Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #6

Bab 6. Kiki

Hari ke-2, Malam — Lasem

─────────────────────

Amplop Cokelat Tua: Bukan soal apa yang ada di dalamnya. Tapi soal cara seseorang meletakkannya di atas mejamu—seolah kau sudah kalah sebelum membacanya.



Tiga ketukan.

Bukan dua. Bukan empat. Tiga—dengan jeda yang sama panjang di antara masing-masing, seperti seseorang yang sudah menghitungnya dulu di kepala sebelum buku-buku jarinya menyentuh kayu. Getarannya turun dari pintu depan, merambat sepanjang tiang jati yang menyangga lantai dua ini, naik lewat telapak kakiku yang masih menapak di ubin yang lengket oleh keringat malam Pantura—jenis lengket yang tidak pernah benar-benar kering meski kipas angin di sudut ruangan berputar sejak sore.

Aku merasakan ketukan itu di kulit sebelum benar-benar mendengarnya sebagai bunyi.

Rantang dari Mbah Jum masih di tengah meja, setengah kosong, tutupnya dimiringkan begitu saja karena tak satu pun dari kami tiga bersaudara punya cukup tenaga untuk menutupnya rapat kembali. Dua gelas teh yang sudah dingin duduk berdampingan dengan permukaan yang mulai berminyak. Lampu di ruang makan lantai dua ini kekuningan dan terlalu redup untuk ukuran ruangan seluas ini—entah karena wattnya memang kecil, atau karena udara sendiri di sini terlalu padat oleh kelembapan untuk membiarkan cahaya menyebar sepenuhnya.

Junu berdiri lebih dulu. Melirik jam dinding yang jarumnya nyaris menyentuh sembilan, lalu turun tanpa berkata apa-apa, tanpa bertanya siapa yang datang selarut ini ke sebuah toko kelontong yang sudah dua hari tutup karena berkabung.

Aku dan Bram tidak bergerak.

Suara Junu dari bawah. "Mas Bram, ada tamu."

Nadanya tidak cocok dengan kalimatnya. Terlalu hati-hati untuk sekadar mengabarkan tamu.

*

Pria yang naik ke lantai dua itu sudah tua—enam puluh lebih, mungkin mendekati tujuh puluh—tapi cara dia menempatkan berat tubuhnya di setiap anak tangga tidak menyisakan ruang bagi kayu untuk berderit dua kali di tempat yang sama. Tangga ini biasanya membocorkan siapa saja yang menaikinya. Tangga ini tidak membocorkan apa-apa tentang dia.

Batik lengan panjang, motif parang, warna biru tua yang tidak pudar. Aku menaksir bahannya dalam detik pertama—kebiasaan yang tak pernah bisa kumatikan meski sedang berduka—primissima, gramasinya di atas seratus, tenunannya rapat dengan cara yang hanya bisa dihasilkan pemintalan lama, bukan pabrik yang buru-buru. Potongan bahunya jatuh tepat di titik yang seharusnya, jenis presisi yang hanya terjadi kalau ada seseorang yang tahu cara menggunting bahu manusia, atau ada uang yang cukup untuk membayar orang yang tahu itu.

Rambutnya putih perak, disisir bersih ke belakang dengan minyak yang baunya sampai ke hidungku sebelum dia sepenuhnya berdiri di ambang pintu. Wajahnya dibedaki, dan panas ruangan sudah bekerja lebih dulu daripada dia sempat masuk—di kening dan sekitar matanya, bedak yang tadinya rata sekarang menggumpal tipis di celah-celah kerutan, retak-retak kecil seperti tanah kering musim kemarau.

Dia mengangguk ke arah kami. Bukan membungkuk, bukan anggukan biasa—sesuatu di antaranya yang entah bagaimana terasa seperti penghormatan dan klaim kepemilikan sekaligus.

"Minal aidin, nuwun sewu." Bahasa Jawa halusnya jatuh ke ruangan dengan berat yang sudah ditimbang sebelum diucapkan. Kromo Inggil. Aku tidak fasih, tapi tumbuh cukup lama di Lasem untuk tahu kapan seseorang memakainya bukan karena sopan santun, melainkan karena ingin membuatmu merasa sedikit lebih kecil dari dirinya. "Kula Baskoro. Kanca lawas-ipun Bapak Suryo."

Bram berdiri. Aku tidak.

"Silakan duduk, Pak," kata Bram, nada netral yang kukenal dari caranya bicara di telepon setiap kali ada seseorang di ujung lain yang tidak dia percaya tapi tidak bisa dia abaikan begitu saja. "Ada yang bisa kami bantu?"

Baskoro duduk di kursi yang memang tidak kami tawarkan kepadanya. Meletakkan tas kecil di samping kursi dengan gerakan yang terlalu terlatih untuk disebut kebetulan. Mengeluarkan amplop cokelat tebal dari dalam tas.

*

Tangan yang mengeluarkan amplop itu bukan tangan yang seharusnya dimiliki seorang pensiunan pejabat desa yang sekarang mengenakan primissima. Buku-buku jarinya kasar, sedikit membesar di ruas kedua seperti tulang yang pernah retak dan sembuh dengan sendirinya tanpa dokter, dan di pangkal telunjuk kanannya ada bekas luka yang sudah lama memutih—garis tipis melintang yang hanya bisa didapat dari alat kerja, dari bertahun-tahun sebelum dia belajar menyembunyikan tangan itu di balik lengan panjang dan Kromo Inggil.

Dia meletakkan amplop itu di atas meja makan kami—di antara rantang yang belum sempat kami bereskan dan gelas-gelas teh yang sudah dingin—dengan cara yang sama persis seperti cara seseorang meletakkan putusan pengadilan di depan terdakwa yang belum tahu sidangnya sudah selesai tanpa kehadirannya.

Aku tidak mengambil amplopnya.

Bram yang mengambil. Membukanya dengan cara yang kukenali sebagai cara dia membuka berkas di kantor—metodis, tidak tergesa. Beberapa detik dia membaca dalam diam. Wajahnya tidak berubah. Tapi sudut matanya mengencang, sedikit, dengan cara yang tak akan terlihat kecuali kau sudah bertahun-tahun belajar membaca wajah yang memang dirancang untuk tidak terbaca.

Dia meletakkan lembar itu di meja, menghadap ke atas, ke arahku.

Tiga miliar rupiah.

Tiga puluh hari.

Aku membaca dua angka itu dan sesuatu di dadaku berhenti bekerja seperti biasanya—bukan berhenti berdetak, hanya berhenti dalam artian yang lebih sulit dijelaskan, seperti mesin yang tiba-tiba kehilangan satu putaran dari ritmenya. Udara di ruangan ini tidak cukup. Aku menyadarinya bukan lewat pikiran, melainkan lewat cara paru-paruku bekerja lebih keras dari yang seharusnya untuk tarikan napas yang sama—seolah dinding-dinding lantai dua ini memutuskan malam ini untuk mendekat satu sentimeter dari setiap sisi.

Lihat selengkapnya