Lasem, November 2006 — Sore Sebelum Kebakaran
─────────────────────
Minyak Tanah: Bahan bakar yang bisa memberi cahaya. Atau sebaliknya. Tergantung siapa yang memegang sumbunya.
Mesin truk sewaan itu batuk untuk ketiga kalinya sejak Demak, dan sopirnya menepi tanpa perlu kuminta, sudah hafal ritme kerusakan yang akan datang dari getaran yang lebih dulu dirasakan telapak kakinya sendiri di pedal gas, jauh sebelum bunyi itu sampai ke telingaku.
Aku duduk diam sementara dia membuka kap depan, membiarkan uap panas keluar dalam gulungan yang perlahan bercampur ke udara sore yang sudah mulai mendingin. Aku tak tahu banyak soal mesin. Tiga puluh delapan tahun hidup, dan yang kutahu tentang kendaraan bermotor bisa kutulis di selembar nota kecil—cukup untuk tahu kapan harus khawatir, tak cukup untuk tahu harus berbuat apa dengan kekhawatiran itu selain menunggu.
Muatan di bak truk itu dua kuintal beras premium dari pemasok baru yang harganya lebih murah dari biasa tapi kualitasnya masih perlu kubuktikan sendiri sebelum berani menjualnya dengan keyakinan penuh kepada pelanggan. Lima lusin sabun batangan yang sudah diminta Bu Lastri dan beberapa ibu lain berminggu-minggu lalu. Beberapa kotak rokok dari distributor Semarang yang setiap dua minggu menyeduhkan kopi terlalu panas sebelum mau bicara bisnis, seolah panasnya kopi adalah bagian dari negosiasi itu sendiri.
Sopir menutup kap, mengelap tangannya ke celana, dan kami melanjutkan perjalanan.
*
Aku memperhatikan warna langit pertama kali ketika truk melewati tikungan setelah Bonang.
Langit sore di Pantura biasanya tak dramatis. Bukan pegunungan yang memberi siluet untuk matahari terbenam. Bukan laut luas yang memantulkan warna dengan cara yang berlebihan. Langit Pantura sore hari adalah langit datar, mataharinya turun pelan di antara pohon kelapa dan atap-atap rendah, gradiennya dari biru ke jingga terjadi bertahap dan tak pernah mengejutkan siapa pun yang sudah cukup lama hidup di bawahnya.
Yang kulihat sore itu bukan seperti itu.
Ke arah Lasem—ke arah yang kutuju—langit berwarna oranye yang terlalu pekat untuk jam segini. Bukan jingga matahari terbenam, yang masih satu jam lebih lagi datangnya. Oranye yang lebih rendah, lebih terpusat, seperti cahaya yang sumbernya bukan matahari, melainkan sesuatu yang berdiri jauh lebih dekat ke tanah.
“Pak,” kataku kepada sopir. “Lihat langit ke arah sana.”
Sopir melirik sebentar, mata kembali ke jalan. “Kebakaran mungkin, Pak.”
Kebakaran. Kata paling biasa di sepanjang jalur ini. Di sepanjang Pantura, kebakaran rumah atau lahan atau warung bukan berita langka—orang-orang mendengarnya dengan keprihatinan yang tulus tapi tanpa kepanikan, sebab memang tak ada yang bisa dilakukan dari kejauhan selain bergerak lebih cepat ke tempat yang perlu dituju.
Sesuatu di dadaku, tanpa izin dariku, mulai bergerak lebih cepat dari yang seharusnya untuk sebuah kata sesederhana itu.
*
Semalam, Baskoro datang ke toko sesudah magrib.
Kami sudah saling kenal dua puluh tahun lebih—sejak dia masih pemuda yang membantuku mengangkut karung ketika toko baru buka dan pembeli masih bisa dihitung jari, sejak anaknya yang pertama jatuh sakit dan aku yang mengantarnya ke Rembang karena dia belum punya kendaraan sendiri dan istrinya tak bisa meninggalkan rumah. Baskoro yang sekarang sudah menjabat Kepala Desa selama setahun lebih, dan yang kedatangannya ke toko selalu membawa udara yang sedikit berbeda dari kedatangan tamu biasa—lebih resmi, lebih terencana, meski dia masih duduk di kursi yang sama dan minum kopi yang sama seperti dulu.
Dia datang malam itu dengan batik yang lebih baru dari yang biasa dia kenakan, motif yang masih tegas warnanya, belum pernah kulihat sebelumnya. Ada cincin kecil di jari manisnya yang juga baru—logam murah yang berusaha terlihat seperti sesuatu yang lebih mahal di bawah cahaya lampu teplok meja makan kami. Tangannya sendiri belum sepenuhnya berubah dari tangan yang kukenal bertahun-tahun lalu—masih kasar di buku-buku jarinya, masih menyimpan bekas kerja kasar dari masa sebelum jabatan, meski kini tangan itu lebih sering memegang berkas daripada memanggul karung.
“Ini peluang yang tidak datang dua kali, Sur,” katanya, sambil menuang kopi untuk dirinya sendiri tanpa menunggu ditawarkan—kebiasaan lama yang belum berubah meski jabatannya sudah berubah. “Sepetak tanah di sisi timur Lasem, dekat jalur penghubung ke Rembang. Ada kelompok investor dari Semarang yang mau masuk. Mereka butuh orang Lasem yang dipercaya untuk jadi mitra lokal. Kamu hanya perlu nama dan tanda tangan. Investasi awalnya kecil, keuntungannya bisa berlipat tiga.”