Hari ke-1, Jakarta — Lasem
─────────────────────
Kacamata Hitam Besar: Bukan untuk melindungi mata dari matahari. Untuk memastikan tidak ada yang bisa membaca matamu.
Showroom konveksiku berbau benang baru bercampur tagihan yang menumpuk belum terbayar—kombinasi yang tidak pernah bagus untuk bisnis mode, dan itulah yang tersisa setelah Rian, mitra sekaligus investor yang kupercaya untuk tidak melakukan hal paling klise dalam sejarah kemitraan kecil, membawa pergi sebagian besar modal kami bersama kontak-kontak pemasok yang kubangun susah payah selama tiga tahun.
Yang ia tinggalkan: dua ratus meter kain yang belum lunas, satu kontrak pameran dengan uang muka dua puluh juta yang tidak bisa dibatalkan, dan sebuah pesan berjudul "Maaf, Kiran"—padahal kami bekerja sama tiga tahun dan ia selalu memanggilku Kiki, tanpa sekali pun keliru, sampai pesan terakhir itu memutuskan untuk formal justru di saat paling tidak pantas untuk formal.
Aku menyimpan tangkapan layar pesan itu sebagai wallpaper laptop. Pengingat harian, tanpa perlu sentimental apa pun untuk membuatnya berguna, tentang seberapa jauh aku bisa salah menilai orang yang kupercaya.
Di gantungan dekat fitting room, tiga busana dari koleksi terakhir menunggu pembeli yang tidak kunjung datang—potongan A-line cobalt yang kutahu terlalu berani untuk pasar ini tapi terlanjur kugunting, dua kemeja patchwork yang sudah terlalu sering kujelaskan kepada orang-orang yang mengangguk tanpa membuka dompet. Barang-barang bagus, tanpa pembeli yang layak menghargainya.
*
Ponselku berdering empat kali dari nomor Bram. Aku tidak mengangkat: telepon ke pemasok kain di Bandung sedang tersambung di telinga kiriku, pemasok yang sudah tiga kali menjanjikan kiriman dan tiga kali mangkir, dan aku tidak bisa kehilangan sambungan itu demi apa pun, termasuk kakak yang selalu berbicara seolah sedang membuka sidang.
Nomor Bram muncul lagi, lalu untuk keempat kalinya, dan aku menekan tolak dengan cukup keras untuk merasakan kepuasan kecil di ujung jempolku yang kukunya sedikit terkelupas di sisi kanan—bekas kebiasaan mencungkil cat kuku sendiri setiap kali cemas, kebiasaan yang tidak pernah benar-benar hilang meski seluruh kariernya kubangun di atas urusan estetika dan kerapian.
Pemasok itu tidak juga menjawab. Tentu saja.
Bram menelepon kelima kalinya. Aku mengangkat.
"Apa?"
"Ayah meninggal."
Aku tidak menjawab selama beberapa detik—jeda yang, sejujurnya, tidak terisi oleh kebingungan mencari kata yang tepat, melainkan oleh otakku yang lebih dulu sibuk menghitung sesuatu yang lain sama sekali: seberapa besar kemungkinan toko kelontong itu bisa dijual, berapa nilai tanahnya, apakah cukup.
"Kapan?"
"Tadi siang. Wawan yang menelepon."
"Di mana?"
"Di toko."