Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #4

Bab 4. Kartika

Lasem, 2001, Lima Tahun Sebelum

─────────────────────

Korek Api: Dijual sebatang, dua ratus rupiah. Tidak ada yang pernah membeli lebih dari yang dibutuhkan, kecuali ketika diletakkan terlalu dekat dengan sesuatu yang mudah terbakar.


Lilin malam menetes dari ujung canting dengan ritme yang sudah kuhafal tanpa perlu melihatnya—tetes, jeda, tetes lagi, irama yang sudah kuulang entah berapa ribu kali sepanjang hidup yang kuhabiskan menggoreskan garis-garis kecil ke atas kain.

Aku meletakkan canting di pinggirnya, meniup pelan. Tiupan itu terlalu lemah untuk benar-benar mendinginkan apa pun; yang kucari adalah asap tipis dari lilin yang meleleh, cara ia memutar naik selalu membantuku memikirkan garis berikutnya. Lima tahun membatik mengajarkan bahwa otak bekerja lebih baik ketika ada sesuatu yang konkret untuk diperhatikan. Lilin, kain, canting. Tangan bergerak, pikiran mengikuti di belakangnya.

Ujung jariku sudah lama berubah warna—cokelat kemerahan yang tak pernah benar-benar hilang meski sudah dicuci berkali-kali dengan sabun batangan, jejak bertahun-tahun mencelup benang ke dalam guci pewarna. Kadang aku lupa itu ada di sana sampai seseorang menatap tanganku terlalu lama.

Gudang belakang Toko Sumber Waras tidak besar. Empat kali enam meter, atap seng yang panas di siang hari dan dingin setelah subuh, tak pernah ada di antara keduanya. Tapi ini ruanganku, milik dalam cara yang berbeda dari cara toko itu milik Suryo, dari cara Lasem adalah milik orang-orang yang sudah ada di sini jauh sebelum kami datang. Dinding kayu berlapis rak-rak kecil tempat guci pewarna berjejer—merah mengkudu, biru indigo dari tarum, cokelat sogan yang kuolah sendiri. Di gantungan bambu, kain-kain yang sedang menunggu giliran, seperti orang-orang di ruang tunggu yang tak tergesa. Di sudut kanan, peti kayu jati yang kubawa dari Semarang sebelum pindah kemari, tempat kusimpan kain-kain terbaik yang belum kuputuskan untuk siapa.

Sore itu aku mengerjakan pesanan Bu Harni—motif kawung dengan sogan yang ia minta mirip warna kain peninggalan neneknya. Pekerjaan seperti ini yang paling kusukai. Ada sesuatu yang menyentuh dari permintaan semacam itu, kain yang ingin menyerupai kain yang sudah pergi.

Canting kucelupkan lagi. Tangan bergerak tanpa banyak pikiran setelah ribuan jam latihan—kebebasan yang sulit kujelaskan kepada orang-orang yang bertanya mengapa aku memilih pekerjaan ini, kebebasan yang hanya datang ketika tangan bekerja sendiri dan kepala boleh pergi ke mana saja.

*

Langkah kaki di papan lantai toko—berat, tidak tergesa, cara Suryo berjalan setelah seharian berdiri di balik meja kasir—sudah kuhafal sebelum orangnya muncul di pintu gudang.

Ia membawa dua gelas kopi susu yang dibungkus plastik dengan karet gelang di atasnya, cara Warung Pak Udi menyajikan pesanan yang dibawa pulang. Suryo tak pernah bertanya apakah aku mau kopi sebelum berangkat membelinya. Ia sekadar tahu jam-jam ketika aku butuh sesuatu yang hangat, dan mengetahui itu, baginya, sudah cukup sebagai cara mengucapkannya.

Ia meletakkan satu gelas di ujung meja kerjaku, jauh dari kain. Lalu duduk di kursi kayu kecil yang kusiapkan dekat pintu, untuk tamu yang ingin menonton tapi tidak ingin mengganggu.

"Kawung-nya bagus," katanya.

Suryo tak tahu banyak soal batik. Tapi tiga tahun tinggal bersamaku mengajarinya nama-nama motif, mengajarinya mendengarkan ketika aku bercerita soal perbedaan pewarna, mengajarinya diam di samping pekerjaan yang tak bisa diganggu. Ia tidak tertarik pada teknik menggoreskan lilin. Ia tertarik pada orang yang menggoreskannya.

"Belum selesai." Aku mengangkat gelas, meniupnya sekali. "Sogannya belum pas."

"Kelihatan pas dari sini."

"Dari situ memang selalu kelihatan pas. Sini, lihat dari dekat."

Lihat selengkapnya