Jelaga

Misserasera
Chapter #27

Monolog Batin

Pukul dua pagi. Kantung mata menebal, sudah bukan mata panda lagi. Ini sudah semacam zombie. Tidak tidur dua hari ini, makan seperlunya. Kalau bukan karena terpaksa, yeah … terpaksa memenuhi jalannya imajinasi yang takutnya kabur kalu tidak cepar tertulis. Ketuk jemariku menggila, keringat bercucuran.

Aku tidak sendirian dalam menyusun naskah novel terbaruku ini. Sosok teman bersamaku. Kisah sosok teman inilah yang tertulis dalam novelku. Asalnya bukan dari zaman ini, melainkan beberapa abad lalu. Kesalahannya di masa lalu menuntun cerita anak keturunanya mewarisi sebuah karma. Pada dongeng yang dikisahkan biyung-biyung untuk anaknya di malam hari … temanku ini dikisahkan kejam.

...

“Hmm, apa begini kalimat pembukanya?” Aku bertanya pada Mas Jati yang bersedekap mengawasiku mengetik.

“Yeah, kau tulis saja yang ada di kepalamu,” gumamnya masih terpejam. Posisi berdirinya santai bersandar pada sebuah meja. Sosok pemuda dengan tubuh tegak dan mata terpejam lumayan mengganggu konsentrasiku. Lalu iseng kutanyakan kepadanya.

“Kapan anda mengganti wujud muda anda, Tuan?”

Pertanyaanku berhasil membuatnya membuka mata. Mengedip-ngedipkan mata memainkan bulu mata lentik yang mirip bulu mata Ibu.

“Apa wujud ini mengganggumu?”

“Yeah, lumayan. Canggung!” gerutuku. Aku membalik badan, dadaku berdebar. Entah demon apa yang merasuki pikiran gilaku. Menilai tak wajar berduaan di dalam kamar bersama lelaki muda.

Sesuatu menimpuk kepalaku. Gulungan kertas yang ringan. “Fokus saja menulis!” perintahnya. Huft, debaranku langsung menghilang. Agaknya demon mengikik di ujung telinga, berhasil membisikan hal gila yang membuatku sempat berdebar.

“Dia adalah aku, aku adalah dia,” gumamku sendiri, menepuk dahiku menyesali kebodohanku. Malam ini aku meneruskan monolog batin yang tercurah pada ketikan di layar laptop. Aku dan dia, tak perlu membuka mulut untuk berbicara. Intruksinya terunduh dengan cepat sebagai monolog dalam batinku sendiri. Tidak ada suaranya, hanya suaraku, yang terkadang aku pun masih bingung antara intuisi atau overthinking. Namun, yang kupahami bila overthinking menyerang akan membuat jantung berdebar kencang secara negatif, memicu pusing migren di dahi, otot leher kaku hingga dapat memberikan lonjakan hormon stres. Sedangkan intuisi datang cepat melompati waktu.

***

Malam gelap, kaki berlari sampai rasanya mati lemas. Seseorang memburuku dalam lorong gelap. Mengayunkan palu dan dari tempatku bersembunyi di balik dinding kurasakan aura kekejamannya.

Bulir keringat mengaliri leher dan aku letih. Menyandarkan kepala ke dinding penuh coretan dan aku hampir menarik napas lega, ketika kudengar langkah kaki itu menjauh. Sampai waktu kudengar suara lain. Mencicit sok imut dan menatapku dengan kepala miring. Suaraku tercekat. Tak bisa teriak, takut anggota sindikat itu dengar, tapi sungguh geli dengan tikus-tikus menjijikan.

Gusar, ngeri dan jijik campur jadi satu. Spontan memekik saat tikus itu mulai merambati sepatuku. Sampai lupa sedang sembunyi.

“Auw!” Aku memekik. Bukan karena tikus lagi, sebuah tangan menjambak rambut dan menyeretku dari tempat persembunyian.

Tubuhku jatuh berdebum menghantam lantai, dan palu itu terlihat berayun ke arah kepala. Aku berteriak berusaha bderingsut menjauh sembari menutupi kepala dengan kedua tangan.

Bugh! Suara keras menghantam. Bukan aku tapi anggota sindikat yang mengejarku. Dia jatuh tesungkur bersimbah darah. Sebuah papan iklan besar menghantam kepalanya. Tak berkutik, tak bernyawa.

Kupandangi baik-baik dalam sinar remang, bayang gelap mengayun kaki dari tempat papan iklan itu terjatuh. Itu dia orangnya yang menjatuhkan papan iklan, eh dia bukan manusia, hantu … akh, bukan juga. Dia leluhur yang mengikutiku.

Lihat selengkapnya