu karena aku tahu, seandainya aku tak memilih dua detik yang salah empat tahun lalu, mungkin detik ini yang kutatap bukan bayang kasihan seperti ini. Menatap bayangan sendiri di cermin yang menurutku memantulkan rasa kasihan mengenaskan, membuatku sadar banyak waktu yang kusia-siakan akibat memilih berpacaran dengan Mas Angin.

Dalam menilai suatu kejadian aku terbiasa menggunakan semua sudut pandang, jadi, aku tidak pernah menyalahkan orang lain. Karena bagiku kehadiran orang lain dalam hidupku sudah ditentukan untuk membawa cerita tersendiri. Buktinya, aku senang memiliki Bulan yang amat kusayangi. Soal penampilanku yang amburadul, aku menyalahkan diriku sendiri. Terlalu lelah, terlalu penat. Aku yang dari kecil terbiasa dilayani pengasuh, justru merawat sendiri anakku. Bangga tentunya. Bahkan Ibu tidak pernah setotalitas seperti aku pada Bulan. 24 jam waktu kucurahkan untuk anakku. Bayang ketakutan trauma medusa yang melatar belakangi hingga aku berjiwa seprotektif ini.

Bagiku yang sekarang ini sudah menjadi ibu, kenyamanan sebuah “rumah” berawal dari hubungan nyaman antara anak dan orang tua. Jadi yang pertama kulakukan, membuat diriku nyaman bagi Bulan, mengenali jiwanya. Sehingga tumbuh kembang dia sebagai anak-anak, lalu dewasa, kuharap akan nyaman bersama jiwaku. Karena aku mengalaminya, ketidaknyamanan bersama Ibu dan Ayah. Saling curiga meski terlihat baik-baik saja.

***

Lama kunantikan tanda-tanda kemunculan Mas Jati, tetapi nihil. Meski sudah berhari-hari aku di Jogja. Mendapat mimpi pun tidak. Yeah, aku tahu. Dunia dewasa sungguh berbeda dengan masa kanak-kanak hingga remaja. Kali ini tak ada peta pertarungan yang diberikan mengenai segala keputusan yang sebaiknya kuambil, tak ada pendapat atau instruksi lagi harus bagaimana. Apalagi larangan mengenai sikap yang salah kulakukan. Terakhir kali adalah ‘dua detik’ yang akhirnya membuat leluhurku kecewa. Sejak itu kurasa mereka tidak ikut campur lagi.

Pekerjaan berhasil kudapatkan setelah lima hari menunggu pasrah. Bukan pekerjaan hebat, melainkan sebuah pekerjaan yang tak sengaja kutemukan saat berjalan-jalan pagi dengan Bulan. Berawal dari aroma roti yang amat harum. “Sepertinya enak,” gumamku pada Bulan yang sedang kutuntun berjalan. Tidak jauh dari rumah Ludi dan Moody, sebuah rumah tua yang disulap menjadi semacam kedai kopi dan donat gula. “Oh, aku menyukainya.” Itu kesanku pertama kali. Pemiliknya keluar rumah menemuiku, seorang Oma dengan celemek bersih. Hmm, kurasa ia sangat cinta kebersihan. Sudut-sudut kedainya amat bersih, rapi dan wangi. Aku jadi ingat rumah peninggalan Kakek yang sekarang ditempati Bude Atmo. Lebih sering berbau lembab dan bau debu yang menempel di tirai yang lama tidak tercuci.

Lihat selengkapnya