Semua tragedi berdarah ini awalnya lahir dari rasa cinta dan kebucinan yang salah arah.
Memejamkan mata. Menyelami kedalaman jiwanya, membungkus roda waktu berputar … sepasang mata itu melekat lalu menyatu denganku.
Tubuh sepasang mata ini bergerak. Mendatangi seorang gadis yang sama. Akh, tidak. Gadis yang sama tapi telah tumbuh remaja. Gadis itu Kandari, melemparkan senyumnya. Melihat pada tubuh tegap pria ini yang berpakaian bangsawan kerajaan. Kandari memangggilnya, “Pangeran”.
Aku tertegun, apakah penglihatanku kini beralih pada putra dari Raja Selatan, Sang Pangeran yang berkhianat pada ayahnya sendiri itu? Kenapa bisa? Bukankah aku tetes dari Mas Jati alias Raja Selatan? Mengapa aku sekarang menyelami perasaan si pembunuhnya.
Namun, tunggu dulu … perasaan apa ini. Mengapa begitu sesak. Mata yang berkilat-kilat itu .. milik Kandari saat menatap Pangeran. Lantas dada yang sesak ini milik sang pangeran yang menatap kandari. Merengkuh, memeluk, tak mau melepaskan. Cinta yang tulus, kerinduan yang dalam. Jadi … mereka berdua saling mencintai. Baru menyadari sesuatu yang akan tertulis dalam ketikan selanjutnya, aku membuka mata perlahan. Leherku meremang menjalar pada dagu hingga masuk ke dalam tenggorokan. Ada banyak tanya dalam kepalaku tetapi mulutku terkunci rapat. Aku tidak mencari keberadaan Mas Jati di dekatku. Tengkuk meremang dan aroma yang tercium bukan aroma Mas Jati. Aroma ini lebih menyengat, gelap dan pekat. Bagai kabut asap hitam, menuntun jemariku bergerak menyentuh setiap huruf pada keyboard. Aku kembali memejamkan mata. Larut dalam ritme desah napas seseorang.
***
Napasnya memburu. Sepasang mata cemburu kembali mengawasi. Sosok pria berwibawa yang kembali memasangkan sebuah cundrik pada sanggul gadis yang dicintainya. Cundrik itu … aku mengenalinya. Bukankah itu Cundrik Surya Candra. Jadi benar pria tua itu adalah Raja Selatan. Sosok berwibawa yang kedalaman jiwanya tengah terguncang. Sedangkan pria yang lebih muda ini. Wajah bersembunyi dibalik semak. Menatap raut wajah ayahnya dcngan kaku dan penuh amarah. Penuh cemburu dan dengki.
Degup jantung berdenyut kencang. Kepalan tangannya menyakiti dirinya sendiri, ketika sang ayah yang ia takuti merangkul tubuh gadis bernama Kandari. Rasa sakitnya seakan ingin melompat pada kolam kematian.
Di lain waktu, dada bergemuruh ini berjalan lurus mendekati singgasana. Bisikan-bisikan kelembutan ditiupkan dari beberapa penasihat. Dirinya harus segera mengambil tindakan penyelamatan bagi tanahnya. Sang ayah terjebak dalam duka berkepanjangan dan harus segera digulingkan. Dada pria ini tambah bergemuruh ketika membayangkan wajah gadis yang seharusnya ia miliki karena saling mencintai tetapi terbentur pada obsesi liar sang ayah yang menyematkan kebucinan pada orang yang salah. Hanya karena seseorang itu mirip rupa, bukan jiwa yang ia cintai. Menyiksa dua hati yang ingin bersatu.
Bisikan-bisikan tak bermoral mulai diselundupkan ke dalam otak Pangeran yang terlihat tegar tetapi sebenarnya amat rapuh. Kondisi kacau dan keserakahan politik membuat hasutan-hasutan yang mampir pada telinganya semakin liar. Masa kecilnya yang selalu dibandingkan dengan sang ayah membuat jiwanya terluka, ditambah lagi ayahnya tak pernah cukup memperhatikannya. Sibuk mengamankan singgasana dan bucin pada wanita. Pangeran selalu merasa terabaikan. Keadaan ini diperumit karena ia jatuh cinta pada gadis yang dijadikan pengganti Asmarandana, wanita yang teramat dicintai sang ayah hingga mengacaukan kondisi negara.
Suatu ketika ia mengobrol berdua bersama sang ayah, Raja Selatan.
“Apa paduka dekat dengan ayah anda dulu?” tanya Sang Pangeran tanpa menatap ayah kandungnya yang termenung sesaat.
“Aku takut dengan ayahku,” jawab Raja Selatan pendek.
“Mengapa?” kali ini pangeran menatap ayahnya serius. Mulai tertarik pada emosi jawaban yang terkandung di dalamnya.
“Beliau begitu sempurna di mataku, aku selalu takut gagal memenuhi harapannya. Karena itu aku begitu keras pada diriku sendiri. Aku telah mengalami banyak kehilangan dan tidak peduli orang menganggapku kejam. Aku harus menjaga apa yang telah beliau tinggalkan untukku.”
“Tanah ini?”
Raja Selatan mengangguk. Lalu menatap putranya penih kasih sayang. Tatapan yang disalahpahmi, karena sang putra justru terbebani.
“Bukankah sama, paduka. Hubungan anda dan ayah anda, lalu hubunganku dengan anda.”
“Hmm, hubungan keluarga yang rumit, bukan? Kita tak bisa menyalurkan welas asih kita tanpa drama karena takdir kita berada di singgasana.”
“Singgasana itu memerlukan pemimpin yang tidak larut dalam kebucinan, Paduka! Tanah ini kacau bila rajanya tidak kompeten. Banyak hal baru yang akan menggerus tata krama yang telah terbangun berabad-abad.”
Raja selatan mendecih. “Itu perkataanmu atau titipan kecemasan dari para penasihatmu?”
Pangeran gusar dan membuang muka. Dua manusia ayah dan anak tersebut saling merenung. Terdiam.