“Selesai!” kataku. Menekan tombol enter dan mengetik kata “TAMAT” pada novelku. Mas Jati lama tak muncul menemani aku mengetik, tapi pastinya ia tersenyum puas di mana pun ia mengawasiku. Pukul dua dini hari dan aku berhasil menyelesaikan tanpa drama. Kurang lebih tiga bulan pasang surut emosi telah kulalui. Tidaklah mudah mengisahkan lagi luka trauma dan sejarah masa lalu dari leluhurku tersebut.
Menyerahkan Serat Candraning Kidul kepada Detektif Ma yang kemudian memasukkan kembali pada lapis dasar kotak berukir berisi Cundrik Surya Candra. Detektif Ma merindukanku, katanya aku tak banyak membantu kasusnya lagi. Aku mendengkus, meratapi. Tak tahu harus senang atau sedih. Lega tak ada kejadian aneh lagi menimpaku, seharusnya melegakan. Namun, sebaliknya aku justru gundah, karena dia―leluhurku―tak berada di dekatku lagi.
Seharusnya aku membencinya karena seolah ia hanya memanfaatkanku saja, kejam. Namun, rasanya ada yang aneh. Justru aku merindukannya, mirip Detektif Ma merindukanku. Keterikatan kasih di antara derita. Yeah, sebab keterhubungan kami menandakan situasi sedang kacau dan butuh bekerja sama.
Bahkan aku hampir gila karena rindu, berlarian di sudut kota hanya untuk memastikan apa dia akan muncul lagi ketika aku dalam bahaya. Kutantang preman jalan berkelahi, walaupun akhirnya aku kabur dan Detektif Ma yang menyelesaikan urusannya. Pernah kularikan motorku secepat ‘Gundala berlari’ sampai batas mati dan hidup setipis benang sutra, ia tak kunjung muncul.
Suara sirine Detektif Ma yang akhirnya mengejar, menghentikanku dari kegilaan ini. Sampai akhirnya aku dan Detektif Ma berbicara di jembatan gantung.
“Lompat saja, kalau kau ingin bertemu leluhurmu!” perintahnya ketus. Dia muak dengan tingkahku yang kekanakan.
“Aku bukannya ingin mati, hanya ingin melihatnya sekali lagi. Leluhurku menghilang usai pelarangannya tentang kebucinan. Aku tak menemukannya di mana pun, baik dalam wujud penyamarannya maupun merasakan kehadirannya saja.” Tak ada yang kusembunyikan antara aku dan Detektif Ma.
“Dia sengaja pergi agar kau bisa mengandalkan diri sendiri, Kasih! Begitu saja kau tak bisa menangkap tujuannya.”
“Aku tidak menyangka saja, perpisahanku dengannya meninggalkan satu pesan agar aku tidak menjadi budak cinta, hmm, kurasa agar tak berakhir seperti dirinya.”
Detektif Ma tertawa, menepuk pundakku dan memuji motor baruku CBR 150R Sports Red. Aku berdalih, kembali pada kebiasaan lama agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Detektif Ma mengangguk-anggukkan kepala dan berpesan supaya tidak ngebut. Dia pun berlalu membawa mobil polisinya, senyap tanpa sirine.
Yeah, aku juga harus kembali pada kehidupan manusia biasa. Tanpa penjagaan ketat yang terbiasa mencekik leher lagi.