Jelaga

Misserasera
Chapter #26

Serat Candraning Kidul

Di dalam lapis rahasia tersebut … sesuai dugaanku menyimpan harta sesungguhnya. Leluhur pastilah yang menuntunku. Sekonyong-konyong aku menatap ke atas, mengelilingi isi ruangan dengan pandanganku. Mencari-cari kalau ada kabut tips, mengendus aroma … apa ada bau dupa atau tidak, cek tengkuk dan ujung kepala apa remang atu tidak, dan nihil. Harus kuakui, leluhurku itu memang menyebalkan jika di situasi macam ini, di mana aku butuh instruksinya langsung tapi dia seakan hilang tak berbekas. Aku dibiarkan sendiri, berjalan sesuai intuisi. Meyakini apa yang telah terunduh di dalam kepala saja.

Sebuah kain … akh, tidak ini mirip kulit binatang. Oh, tidak ini kertas merang. Tidak terlalu besar, tipis dan bergurat. Setelah kupahami, gurat itu berupa tulisan dengan huruf yang pernah kupelajari sewaktu kuliah. Aku coba membacanya, akh, aku menepuk kepala. Otak udangku ini kenapa buntu saat dibutuhkan.

Aku memutuskan untuk menunda keingintahuan yang begitu besar. Perutku tambah menjerit. Dari tadi siang belum diisi sedangkan ini sudah hampir pukul delapan malam. Walaupun tengah melakukan misi leluhur, tubuh tiga dimensiku ini butuh diisi bukan? Aku harus tetap menjaga kesehatannya dengan makan teratur. Supaya sehat, supaya berenergi merentangkan peta yang harus aku telaah sendiri.

Panggilan Bude Atmo kembali terdengar, aku menyahutnya dan tak sabar menuju mereka di meja makan.

...

Saat menyuapkan nasi ke mulut ada haru yang menyentuh dada. Aku ingat Ibu, aku ingat Ayah yang sebentar lagi harus aku jebloskan ke penjara karena sekarang aku menemukan bukti keterlibatannya dalam peristiwa pencurian di gedung arsip. Aku juga ingat Togo, bagaimanapun sosok wanita yang berhadapan denganku kini, yang menghidangkan masakannya untuk kami, yang memberikan suasana hangat di meja makan yang dulu dingin ini … adalah ibu kandung Togo, pria yang telah memberiku jelaga bertahun-tahun dalam kegelapan trauma medusa.

Tidak pernah terpikir bila aku akan bisa duduk semeja dengan orang yang mengaliri darah yang sama dengan orang jahat itu. Namun, inilah cara kerja semesta yang tak pernah bisa aku elak. Mengikis dendam dengan kelembutan kasih sayang.

...

Keterangan Bang Artan melengkapi keping puzzle yang bolong. Suatu kemujuran bagiku, orang yang bertahun-tahun mengidap gangguan mental akhirnya bisa berkomunikasi lancar bahkan mengingat segalanya dengan jernih. Tidak masuk akal, iya. Tapi memang setiap kejadian menguak misteri ini tak sesuai logika.

“Aku menemukan benda dengan kain hitam terjatuh, tercecer di garasi. Segera kusembunyikan seolah ada yang menuntunku untuk menyimpan dan merahasiakan benda itu, Kasih.”

“Lalu kau simpan di lubang bekas Kakek menyimpan kaleng tabungan?”

Bang Artan mengangguk. “Dulu kita sering membaca novel petualangan bukan, aku berandai-andai jika aku melakukan petualangan seru dengan suatu benda yang kukubur dan kubuka di masa depan. Tak kusangka, aku benar-benar melupakannya.” Bang Artan bergumam sendiri, “Sekarang aku mengerti mengapa perampok itu menghajarku tanpa ampun, kurasa benda inilah yang mereka cari.”

Pola terbentang dan aku mencatat kronologi dalam hati saja. Tidak kukatakan pada Bang Artan karena ia tak pernah tahu bila kotak ini sebenarnya tidak kosong, berisi cundrik yang telah terambil dan selalu berpindah tangan sampai akhirnya polisi berhasil mengendusnya di pasar gelap. Bang Artan juga tak tahu jika Ayah dan Togo terlibat, ingatannya terhapus, kurasa itu dilakukan oleh Mas Jati―leluhur. Demi keamanannya. Sekarang ini ingatannya dipulihkan karena aku telah siap menerima mandat dari leluhur.

Tengah malam ini juga aku mengirim e-mail pada Detektif Ma, berikut hasil yang telah kudapatkan beserta kesaksian terbaru dari Bang Artan.

***

Pagi harinya setelah sarapan dan bersenda gurau barang sejenak aku pamit untuk pulang ke Jogja. Sebuah cerita juga berhasil kudapatkan setelah tak sengaja aku bertemu dengan Topan. Masih setia mengendarai Raja Utara yang membuat kangenku memuncak. Topan datang ke rumah besar, awalnya membawa setandan pisang pesanan Bude Atmo. Hampir saja aku melonjak girang karena kedatangan sahabat lama, tetapi langsung kutahan, setelah ingat Topan sudah beristri. Bahkan aku menolak diantar ke stasiun. Menjaga perasaan istrinya. Namun, kami sempat berbincang di teras rumah.

“Masih setia menjaga Raja Utara, Pan?” celetuk aku menunjuk motor lamaku.

“Kalau kangen, keliling saja dulu, Kasih!” usulnya.

“Eh?”

“M-maksudku dengan Raja Utara,” jawab Topan gugup. Wajahnya bersemu merah.

Aku melirik jam tangan dan menggeleng lemah. “Tak ada waktu,” tolakku halus. Topan menyeringai. Kami pun berjalan bersama di halaman yang penuh kerikil. Sesekali aku mengusap Raja Utara dan membisikinya kalimat rindu. Topan yang menuntun sang raja hanya tersenyum memaklumi. Obrolan santai sengaja kulontarkan untuk menghilangkan rasa canggung kami yang sudah lama tak bertemu. Menit berikutnya tidak canggung sama sekali, Topan menyindir aku yang telah bercerai.

“Dari awal aku sudah curiga sama orang itu. Kurang sreg di hati,” tutur Topan jujur.

“Akh, kamu tak pernah setuju aku dengan siapa pun! Dengan Bani juga dulu begitu.” Dalam hati aku membatin, Topan sama seperti leluhur. Tidak menyukai semua lelaki yang terlibat asmara denganku.

“Kasih, apa kamu dengar soal ayahmu?” tanya Topan mendadak serius. Seketika aku menghentikan langkahku.

“Soal apa?” Dadaku langsung berdebar was-was.

Topan cerita kalau rumah sewa sudah lama kosong sejak Bang Artan tinggal kembali ke rumah besar. Sebelum itu, ternyata desas-desus telah menyebar di antara bapak-bapak kompleks, kalau Ayah dan Togo pergi bersama orang-orang bersamurai. Aku heran Bang Artan tidak mengatakan apa pun soal ini, tapi menurut Topan, Bang Artan tidak tahu menahu soal ini. Kejadiannya setelah Bang Artan pergi.

“Apa mereka―orang-orang bersamurai itu―menjemput paksa?”

“Kurasa tidak, Kasih. Ayahmu menyiapkan segalanya, mengemas barang, menjual perabot. Hal tersebut hanya akan dilakukan oleh orang yang kepergiannya direncanakan.”

Benar juga, ya, batinku setuju pendapat Topan.

Lihat selengkapnya