Untunglah tabunganku dari Engkus memenuhi segala kebutuhanku dan Bulan. Kami sudah pindah tempat tinggal, meninggalkan Mas Angin tanpa membawa barang-barang dari rumahnya. Kuputuskan saja menyewa kamar untuk kutinggali berdua dengan Bulan. Membeli perabot seperlunya saja, sebab tempat yang kami sewa tidaklah lebar meski tidak sempit. Kami tinggal di lantai dua, sedangkan lantai satunya berupa toko perlengkapan alat lukis. Untuk menuju lantai dua, ada tangga untuk naik dari samping toko perlengkapan alat lukis tersebut. Tangga tersebut sangat aman untuk Bulan. Beralas karpet hijau dan tanaman merambat di sepanjang pegangan tangganya. Letak tangga di bawah atap garasi sehingga aman tidak terkena tampias hujan.
Untuk pekerjaan yang kulakukan kali ini, tidak perlu meninggalkan Bulan ataupun mengajaknya pergi jauh, semua pekerjaan kulakukan dari kamar sewa. Sebuah pekerjaan yang cukup kulakukan secara online. Jual beli barang di market place. Terkadang sejenis taplak, terkadang mug cantik. Mengikuti kata hati saja. Kini aku lebih banyak mengikuti kata hati, sesuatu yang dulu ketika hidup bersama Mas Angin berharga mahal bagiku. Selalu mengikuti kemauannya dan mengabaikan keinginan diriku sendiri.
Sekarang akau bebas seutuhnya, tidak menerima hentakan keterpaksaan untuk melayani manusia yang tidak pernah menghargai aku. Sangat tidak ada penyesalan dalam melepaskan. Pun ketika tabungan dari Engkus mulai menipis, tak ada rasa khawatir menyerang. Ini perbedaan yang mencolok. Ketika menjadi istri, setiap hari diliputi tarikan napas kecemasan. Tiada hari kulalui tanpa rasa khawatir, ini karena hidup Mas Angin serba terburu-buru, serba emosi dan penuh nada tinggi. Ketika aku menurunkan nada bicaraku, bukannya memahami dia justru menerima itu sebagai kekalahan. Alhasil tak pernah ada perdebatan yang menghasilkan solusi. Mungin jika ditelaah lebih lanjut, pengkhianatannya hanyalah ujung dari masalah yang ia timbulkan. Ketidakselarasan dalam menata hidup itulah yang menjadi penyebab utama. Dia yang selalu menyalahkanku, dan aku yang tak diberi ruang bernapas.
Akh, sudahlah. Cerita Mas Angin sudah kututup bukunya. Tidak akan pernah aku buka kembali bab-bab penyiksaan hati yang membuat aku terpapar nyeri.
Lalu apakah aku mendendam? Sama sekali tidak. Disitulah letak kejanggalannya. Kedewasaan mengolah emosi tersebut bahkan membuat otak aku sendiri terkejut. Namun, memang iya, lebih ringan untuk badanku. Peristiwa demi peristiwa tidak menyenangkan yang telah terjadi tidak menimbulkan rasa berdenyut berat di bagian belakang kepala.
Akhirnya Moody tahu apa yang terjadi, ketika dia menghubungiku kembali setelah kemarahannya yang panjang adalah karena mendengar berita kematian ibuku. Walaupun setahun berlalu, Moody menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya dan menyesali putus komunikasi sampai tak tahu aku kehilangan Ibu. Moody mengajak bertemu, kangen Bulan katanya. Tempat pertemuan di kafe bertema anime kesukaan Moody. Dia memesankan kopi hitam untukku dan cokelat susu untuk Bulan. Moody gemas dengan Bulan yang tidak mengenalinya lagi. Aku tertawa, ketika mulut Moody manyun, berpura-pura ngambek pada Bulan.
“Warna rambut kamu bikin Bulan bingung, Mod,” kataku mengedipkan mata.
Moody menggaruk rambut di kepalanya yang berwarna, pink, hijau dan kuning. Pekerjaannya di industri kreatif membuat kreatifitasnya terwujud dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seperti kali ini, Moody mengenakan boot setinggi lutut berwarna merah maroon, jaket kulit hitam dan rok selutut bergambar kuda poni. Aku juga tak mengerti mengapa harus kuda poni. Tadi aku sempat potes kepadanya, mengapa penampilan yang sudah gotic habis ini harus dirusak oleh rok pendek gambar kuda poni yang imut dengan warna cerah pink, biru, putih lengkap dengan pelangi. Moody terkekeh,berdalih apa yang dikenakan merupakan jerit jiwanya, tidak peduli anggapan orang tidak nyambung asal menurutnya nyaman akan ia pakai.
Aku merenungkannya, kata-kata Moody itu. Merenungkannya sampai waktu bergeser lalu mataku kembali tertumbuk pada jendela kamar sewa. Di usia sekarang ini. Aku masih bingung dengan jalan hidupku. Sungguh berbeda dengan Moody yang bebas dan lepas seperti anak burung yang terbang menari-nari menjelang senja, tetapi tidak lagi mencari di mana sarangnya berada. Sedangkan aku, adalah anak burung yang terbang menari-nari dan masih kebingungan di mana sarangku berada.
***
Kembali mengunjungi Bang Artan, kali ini tidak membawa Bulan. Moody dan Ludy yang mengantar pulang Banyumas, sekalian mereka melepas rindu pada kampung halaman. Bulan dibawa ke rumah mereka, aku sudah pernah ke rumahnya yang sangat nyaman dengan taman berumput hijau lengkap dengan ayunan. Kurasa lebih baik begitu, menemui Bang Artan sendiri karena ingin menanyakan hal serius yang dulu pernah tertunda pada abangku satu-satunya.
Kondisi warung amat pengap, ketika pintu baru saja terbuka dan Bang Artan kutemukan berjongkok menaruh stok garam di bawah meja.
“Baru mau buka warung, Bang?” tanyaku bermaksud membantu membuka papan kayu. Dia menggeleng, aku mengurungkan niat mengukurkan tangan pada papan itu.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
“Sedang tidak mood,” ujarnya santai.
Aku menghela napas, Bang Artan memang begini … bertindak sesuka hati.
“Kau diajak Engkus, Bang. Mau?”
“Ke mana?”
“Bukan ke mana, tapi di mana. Engkus sekarang ada di Kalimantan, sekarang dia rutin menanyakan kabarku, dia juga menanyakan kabarmu. Bila Abang mau, Engkus ingin Abang tinggal bersamanya saja.”
Lega, setidaknya pesan Engkus telah kusampaikan. Mau atau tidak itu urusan nanti. Kening Bang Artan mengernyit. “Aku mau Kasih, hanya saja … aku mau orang tersebut dipenjara!”
“Hah? Siapa?”
“Togo! Dia orangnya Kasih, dia orang yang melakukan penganiayaan terhadap kita. Aku mendengarnya, aku berada di dalam warung, berjongkok di tempat yang sama seperti kau temukan aku menata garam tadi. Mereka tidak tahu aku ada dan terlibat cekcok.”
“Si-siapa?” Tubuhku sudah bergetar hebat.
“Ibu dan Togo!” ujar Bang Artan berapi-api. Aku menemukan nada kejujuran atas ceritanya. Bahkan Bang Artan tak mau lagi menyebut ‘Mas’ pada Togo. Aku pun sama.
Dia melanjutkan ceritanya, apa yang ia dengarkan malam kejadian sebelum Ibu jatuh sakit. Katanya saat Togo datang mencari Ayah, Togo menghisap rokok di depan warung dan Ibu mengungkit soal kejadian di acara rumah besar. Ada kalimat Togo berikutnya yang mematik amarah Ibu, berkaitan dengan luka pelecehanku sembilan belas tahun yang lalu. Menurut yang Bang Artan dengar, Togo menyebutkan rekayasa perampokan juga hal-hal yang berhubungan dengan bisnis Ayah, anak-anak yang menjadi korban perampokan malam itu karena ayah melarikan diri setelah tahu dirinya akan mendapatkan pelajaran dari ketua sindikat.
“Hah, a-apa? B-bagaimana?” tanyaku gugup. Bang Artan menggeleng menutup mulutnya. Tak mau mengulang. Aku mengusap tangannya, meminta maaf. Kutahu tak mudah baginya mengingat isi pertikaian Ibu dan Togo. Aku coba merangkai sendiri informasi sepotong-sepotong dari Bang Artan. Aku mulai mengendus, garis besar dari keping-peping puzzle yang mulai tersusun rapi.
...
Membedahnya sendiri tanpa bantuan Bang Artan. Tak mau membuatnya merasakan emosi tinggi lagi. Aku menghubungi Engkus, meminta pendapat dari Engkus. Menceritakan apa yang Bang Artan dengar sebelum kematian Ibu. Juga bagian terberatnya yaitu menceritakan perihal luka yang ditorehkan perampok tersebut bukan hanya pada Bang Artan melainkan juga luka trauma medusa pada diriku.
Kutahu Engkus menangis di seberang sana. Menyalahkan dirinya sendiri karena sekian tahun tak menyadari luka kelam yang menimpaku. Engkus sampai meminta maaf berkali-kali. Sungguh ini reaksi yang tak terduga sekaligus membuatku lega. Melepas beban jiwaku pada luka yang lama bercokol. Luka itu bagian serpihan darah kering yang akhirnya bisa terurai dan melepaskan diri dari tubuhku. Ini … karena suara isakan tangis Engkus yang bukan sedarah tetapi sudah lebih dari keluarga. Kalau boleh jujur, sikap inilah yang kuinginkan dari Ibu di stasiun kereta bertahun-tahun yang lalu.
Baru dari cerita ini juga, Engkus baru teringat kalau malam itu … sembilan belas tahun yang lalu … pada malam kejadian … sebelumnya Engkus menerima bingkisan nasi berkat dari Togo, lalu Engkus merasakan sangat kantuk. Informasi yang diberikan pada polisi di masa lalu adalah Engkus tertidur karena tidak enak badan. Tetapi Engkus tidak memasukkan unsur ‘baru makan nasi berkat’. Karena dipikirnya tak ada hubungannya. Setelah menyadari nama Togo disebut seperti ini dalam kecurigaan keterkaitan peristiwa perampokan, Engkus baru menjahitnya menjadi bagian utuh yang masuk akal dari keping-keping ingatan tercecer.