Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #5

Bab 5. Bram

Hari ke-2, Lasem, Januari 2026

─────────────────────

Lampu Teplok: Cahaya yang terbatas, tapi lebih jujur dari lampu terang. Tidak ada yang bisa bersembunyi di bawah nyala teplok.



Tidak ada yang suka mengakuinya, tapi pemakaman adalah pekerjaan administratif.

Ada dokumen yang harus diurus di kelurahan. Ada pihak kecamatan yang harus dihubungi. Ada koordinasi dengan pengurus masjid, Pak RT, dan beberapa tetangga yang menawarkan bantuan dengan tulus namun tetap membutuhkan pengelolaan tersendiri—bantuan yang tak terarahkan dengan baik kerap menjadi beban tambahan di atas beban yang sudah ada. Ada keluarga jauh yang perlu diberitahu: paman dari pihak Ayah di Kudus yang sudah lama tak berhubungan, dua sepupu yang nomornya kusimpan di bawah label "Kudus 1" dan "Kudus 2" karena entah sejak kapan aku lupa nama lengkap mereka. Ada makanan untuk tamu. Ada kursi plastik yang harus disewa dari hajatan tetangga tiga rumah dari toko.

Aku menuntaskan semuanya sebelum pukul delapan pagi. Membuat daftar, mencentangnya, melanjutkan ke baris berikutnya—satu-satunya cara yang kutahu untuk tetap bergerak. Kalau aku berhenti, kalau kubiarkan sesuatu yang bergerak di bawah permukaan sejak semalam ikut naik ke atas, sejak aku berdiri di depan papan nama toko yang kehujanan dan tak sanggup masuk, aku tak yakin bisa memulai lagi setelahnya. Jadi aku tidak berhenti.

Kiki turun dari lantai dua pukul enam pagi, kacamata hitam belum ia lepas meski matahari belum benar-benar naik. Ia melihat daftar yang sudah kususun di kertas, tak berkata apa-apa, hanya mengambil ballpoint dari meja dan menambahkan dua butir—kembang untuk meja depan, air mineral cukup untuk tamu yang datang siang. Aku mengangguk. Ia tidak mengangguk balik. Kami kembali ke pekerjaan masing-masing.

Junu muncul lebih siang, rambut masih basah, kamera sudah tergantung di leher. Ia melihat situasi, meletakkan kameranya di meja, bertanya, "Aku bantu apa?" Dua kata, tanpa basa-basi. Itu yang kubutuhkan pagi ini.

*

Pemakaman berlangsung pukul sembilan, di pemakaman umum belakang masjid, dua blok dari toko.

Aku tidak menghitung berapa orang yang datang, tapi jumlahnya lebih dari yang kubayangkan—lebih dari yang kukira masih mengenal nama Suryo Rahardjo dari Toko Sumber Waras. Tetangga lama yang wajahnya kukenal tapi namanya tidak. Beberapa pedagang pasar yang rupanya sudah berhubungan dengan Ayah puluhan tahun. Seorang bapak tua bersarung kotak-kotak yang datang khusus dari Rembang—kata Wawan, ia nelayan yang biasa mengambil perbekalan dari toko dan membayar kapan pun bisa, dan Ayah tak pernah mempersoalkan kapan "kapan bisa" itu tiba.

Aku berdiri di dekat lubang yang sudah digali, mengucapkan kata-kata yang harus diucapkan dengan suara yang tak retak—kemampuan yang kulatih sepanjang perjalanan dari Jakarta, cara menyampaikan sesuatu yang berat dengan kepala tegak dan nada terkendali. Keahlian yang berguna di ruang sidang, ternyata berguna pula di sini, meski tidak ada yang memintanya dan mungkin tidak ada yang peduli apakah suaraku retak atau tidak.

Mbah Jum menangis sepanjang upacara, dengan seluruh tubuhnya, suara yang tak minta permisi dan tak bisa ditahan, cara yang membuat beberapa orang di sekitarnya ikut menangis meski mungkin mereka sendiri tak sepenuhnya paham mengapa. Aku berdiri di sampingnya, tak tahu harus berbuat apa selain memastikan ia tak sampai jatuh. Ia tak jatuh. Kekuatannya berbeda dari kekuatanku—cara yang membiarkan semuanya keluar dan tetap berdiri sesudahnya.

Wawan berdiri paling dekat dengan lubang setelah keluarga kami, kepala sedikit menunduk, tangan digenggam di depan tubuh, tak menangis sama sekali. Matanya merah sejak subuh, tak bertambah merah sepanjang pagi. Sekali ia menyentuh ujung peti dengan dua jari, singkat sekali, seperti memastikan sesuatu. Aku tak bertanya apa.

Kiki berdiri di sisiku dengan kacamata hitam yang kini kupahami fungsinya. Di balik kaca gelap itu ada wajah yang tak bisa kubaca, dan kuputuskan itu boleh saja. Kami tak perlu membaca wajah satu sama lain hari ini. Kami hanya perlu berdiri.

Junu memotret beberapa kali, bukan pemakamannya sendiri, melainkan detail-detail di sekelilingnya: bayangan pohon di tanah, tangan-tangan yang terlipat, selembar bunga yang jatuh dari karangan dan tak ada yang mengambilnya. Aku memperhatikan dari sudut mata, tak menegurnya. Mungkin begitulah caranya hadir dalam sebuah peristiwa: mendokumentasikan yang di pinggirnya, bukan yang di tengahnya.

*

Tamu berdatangan sampai sore.

Aku duduk di kursi plastik teras, menerima ucapan belasungkawa dengan cara yang sudah kukuasai—angguk, terima kasih, iya kami baik-baik saja, terima kasih sudah datang—berulang-ulang sampai kata-kata itu kehilangan bobot individualnya, menjadi sekadar bunyi yang dipertukarkan antara yang kehilangan dan yang datang mengakui kehilangan itu. Aku paham fungsinya. Ada guna ritual dalam pengakuan kolektif semacam ini. Tapi di satu jam tertentu sore itu aku harus berhenti sejenak di belakang toko, berdiri dekat pintu gudang yang digembok rantai, tak bicara dengan siapa pun selama lima menit.

Lima menit itulah satu-satunya yang benar-benar kubutuhkan hari ini.

Di dalam, Mbah Jum dan beberapa ibu tetangga mengurus makanan dan minuman untuk tamu. Kiki membantu tanpa diminta, membawa nampan dengan efisiensi yang tidak terlihat seperti sedang berkabung, tapi juga tidak terlihat seperti sebaliknya—sesuatu di antara keduanya yang tak punya nama. Junu duduk di sudut bersama seorang anak kecil, cucu salah satu tetangga rupanya, mengajarinya cara memegang kamera dengan benar, dan senyum yang ia berikan kepada anak itu adalah senyum yang sama yang ia berikan kepada semua orang hari ini: lebar, hadir, dan tak menunjukkan apa pun yang tersimpan di baliknya.

Tamu terakhir pergi pukul setengah enam. Aku mengucapkan terima kasih untuk yang terakhir kalinya, menutup pintu teras.

Lihat selengkapnya