Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #9

Bab 9. Kiki

Hari ke-5 (Malam) — Lasem

─────────────────────

Botol Sirup Murni Berdebu: Dibeli dua Lebaran yang lalu. Tidak pernah dibuka. Tapi tidak ada yang membuangnya.



Lima hari di Lasem, dan aku masih belum menemukan cara untuk tidur yang benar-benar menyerah pada dirinya sendiri.

Bukan karena kasur ini tidak nyaman—sprei yang sama dari kunjungan terakhirku tiga tahun lalu, sudah dicuci dan disetrika oleh tangan yang kutebak milik Wawan, dengan lipatan yang terlalu rapi untuk sesuatu yang dikerjakan tergesa-gesa. Bukan itu. Melainkan cara bangunan tua ini mengeluarkan suaranya sendiri begitu lampu dimatikan—derit lantai kayu lantai dua yang bergeser tiap kali angin cukup kencang menampar dinding luar, dan bunyi rangka atap seng yang mengembang sepanjang siang lalu, begitu malam turun dan suhu jatuh, berkontraksi satu per satu dengan bunyi logam yang menciut seperti sendi tua yang dipaksa duduk setelah berdiri terlalu lama.

Aku menutup mata. Menyerah pada negosiasi itu, tanpa benar-benar memenangkannya.

*

Yang datang bukan mimpi yang bisa kuceritakan dengan kalimat lengkap.

Bukan narasi. Bukan adegan dengan awal dan tengah dan akhir. Lebih seperti sekumpulan sensasi yang tak minta izin masuk, yang sudah ada di dalam sebelum aku menyadari bahwa aku sedang tidur cukup dalam untuk bisa dikunjungi hal-hal semacam itu.

Pertama, aroma.

Bukan aroma yang bisa segera kunamai. Bukan asap rokok—aku kenal betul bau itu, cara ia menempel di baju, di rambut, di gorden. Ini berbeda. Lebih berat. Lebih dalam. Seperti sesuatu yang hangus bukan karena disulut langsung, melainkan karena dibiarkan terlalu lama di dekat panas yang terlalu besar.

Kemudian suara.

Batuk. Bukan batuk sakit biasa. Batuk yang terputus di tengahnya—yang dimulai sebagai batuk biasa lalu berubah menjadi sesuatu yang lain sebelum sempat menyelesaikan dirinya sendiri. Satu kali. Dua kali. Lalu berhenti, seolah ada yang menutup sesuatu dengan paksa sebelum bunyi itu sempat keluar sepenuhnya.

Kemudian cahaya.

Oranye. Bukan oranye matahari terbenam—tidak cukup indah untuk itu. Oranye yang bergerak dengan cara yang tak teratur, naik dan turun dan naik lagi, memantulkan dirinya di permukaan yang tak bisa kulihat jelas karena ada sesuatu—kabut, atau asap, atau jarak—di antara aku dan sumber cahayanya.

Dan kemudian ada tangan.

Bukan tangan yang menyerang. Tangan yang sangat familier, dengan cara tertentu yang tak bisa kudeskripsikan lebih spesifik dari itu. Tangan itu bergerak ke arahku. Tapi aku tak bisa melihat wajah orang yang memiliki tangan itu. Terlalu banyak cahaya oranye di belakangnya, membuatnya menjadi siluet.

Aku terbangun.

*

Jam di ponselku menunjukkan pukul dua empat belas dini hari.

Jantungku masih berdebar dengan cara yang tak proporsional dengan intensitas mimpi yang kuingat—karena yang kuingat tak banyak. Hanya fragmen. Hanya residunya. Tapi tubuhku jelas mengingat lebih dari yang otakku izinkan untuk dibawa ke permukaan: telapak tanganku basah dan dingin sekaligus, denyut di leherku terasa sampai ke pelipis, dan telingaku berdenging tipis—gema dari suara batuk yang sebenarnya tak pernah benar-benar ada di kamar ini, tapi menempel di gendang telingaku seolah baru saja terjadi di ruangan yang sama.

Aku duduk di tepi ranjang dan minum air dari botol yang kubawa dari lantai bawah tadi malam. Dingin. Kamar masih berbau cat hijau tua.

Dan sesuatu yang lain.

Sangat samar, hampir tak ada, hampir aku ragu bahwa hidungku sedang bekerja dengan benar di jam dua empat belas dini hari setelah tidur yang tak nyenyak selama lima hari. Tapi ada sesuatu. Bukan bau cat. Bukan bau lembap. Sesuatu yang lebih tua dari kedua itu, sesuatu yang tak ada di memori penciumanku dari Jakarta tapi ada di tempat lain yang tak langsung bisa kucari.

Aku bernapas lebih dalam.

Sudah tak ada. Atau mungkin tak pernah ada, dan ini yang terjadi ketika tubuh dan pikiran sama-sama tak cukup istirahat. Aku tak memberi diriku sendiri waktu untuk memutuskan mana yang benar. Lebih mudah menutup mata lagi daripada mengejar sesuatu yang mungkin tak pernah ada.

*

Aku menelepon Pak Hardi, pengacaraku di Jakarta, pukul delapan pagi.

Dia mengangkat di panggilan kedua, yang berarti meskipun sudah pernah kuperingatkan tentang jam yang tidak lazim, dia tetap melakukan apa yang semua orang lakukan ketika diperingatkan bahwa seseorang mungkin menelepon di jam yang tidak lazim: berharap itu tak akan pernah benar-benar terjadi.

"Kiran," katanya. Bukan Kiki. "Situasinya sudah saya review. Kalau ini tanah bersertifikat dan akta utang yang valid, opsi terbaik memang pelunasan atau negosiasi perpanjangan waktu, bukan sengketa hukum."

Lihat selengkapnya