Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #10

Bab 10. Junu

Hari ke-6 — Lasem, Januari 2026

─────────────────────

Timbangan Bebek Kuningan (Kedua Kali): Jika semua orang memberitahumu bahwa sesuatu tidak berharga, tapi timbangan mengatakan sebaliknya — percayailah timbangan.


Jam sembilan pagi, dan tanganku sudah lebih dulu tahu apa yang mau dilakukan sebelum kepalaku sempat diajak rapat.

Aku turun ke lantai bawah dengan kamera tergantung di leher, dan itu saja sudah cukup jadi berita untuk pagi ini—enam hari aku di Lasem, dan baru sekarang aku benar-benar berjalan menyusuri toko ini dari depan ke belakang seperti orang yang datang untuk melihat, bukan untuk mengurus sesuatu. Bram sedang entah di mana dengan map-map itu. Kiki masih di kamar, atau sedang berdebat dengan pemasok kain lewat telepon, atau keduanya sekaligus. Tidak ada yang bertanya aku mau ke mana. Itu enak juga, ternyata, jadi orang yang tidak ditanya-tanya.

Etalase depan buram di keempat tepinya, seperti kaca yang lama-lama lupa cara menjadi bening. Aku berhenti di seberang jalan dulu untuk bidikan lebar—papan nama yang hurufnya sudah pindah agama dari biru ke cokelat kayu telanjang, jendela lantai dua dengan tirai yang menguning persis di tempat matahari sore biasa menampar setiap hari selama entah berapa tahun. Lalu aku menyeberang, mendekat, dan mulai memotret hal-hal yang cuma kelihatan kalau kau mau berdiri cukup dekat untuk dianggap aneh oleh orang lewat: sambungan kusen yang longgar tapi keras kepala tetap di tempatnya, paku-paku berkepala bulat yang karatnya sudah jadi cokelat kehitaman kayak kopi yang kelamaan didiamkan, retak tipis di dinding yang pola rambatnya mirip banget sama akar—seolah tanah di bawah sana memang dari dulu pengin naik ke atas lewat jalan paling gampang yang bisa dia temukan.

Di dalam, cahaya jam segini jatuh lewat etalase dengan cara yang nggak bisa dipesan di studio paling mahal sekalipun—bukan golden hour yang biasa aku kejar buat konten kuliner, tapi cahaya yang jujur soal umur tempat ini, disaring debu sampai jadi lebih lunak, lebih sabar.

Aku memotret rak-rak dengan stoples berdebu, framing vertikal, biar debu di tutup stoples itu bikin gradien yang nggak bisa ditiru preset apa pun. Terus aku sampai di timbangan bebek kuningan, dan berhenti di situ lebih lama dari yang aku duga.

Timbangan ini sudah kulewati entah berapa kali sejak hari pertama, tapi selalu dalam konteks lain—benda yang Ayah gosok tiap Jumat malam sampai berkilau, benda yang cuma ada di sana, kayak perabot yang sudah lama berhenti diperhatikan karena terlalu sering dilihat. Pagi ini aku berdiri di depannya dan benar-benar melihat: kuningannya memudar di beberapa titik tapi masih pede disebut kuning, ada oksidasi hijau tipis di sambungan lengannya kayak keringat yang kering lalu kering lagi selama puluhan tahun tanpa sekali pun benar-benar dilap sampai kinclong. Mangkuknya condong sedikit ke kiri—entah karena beban yang nggak seimbang, entah karena waktu memang bikin sendi paling kuat pun akhirnya punya kecenderungan sendiri. Di permukaan mangkuknya ada goresan-goresan acak yang bukan kerusakan, melainkan rekaman: setiap goresan itu momen ketika sesuatu yang berat atau kasar diletakkan, ditimbang, lalu dibiarkan berdiri kerja lagi.

Aku berjongkok, motret dari bawah. Berdiri, motret dari atas. Mundur dua langkah, motret dari jauh dengan latar etalase buram di belakangnya.

Foto yang dari jauh itu yang nanti bikin semuanya berubah, tapi aku belum tahu itu waktu menekan rananya.

*

Aku tidak langsung mengunggah.

Duduk di anak tangga antara lantai satu dan dua, laptop di pangkuan, aku melihat semua fotonya pelan-pelan—kebiasaan yang beda dari biasanya, sebab biasanya aku sudah lebih dulu masuk mode edit: koreksi warna, naikin kontras, cari sudut yang paling nampol buat algoritma. Pagi ini aku cuma lihat. Dan yang kelihatan adalah toko yang punya cerita di tiap permukaannya—goresan di mangkuk timbangan, debu yang tahu sejarahnya sendiri, cahaya yang nggak bisa direkayasa studio semahal apa pun karena cahaya kayak gitu cuma lahir setelah cukup banyak waktu lewat buat menciptakannya.

Aku milih tiga foto. Nggak diedit. Nggak difilter. Caption-nya kutulis, kuhapus, kutulis lagi, sampai akhirnya aku sadar versi pertama tadi yang paling jujur.

“Lasem, minggu ini.”

Dua kata. Cukup. Aku tambahin lokasi—refleks, sesuatu yang selalu aku lakukan ke tiap foto tanpa mikir dua kali—dan tagar kecil yang muncul begitu saja dari jariku sendiri: #TokoSumberWaras. Bukan strategi. Cuma nama tempat ini, ditulis dengan cara yang biasanya kupakai buat nandain lokasi kedai kopi atau warung bakso.

Aku unggah jam sebelas siang. Terus naik ke lantai dua buat makan siang yang dititipin Mbah Jum lewat Wawan—sayur asem sama tempe goreng yang masih anget, dan aku duduk di meja makan sambil mikirin hal lain sama sekali, kayak apakah lensa cadanganku masih bisa dipakai atau perlu servis, dan apakah Bram bakal marah kalau tahu aku belum bantu apa-apa hari ini selain foto-foto.

*

Jam dua siang, aku buka Instagram lagi. Lebih karena kebiasaan daripada niat beneran.

Dua puluh tiga ribu tayangan.

Aku menatap angka itu cukup lama buat mastiin aku baca yang benar. Dua puluh tiga ribu bukan angka gede buat skala beberapa kreator yang aku kenal. Tapi buat unggahanku yang biasanya muter di dua sampai lima ribu tayangan dalam dua belas jam pertama, ini beda—cukup beda sampai ibu jariku berhenti di atas layar, nggak langsung geser ke bawah kayak biasanya.

Aku baca beberapa komentar. Terus beberapa lagi. Terus nggak bisa berhenti baca.

Bukan komentar yang biasa aku terima buat konten makanan atau jalanan Jakarta—‘wah estetik banget’, ‘presetnya apa kak’, ‘pengen ke sini’. Komentar di sini beda. Lebih panjang. Lebih spesifik. Ada yang nulis panjang lebar soal arsitektur pecinan Lasem dan gimana bangunan kayak gini makin langka di sepanjang Pantura. Ada yang berhasil ngenalin atap pelana kuda yang nongol di latar salah satu foto, lengkap sama nama teknisnya yang bahkan aku sendiri baru tahu. Ada yang nanya apa toko ini bakal dijual, dan minta kontak pemiliknya—yang bikin aku ketawa sendirian di kamar, sebab pemiliknya baru aja meninggal minggu lalu dan yang nanya nggak tahu apa-apa soal itu, dan entah kenapa itu lucu dengan cara yang menyedihkan.

Lihat selengkapnya