Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #3

Bab 3. Junu

Hari ke-1, Lasem

─────────────────────

Kartu Anggota Warung Kopi: Sudah penuh stempelnya. Tapi tidak ada yang tahu bahwa dia duduk di sana bukan karena suka kopinya, melainkan karena tidak tahu harus duduk di mana lagi.



Sudah sejak pukul sepuluh pagi aku duduk di meja paling belakang warung kopi ini. Kopinya biasa saja, encer di beberapa tegukan pertama, dan aku tetap memesannya lagi nanti karena itu satu-satunya alasan sah untuk terus menempati kursi ini tanpa diusir. Tidak ada tempat lain yang lebih masuk akal untuk didatangi ketika kau tidak punya jadwal yang menuntutmu ada di mana pun.

Layar laptopku menampilkan tujuh puluh dua foto dari sesi pemotretan produk sepatu kemarin, untuk klien yang sudah dua minggu menunda pembayaran invoice kedua dengan alasan yang semakin kreatif setiap kali ditagih—minggu lalu sistem keuangannya sedang migrasi, minggu ini bendaharanya sedang cuti melahirkan, padahal setahuku bendaharanya laki-laki. Aku mengedit karena mengedit foto orang lain adalah satu-satunya hal produktif yang bisa kulakukan sambil menunggu uang yang belum pasti kapan cair.

Ruangan ini kecil, tiga belas meter persegi kurang lebih, dengan pencahayaan atas yang terlalu terang untuk siang hari dan satu pendingin minuman yang bunyinya tidak konsisten—kadang berdengung tenang, kadang menggeram seperti hendak menyerah, dan aku sudah duduk cukup lama di sini sampai bunyi itu mulai terdengar seperti ada niatnya sendiri, semacam makhluk yang capek jadi kulkas. Enam dari tujuh kursi terisi orang-orang yang sama-sama berpura-pura lebih produktif dari kenyataannya. Termasuk aku.

*

Pukul dua siang aku memesan kopi ketiga. Barista yang sama sejak pagi—anak muda dengan tato tipis di pergelangan tangan kanan, garis-garis yang kutaksir dikerjakan oleh tangan yang belum terlalu terampil, semacam tato yang dibuat teman sendiri di kos dengan alat yang seharusnya tidak dipakai untuk itu—menggesekkan kartu debitku ke mesin yang kali ini ia pegang sendiri karena kakinya tidak bisa berdiri mandiri.

Layar kecil itu menampilkan tulisan yang kubaca terbalik tapi sudah hafal artinya: TRANSAKSI DITOLAK.

Tiga orang di meja sebelah menoleh ke arahku. Aku tahu karena aku selalu tahu siapa melihat ke mana, kebiasaan yang menempel dari pekerjaan ini dan sialnya tidak berguna sama sekali dalam situasi seperti sekarang, kecuali untuk membuatku makin sadar sedang ditonton.

Aku membayar tunai. Cukup untuk kopi ketiga, hanya untuk itu, dan ada rasa tertentu yang menempel di belakang dada setelah tahu uang tunaimu pas-pasan di depan orang banyak, rasa yang lebih baik tidak kunamai siang ini—semacam malu yang sopan, yang tidak berteriak, hanya duduk diam di tenggorokan sambil menunggu kau selesai berpura-pura tidak apa-apa.

Aku kembali ke laptop, berpura-pura sangat sibuk menyunting foto sepatu nomor empat puluh delapan dari tujuh puluh dua.

*

Bram menelepon dua belas menit kemudian, dan aku mengangkat di panggilan pertama—cukup ganjil, sebab panggilannya biasanya terasa seperti pembukaan sidang kecil, semacam pengumuman resmi sebelum isinya keluar. Tapi tanganku sudah meraih ponsel sebelum kepalaku sempat menimbang.

"Halo?"

"Ayah meninggal."

Tangan kiriku sedang dalam proses mengangkat cangkir, dan cangkir itu tidak jadi terangkat. Tidak ada komposisi yang tepat untuk momen semacam ini, tidak ada sudut pengambilan gambar yang bisa menjelaskan bagaimana rasanya ketika sesuatu yang kau tahu pasti akan terjadi suatu hari akhirnya benar-benar terjadi.

Lihat selengkapnya