Hari ke-3 — Lasem
─────────────────────
Kotak Kaleng Permen Jadul: Sudah tidak ada permennya. Tapi tetap disimpan. Karena ada sesuatu di dalam kotak yang lebih berharga dari yang kelihatan.
Di atas, dua ritme yang tidak lagi sinkron.
Aku bisa mendengarnya dari lantai bawah—bukan isi percakapannya, sebab lantai kayu tua ini cukup tebal untuk menyaring kata-kata menjadi hanya nada dan getar, tapi nada dan getar itu saja sudah cukup untuk memberitahuku bahwa yang sedang terjadi di atas kepalaku bukan percakapan. Nada Kiki pendek dan keras, memantul lalu berhenti. Nada Bram lebih panjang, lebih datar, dan justru karena itu terasa lebih berat, seperti sesuatu yang ditahan sengaja agar tidak retak di tengah kalimat.
Ini bukan hal baru. Bram dan Kiki sudah berjalan pada frekuensi masing-masing sejak mereka cukup besar untuk memilih frekuensinya sendiri. Yang baru adalah aku, sekarang, sendirian di lantai bawah toko dengan tak ada seorang pun yang memberitahuku harus melakukan apa—dan setelah dua puluh empat tahun hidup, aku cukup mengenal diriku sendiri untuk tahu bahwa begitu tak ada yang memberitahuku harus melakukan apa, aku mulai memperhatikan.
Memperhatikan adalah caraku melakukan sesuatu.
*
Aku mengambil kamera dari tas yang kusampirkan di kursi dekat pintu, memeriksa baterainya—dua garis dari empat, cukup—lalu mulai berjalan pelan menelusuri toko dari depan ke belakang. Bukan untuk mendokumentasikan. Bukan untuk konten. Hanya karena ada sesuatu yang lebih mudah dipahami lewat lensa daripada lewat mata telanjang, dan aku butuh memahami ruangan ini sebelum bisa memutuskan apa yang perlu dilakukan di dalamnya.
Dari depan, toko ini adalah ruangan yang sudah berhenti bergerak. Etalase kaca di sisi depan, tingginya kira-kira dua pertiga badanku, sudah buram di keempat tepinya oleh waktu yang tak bisa kuperkirakan jumlahnya. Di dalamnya masih tersisa beberapa barang—dua bungkus rokok Dji Sam Soe yang kardusnya sudah menguning di sudut-sudutnya, satu kotak Bodrex yang tanggal kedaluwarsanya sudah lama lewat tanpa ada yang mengganti, dan beberapa permen dalam toples kecil yang tak bisa kupastikan isinya dari luar karena tutupnya sendiri sudah tak lagi bening.
Di tengah, meja kasir kayu jati yang sudah kukenal sejak kecil—meja yang permukaannya selalu terasa hangat meski ruangan tidak sedang hangat, seolah kayu itu menyimpan panas dari setiap tangan yang pernah menyentuhnya, tiga puluh tahun gesekan yang meratakan seratnya di tengah dan membiarkannya tetap kasar di pinggir yang tak pernah terjangkau. Di belakang meja, kursi kayu dengan bantal tipis yang Ayah letakkan sendiri bertahun-tahun lalu dan tak pernah diganti meski sudah kempes rata. Di atas meja, buku kas bergaris merah yang tutupnya masih terlipat di halaman terakhir yang digunakan, sebuah pulpen dengan tutup yang hilang, satu karet gelang yang sudah kehilangan lenturnya dan hanya menempel di sana karena tak ada yang berniat membuangnya.
Timbangan bebek kuningan di pojok kanan belakang meja. Kuningannya sudah menghijau tipis di sambungan-sambungannya, patina yang hanya bisa terbentuk dari puluhan tahun disentuh telapak tangan yang berkeringat lalu dibiarkan mengering sendiri tanpa dilap. Aku mendekat. Bukan foto pertama yang pernah kuambil dari timbangan ini—sudah beberapa kali, dari berbagai sudut, dalam berbagai cahaya. Tapi pagi ini aku berdiri di depannya dan tidak mengambil foto. Hanya melihat. Ada sesuatu dalam cara timbangan itu berdiri—tegak, seimbang, tak punya preferensi ke arah mana pun—yang terasa seperti komentar tentang sesuatu yang belum sepenuhnya kumengerti.
Lensa kameraku bergerak ke kanan, menelusuri rak-rak kayu yang memenuhi dinding kiri toko. Stoples-stoples kaca besar berisi kerupuk udang yang sudah lama kehilangan kerenyahannya, lembap dari dalam meski tutupnya rapat. Botol-botol sirup yang debu di atasnya sudah cukup tebal untuk ditulisi nama tanpa menggores kacanya. Karung-karung goni berisi beras dan gula yang sudah menyusut tapi belum habis, diikat karet di atasnya dengan cara yang rapi dan hati-hati—cara seseorang yang berniat membukanya kembali, bukan cara seseorang yang sudah menyerah pada isinya.
*
Pintu gudang ada di ujung paling belakang, di balik rak terakhir yang berisi karung goni kosong yang dilipat dan ditumpuk.
Aku sudah tahu pintu itu ada di sana. Sudah tahu sejak kecil bahwa ada bagian dari toko ini yang tak pernah dibuka, bahwa ada pintu di belakang yang selalu digembok rantai berat tanpa kunci yang bisa ditemukan anak-anak, bahwa Ayah selalu menjawab pertanyaan tentang pintu itu dengan cara yang tak pernah cukup memuaskan—bocor dan rapuh, tidak aman untuk dimasuki, tidak ada yang perlu dilihat di sana.
Aku berjalan ke arahnya.
Gembok rantainya berkarat di beberapa titik, karat yang tidak lagi menempel rata di permukaan besi melainkan mengelupas tipis membentuk serpihan-serpihan kasar. Rantainya melilit dua kali di pegangan pintu, dikunci dengan gembok yang ukurannya lebih besar dari yang biasanya dibutuhkan sebuah toko kelontong. Pintu kayunya sendiri sudah menggelap di bagian bawah—dari kelembapan, kutebak—tapi strukturnya masih kokoh. Belum rapuh. Tidak bocor dari luar, sejauh yang bisa kulihat.
Aku memperhatikan sesuatu.
Debu di toko ini, kalau kuperhatikan lewat kamera dalam mode makro, punya tekstur yang seragam di sebagian besar permukaan—abu kecokelatan tipis dan merata, akumulasi waktu yang tak pernah dibersihkan siapa pun. Tapi di lantai dekat pintu gudang ini, debunya berbeda. Lebih hitam. Lebih kasar permukaannya, seperti pasir yang bercampur sisa sesuatu yang tak lagi bisa diidentifikasi bentuk aslinya. Dan ada garis, sangat samar, hampir tak terlihat kecuali dengan cahaya dari samping pada sudut yang tepat, di mana warna debu berubah dari abu biasa menjadi kehitaman—persis di ambang bawah pintu gudang.
Aku berjongkok. Lututku menekan lantai yang lembap oleh kelembapan yang tak pernah benar-benar keluar dari kayu ini, dan aku bisa merasakan dinginnya merambat naik lewat celana ke kulit. Kuarahkan lensa lebih dekat, mengunci fokus makro, menahan napas sedetik seperti yang selalu kulakukan agar tanganku tak bergetar saat menekan rana.
Klik.
Satu lagi, dari sudut yang lebih rendah, hampir sejajar dengan lantai.
Klik.
Layar kecil di belakang kamera menampilkan dua foto yang menunjukkan hal yang sama dari dua sudut berbeda—debu hitam yang berbeda dari debu di sisa toko, dengan garis batas yang tak terjadi secara alami. Tak ada debu yang berubah warna seperti itu kecuali ada sesuatu di balik pintu itu yang pernah meninggalkan bekas, dan bekas itu keluar lewat celah bawah pintu selama entah berapa lama, cukup lama untuk mengubah warna lantai di depannya.
*
Aku tidak bisa membuka pintunya.
Aku mencoba. Bukan dengan paksa—aku tak punya kunci, dan rantainya jelas tak akan bisa dibuka dengan tangan kosong—tapi aku memeriksa semua laci di sekitar area belakang toko, semua toples yang mungkin dipakai menyimpan kunci cadangan, semua celah antara rak dan dinding yang cukup lebar untuk menyembunyikan sesuatu kecil. Jariku menyusuri tepi rak, menekan setiap permukaan yang terasa longgar. Kuku ibu jariku terasa perih ketika bergesekan dengan kayu kasar rak, sebab kulit di sekitarnya masih belum sepenuhnya sembuh dari gigitan semalam—kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang meski sudah kucoba hentikan berkali-kali.