Jemariku menghentikan ketikan. Membaca ulang setiap kalimat dari unduhan rasa Pangeran yang membuatku miris dan pilu. Sepanjang hidup menduduki takhta dia hanya merasakan kekosongan jiwa, hidup dalam rasa bersalah dan kehampaan. Belum cukup pada perasaan hampa, takhtanya pun hanyalah singgasana boneka yang tak mampu ia kendalikan sendiri.
Aku menoleh ke arah belakang. Tengkuk meremang dan kulihat Mas Jati terduduk di lantai menutupi wajahnya yang menangis dengan telapak tangan bulan sabit miliknya. “Akh, raja tiran bisa menangis juga,” kataku coba menghiburnya. Ia tak menggubris, mengetahui fakta bahwa putranya tak pernah benar-benar menggenggam takhta merupakan kenyataan paling menyakitkan setelah keputusan membiarkan kematian di tangan orang yang dicintai.
Hubungan yang rumit, aku menyimpulkannya. Hubungan orang tua dan anak yang saling mencintai, tetapi saling menyakiti. Seperti hubunganku dengan Ibu. Kekecewaan membawaku menjauh darinya, namun setelah kepergiannya … hidupku jauh lebih rumit. Fakta mencengangkan dikhianati pasangan, bahkan terkuak tabir misteri perampokan tahun 1996 membawaku sadar bahwa jelaga yang harus kuusir adalah pola. Menghilangkan dendam untuk memutus pola berulang tersebut.
…
Detik jam kembali berdetak, kali ini bergerak sesuai waktu berjalan. Remang pada tengkuk mulai mengendur. Aku merentangkan peta dan menerjemahkan pola. Baik pengkhianatan yang terus terjadi, hubungan buruk antara anak dan orang tua, sejajar dengan keserakahan atau nafsu duniawi. Perasaan pangeran telah kuterjemahkan, alasan Raja Selatan membiarkan anaknya yang mengambil nyawanya juga telah terkuak.
Pada dasarnya mereka semua saling menyayangi. Ini pertempuran emosi dalam keluarga. Seperti aku dengan Ayah, seperti aku terhadap Ibu. Seperti Ayah dengan ibunya, seperti ibuku yang tidak bisa keluar dari lingkaran manipulatif Ayah. Semua itu luka yang diwariskan. Aku pernah gagal mengendalikan nafsuku, aku juga pernah jatuh ke lubang yang sama. Aku pernah mengalami banyak kehilangan, hidupku mengalami berkali-kali pengkhianatan. Aku tahu tidak sempurna, tetapi aku tak mau generasi berikutnya mengalami hal yang sama. Sejak aku memutuskan berpisah dengan Mas Angin, sejak itu pula semua ketakutan kuganti dengan keberanian hidup. Aku tidak takut lagi merasa kehilangan, sebaliknya kujaga dan kuberi terbaik apa pun yang dapat kulakuakn. Termasuk menyelami rasa dua tiran yang membisukan alasan aku membenci mereka sebagai leluhur yang kejam. Selalu ada alasan dalam setiap perbuatan, hasutan, intrik dan politik. Keserakahan seperti yang menaungi Ayah dan Togo.
Pada akhirnya emosi-emosi jiwa tersebut tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Melihatnya dari berbagai sudut membuatku tak punya alasan lagi membenci masa laluku. Semua orang-orang yang hadir dalam hidupku hanyalah menjalankan perannya masing-masing. Peran-peran yang hanya berganti kepala pada setiap masa kehidupan, namun selama jiwa masih melakukan pola yang sama maka akan tetap tersesat pada labirin yang sama.
***
Nyaring bunyi sirine mobil polisi mengantarkan aku pada titik klimaks dalam perjalanan pembersihan jelaga dalam kehidupanku. Aku berada dalam mobil Detektif Ma, melakukan pengejaran pada Togo dan kelompoknya.
Mobil mereka meliuk kencang. Aku yang berpengalaman dengan deru balapan liar di jalanan pada masa muda dulu, tahu persis kalau Togo dan kawan-kawannya sekarang ini pastilah sudah dalam posisi terjepit.
Melaju kencang tanpa perhitungan semacam itu ciri khas dari pertahanan diri terakhir dari buronan yang terkepung. Tidak ada celah lagi untuk melarikan diri. Sebuah SUV hitam polisi melesat, menempel ketat. Dalam hitungan detik, bemper depan menghantam sudut bemper belakang mobil buronan itu. PIT maneuver. Mobil Togo dan kawanannya oleng, berputar liar, lalu berhenti miring di pinggir jalan.
Aku dan Detektif Ma saling memandang, kemudian ia mengangguk padaku, keluar dari mobil dengan mengacungkan pistol dan berjalan mengendap. Polisi lainnya telah berjaga dan melakukan gerakan yang sama. Dalam bayang kaca yang berserakan itu aku melihat sebuah kaki menendang pintu mobil. Sosok tubuh sempoyongan berjalan di antara pecahan beling.
“Berhenti, Togo.” Suara Detektif Ma datar. Aku menajamkan pandanganku. Darahku tersirap. Itu … Togo. Pria yang ada di balik kemudi. Sementara empat pria lainnya. Telah merangkak keluar dari mobil dengan penuh luka. Polisi mudah saja menagkap mereka. Namun,Togo memegang senjata. Ia masih berusaha melakukan perlawanan. Menembak acak pada polisi yang mengacungkan senjata padanya. Berjalan mundur dengan suara serak tertawa. Mengejek polisi, mengejekku. Dia melihatku.
“Berhenti,Togo! Letakkan senjatanya. Pelan.” Detektif Ma terus maju, mengacungkan pistol dan borgol di jari tangannya yang berbunyi kecil “ klang”.
Togo nyengir. Darah di sudut bibir membuatnya terlihat bengis. Dia mengangkat tangan. Menyerah tapi matanya masih nyala. “Borgol saja aku, tapi ingat … kami ini cuma pion, dalang dibalik ini semua tidak tersentuh oleh tangan kalian!” tukasnya sombong.
“Kami tahu.” Detektif membalik badan Togo, memasang borgol.