Aku dengar kabar dari Ayah kalau Ibu sakit. Berikutnya, Bang Artan ikut menyusul mengabari. Aku pikir tadinya cuma alasan agar aku pulang ke Banyumas. Aku sungguh tak mau pulang karena pastinya Mas Togo juga berkeliaran di sekitar Ayah dan Ibu. Apalagi sekarang aku membawa Bulan, dan entah mengapa radarku kuat mengataan Mas Togo tak boleh mendekati Bulan.
...
Pernah suatu kali kami terpaksa menghadiri acara Bude Atmo di rumah besar. Selain melepas kangen pada rumah besar itu, aku juga ingin Bulan menjejakkan kaki di sana. Selalu mengawasi Bulan, bila kerabat memanggilku untuk berbenah maka kutitipkan Bulan pada Ibu. Namun, aku sangat terkejut, rasanya bagai tersengat listrik ketika kulihat Bulan sudah berada di gendongan Mas Togo. Ibu yang memberikannya, sebelumnya aku hanya mempercayakan Bulan pada Ibu tapi baru kutinggal sebentar aku melihat Bulan tersentuh tangan Mas Togo. Darahku mendidih. Aku kalap dan menghardiknya. Memicu reaksi marah dari Mas togo, juga kerabat lain yang tak mengerti asal muasal ceritanya. Ibu tergopoh-gopoh mendekat. Menarik aku dari emosi yang membuncah. Lalu kumarahi Ibu dengan mengingatkannya kembali pada kecurigaanku bertahun-tahun lalu.
“Siapa yang melakukan itu padamu tidak pernah terbongkar ‘kan Kasih,” ucap ibu menambah emosiku.
“Tapi Ibu tahu intuisiku mengatakan bahwa itu Mas Togo!”
“Akh, kalau intuisimu benar Bulan tak akan lahir sekarang!” ujar Ibu berucap tanpa tersaring. Ucapan pedas yang menyebalkan bagiku.
Aku tahu bukan saatnya berdebat. Sinyal bahayaku pada Mas Togo, sungguh Tak ada yang mengerti.
Lantas hal yang paling membuat kesal adalah ketika Mas Togo dengan entengnya, mencolek pipiku dan bilang, “Kasih, anakmu cantik seperti kamu, ya? Mengingatkan lembut kulitmu waktu kecil, kenyal seperti puding, ha-ha-ha!”
Bukan main meradangnya aku. Saat itu juga kutampar pipinya. Lalu kutinggal pergi. Bude Atmo yang tahu itu berteriak, sedangkan Mas Togo menyeringai penuh kelicikan. Aku pergi dari rumah besar secepatnya. Setangkas kijang berlari dari predator. Menyelamatkan anakku lebih dari segalanya, tak peduli lagi apa kata kerabat yang akan berceloteh mengenai hal ini.
Dan pada peristiwa itu. Adalah pertemuan terakhir aku dengan Ibu. Tidak kusangka sama sekali. Kerabat lain pun tak menyangka. Kalau dua minggu dari acara di rumah besar, Ibu sakit dan pergi untuk selamanya. Sama sekali tak ada intuisi untuk ini, jika Ibu akan menghadap Tuhan secepat ini. Aku sangat shock dengan kabar ini, dalam perjalanan ke pemakaman aku sampai tak berhenti gemetar. Ayah dan Bang Artan hanya membisu. Penampilan mereka acak-acakkan. Mereka sama sekali tidak menyangka sakit Ibu yang mereka kira cuma masuk Angin bisa menjadikan cukup alasan bagi maut menjemput Ibu.
Malam harinya aku tersedu dan tersengal sendirian. Kamar sengaja aku gelapkan. Aku tak mau diganggu siapa pun.
“I-ibu maafkan Kasih, kita belum sempat berbaikan, Ibu,” isakku membenamkan muka ke dalam bantal. Beberapa jam aku membiarkan diriku larut dalam penyesalan. Raut wajah Ibu yang serba salah terbayang kembali di pelupuk mata. Aku baru menyadari, raut wajah kasihan Ibu yang berisi penderitaan batinnya. Bisa dibilang sepanjang perjalanan hidup Ibu berisi perjuangannya untuk anak dan suami. Lalu aku, membanting perjuangannya itu dengan menikah cepat. Memilih tidak mengambil pekerjaan besar yang seharusnya bisa kudapatkan dengan alasan tak mau anakku mengalami luka trauma medusa yang sama. Menganggap Ibu tidak mengerti sesak jiwaku, tetapi apa selama ini aku memahami sesak jiwa Ibu? Kedua anak Ibu tidak ada yang bekerja sesuai impian Ibu. Bahkan aku begitu direndahkan suami dan keluargaya karena dianggap benalu.
Semua pahit aku telan, dan berpikir aku paling malang. Sekarang aku menggali lagi apa yang Ibu alami dan ternyata … Ibu jauh lebih malang daripada aku.
Saat menangis begitu, rasa hangat muncul di pucuk kepala. Denyut halus menyentuh kening. Aku terlonjak kaget, aku tahu siapa yang hadir. Dan benar saja, awalnya samar lalu berubah tebal dan jelas. Leluhur dengan wujud Mas Jati kembali hadir serta memeluk punggungku. Aku menangis sekencang-kencangnya. Tidak peduli ada yang mendengar atau tidak.
“Tuan, katakan apa ini kutukan keluarga,Tuan? Mengapa semua wanita di keluarga ini bernasib malang?” tanyaku menghiba.
Tuan itu tak menjawab, hanya mengelus kepalaku dengan energi hangatnya. Sedikit demi sedikit menghilangkan sesak di dadaku, dan aku tertidur pulas malam itu. Saat terbangun, perasaan sesak menghilang. Aku telah menumpahkan semua unek-unek. Aku mulai bisa menyuapakan makan yang seharian kemarin aku tinggalkan. Kendati bawah mataku cekung dan gelap. Setelah mandi keramas aku merasa segar, setelahnya menghela napas panjang. Rasanya aku mulai bisa merelakan kepergian Ibu yang mendadak.
Bude Atmo datang berkunjung menemui Bang Artan. Jika Bang Artan mau, kembali ke rumah besar bersamanya. Rumah Ibu hanyalah rumah kontrakan yang harus dibayarkan tiap tahun. Setelah Ibu tiada, Bude Atmo tak yakin, jika Bang Artan sanggup mengelola warung dan menyisihkan pendapatan guna membayar sewa rumah.
“Bukankah ini terlalu cepat, membicarakan ini?” tanyaku pada Bude Atmo. Tetapi Bude Atmo tak memedulikan aku. Ia masih marah karena anak kesayangannya menerima tamparan dariku.