Jelaga

Misserasera
Chapter #25

Sakremen Pertemuan

“Apa yang hilang?” tanyaku pada Detektif Ma. Kami kembali bertemu, kali ini di kedai kopi milik salah satu kenalannya. Ia membuka-buka sebuah buku. Katanya ini berkaitan dengan pencurian barang pusaka sembilan belas tahun lalu oleh sindikat jual beli barang antik yang diduga melibatkan ayahku dan juga sepupuku Togo.

“Sebuh kotak yang terbuat dari kayu jati berukir, berisi cundrik,” jelas Detektif Ma.

“Hah? Apa cundrik yang dimaksud senjata tikam rahasia wanita jawa kuno berbentuk keris yang biasa digunakan sebagai perhiasan tusuk konde?”

“Wah, dari mana kau tahu? Iya, perhiasan berlapis emas, makanya jika dijual di pasar gelap internasional pastilah sangat mahal.”

“Hmm, kalau begitu tidak mungkin ayahku memilikinya, kalau iya dia pasti sudah kaya sekarang,” gumamku menyimpulkan.

“Kalau itu aku tidak setuju, jika orang yang memiliki benda tersebut belum menjual ke penadah barang antik, tentu dia tidak menjadi kaya dan kami juga belum bisa melacaknya.”

“Oh, jadi benda itu seolah lenyap begitu saja?”

Detektif mengangguk. Keterangannya mengenai benda yang hilang dari Gedung Arsip sembilan belas tahun lalu membuatku pusing.

“Eh, Kasih, dari mana kau tahu tentang benda pusaka?”

“Akh, ya. Kuliahku dulu di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sejarah.”

Detektif Ma mengangguk, seolah terpikirkan sesuatu ia langsung membuka ponselnya dengan sesekali melirik ke arahku. Pria ini memang suka sekali menganggukkan kepala ketika sedang berpikir. Kurasa itulah tanda otak detektifnya sedang jalan. Lantas pria itu memberikan sebuah kartu nama beserta jabatan lengkapnya di kepolisian. “Buat apa?” tanyaku. “Simpan saja, supaya kau makin yakin aku benar-benar polisi,” ucapnya menyeringai. “Tentu saja anda polisi, aku mengingat wajah anda lebih dari yang anda tahu.”

Dia terkekeh. Aku mebaca kartu namanya. “Oh, jadi nama lengkap anda Maryadi Bakti.” bibirku membentuk huruf “O”.

“Kalau kau menerima surat resmi dariku, kau akan menemukan nama itu, Kasih!”

Masih hendak bertanya lagi tapi segera kusingkirkan pertanyaan tersebut. Dari lubang jendela kutahu hari mulai gelap. Detektif Ma baru saja hendak mematikan rokoknya ketika atmosfer di sekitar kami mendadak berubah secara radikal. Udara Jogja yang gerah di luar sana mendadak lenyap, berubah anjlok ke beku yang ekstrem dalam hitungan dctik. Dingin yang mengunci persendianku. Indra penciumanku disergap aroma wangi kayu jati tua yang basah. Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan getaran keakraban yang masif.

Mas Jati. Jiwaku berdesir melafalkan nama sang pelindung dari garis rahim ibuku yang turut hadir di antara kami. Sosok Mas Jati mendekat padaku dan Detektif Ma melihatnya, bola mata Detektif Ma hampir meloncat keluar. Pria reserse yang biasanya logis dan badas itu membeku total di kursinya. Kedua lengannya yang kekar tampak gemetar tipis.

Mas Jati dengan senyum tengil mendekat padaku, duduk di sampingku dan memperkenalkan dirinya tanpa basa-basi. Detektif Ma gelagapan, aku menarik napas. Tidak tahu apa maunya Mas Jati ini, mengapa menampakkan diri pada Detektif Ma. Aku mendelik ke arahnya, tetapi ia justru melotot balik padaku.

“S-siapa pemuda ini, Kasih?” tanya Detektif Ma sedikit terbata.

Mas Jati tidak menunggu aku memperkenalkan dirinya, dengan sangat percaya diri dia menyebut dirinya sebagai keluarga Anggoro Kasih―diriku.

Detektif Ma menatapnya tanpa berkedip. Terhipnotis dengan kemampuan Mas Jati berbicara. Mas Jati juga antusias menanyakan perihal benda pusaka yang hilang pada Detektif Ma.

Di bawah lampu pendar lampu neon yang berkedip, berkas perkara sindikat pencurian barang antik dan manifestasi perampokan sembilan belas tahun lalu berserakan di atas meja kayu. Seolah paham sekali akan rupa benda tersebut, Mas Jati justru menjabarkan gambaran detil wujud benda pusaka tersebut hanya berdasarkan keterangan teks pada arsip Detektif Ma. Ini menguntungkan bagi Detektif Ma sehingga ia tahu benda apa yang tengah dicari.

Anehnya Detektif Ma bagai tersihir. Ia tidak menanyakan bagaimana Mas Jati yang terlihat muda tersebut bisa tahu dengan jelasa seolah benda-benda tersebut pernah digenggam denga tangannya sendiri.

Keseriusan Mas Jati membuat angin dingin menusuk kulit. Perut bagian bawah rasanya penuh. Aku izin ke toilet sebentar. Sepuluh menit kemudian, di luar pintu toilet, Detektif Ma telah menunggu dengan kembali menghisap rokoknya. Wajahnya yang sedari tadi tegang telah sedikit santai.

“K-Kasih …” suara Detektif Ma keluar dalam bisikan parau, tercekat di tenggorokan. “Siapa … siapa pemuda itu?”

Ingin rasanya kukatakan saja pada Detektif Ma, dia tidaklah semuda yang disangka. Bahkan usianya melampaui tiga abad dari usiaku.

“Dia bukan manusia ‘kan, Kasih?” tanya Detektif Ma berbisik. Akh, aku tak perlu mengatakan apa pun, seorang detektif sepertinya mampu menangkap radar gaib dengan sangat baik. Tersenyum simpul lalu secepatnya aku melarikan diri dari pandangan Detektif Ma.

***

Hawa dingin kembali merayap menyusuri bulu-bulu halus di tengkuk. Aku tahu dia datang. Kututup buku yang dipinjamkan Detektif Ma tentang biografi Raja Selatan berdasarkan kesaksian sejarah menurut versi Belanda. Sebenarnya Detektif Ma tidak tahu kalau buku ini berisi kisah leluhurku atau Mas Jati―pemuda menyamar yang berkenalan dengannya tempo hari―yang Detektif Ma tahu, dalam buku ini terdapat gambar kotak berukir relief matahari bersinar berisi Cundrik Surya Candra. Pusaka inilah yang hilang dari gudang arsip sembilan belas tahun yang lalu.

“Jangan ditutup! Aku justru ingin membicarakan itu!” perintahnya, buku kembali terbuka dengan sendirinya.

Aku menatapnya lalu melihat pada buku bergantian. Ingin keluarkan kata, tapi tenggorokanku tersumbat. Ada remang yang menjalar hingga ke rongga mulut terus merayap ke tenggorokan.

Lihat selengkapnya