Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #1

Bab 1. Bram

Hari ke-1, Lasem, Januari 2026

─────────────────────

Timbangan Bebek Kuningan: Alat yang paling jujur di Toko Sumber Waras. Ia tidak pernah keliru mengukur berat, tapi tidak pernah ada yang memintanya menakar sesuatu yang tidak bisa ditimbang.


Ayah tidak mewariskan apa-apa selain toko kelontong, utang tiga miliar rupiah, dan sebuah pintu gudang yang digembok rantai selama dua puluh tahun—pintu yang tidak pernah terbuka meski kami memohon, meski kami saling melempar tuduhan di meja makan pada malam-malam tertentu, meski hujan Desember merembes dari celah bawahnya dan menggenangi lantai kayu yang sesudah itu tidak pernah benar-benar kering sampai kemarau berikutnya tiba.

Kabar itu sampai kepadaku di tengah kemenangan.

Pukul dua siang lebih tujuh menit, di lantai sembilan belas Gedung Sudirman Capital, hakim ketua mengetuk palu untuk perkara yang sudah menyita empat tahun hidupku—PT Nusawira Energi melawan Kementerian ESDM, sengketa kontrak senilai empat ratus dua puluh miliar rupiah, diputuskan memihak klien kami. Aku duduk dengan punggung lurus di kursi kuasa hukum, jas yang masih menyimpan bau setrika pagi, mendengarkan kalimat-kalimat penutup sidang seakan-akan tidak ada yang berbeda hari itu—padahal ponselku sudah dua kali bergetar di saku dalam sebelum palu itu jatuh.

Getaran ketiga datang persis ketika ruang sidang mulai riuh oleh suara kursi yang digeser dan map-map yang dikemas kembali.

Aku membiarkannya. Dua belas tahun menjadi pengacara mengajarkan satu hal yang sederhana: ponsel yang berdering di ruang sidang jarang membawa sesuatu yang butuh dijawab saat itu juga—dan kalaupun butuh, menjawabnya lima menit lebih lambat tidak akan mengubah apa pun.

Aku salah soal itu, hari ini.

*

Pak Hendra menepuk bahuku dari arah kiri sebelum aku sempat berdiri sepenuhnya, telapak tangannya hangat, suaranya penuh dengan kepuasan yang tidak sepenuhnya milikku. "Selamat, Bram. Ini kemenangan besar. Kliennya sudah menangis di luar."

"Bagus," kataku.

"Malam ini kita rayakan. Menteng, semua ditraktir."

"Akan kucoba."

Aku keluar dari ruang sidang lebih cepat dari yang seharusnya, melewati koridor yang baunya adalah campuran karpet lembap dan parfum mahal yang menguap dari puluhan orang yang lalu-lalang sepanjang hari, koridor yang lantainya sedikit aus tepat di depan pintu masuk ruang sidang utama—jejak dari ribuan pasang sepatu yang melangkah ke sana dengan harapan atau ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang dari lapisan vinilnya.

Aku mengangkat telepon di sana, bersandar ke dinding yang dingin.

Suara di seberang gemetar dengan cara yang belum pernah kudengar dari Wawan—pria yang biasanya berbicara datar dan ringkas, seolah menyampaikan kabar stok gula menipis, kini kalimatnya patah sebelum sempat utuh.

"Mas Bram." Jeda yang terlalu panjang. "Bapak Suryo... sudah pergi, Mas. Tadi siang. Di toko."

Aku tidak berkata apa pun selama tiga detik.

Tiga detik cukup lama untuk menyadari ponsel di tanganku terasa lebih berat dari biasanya. Cukup lama untuk mendengar lampu neon di atas kepalaku berdenging pelan, sesuatu yang sudah berdengung sejak dulu tapi baru sekarang benar-benar sampai ke telingaku. Cukup lama untuk melihat seorang staf magang berlari kecil melewatiku sambil memeluk map-map tebal, menuju sesuatu yang—aku tahu tanpa perlu bertanya—tidak akan sepenting ini dua tahun lagi.

"Baik," kataku akhirnya. "Aku berangkat sekarang."

Aku menutup telepon. Tanganku gemetar saat memasukkannya kembali ke saku, dan aku menekan ibu jari ke bantalan telunjuk—kebiasaan lama, bekas kecil berbentuk bulan sabit yang muncul setiap kali aku menahan sesuatu agar tidak tumpah keluar dari wajahku, lalu memudar perlahan begitu tekanan itu kulepaskan.

Pak Hendra memanggil dari ambang pintu. "Bram! Fotografer klien mau ambil gambar—"

Lihat selengkapnya