Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #12

Bab 12. Bram

Hari ke-8 — Lasem

─────────────────────

Sempoa Kayu Tionghoa Tua: Cara lama untuk menghitung sesuatu. Hasilnya selalu sama — tapi proses mendapatkannya terasa berbeda.


Di Jakarta, mencari arsip publik adalah pekerjaan lima menit.

Aku masuk ke portal data terbuka kementerian terkait, memasukkan kata kunci, mengunduh hasilnya dalam format PDF yang sudah terstruktur rapi dengan metadata yang bisa dicari. Untuk kasus yang lebih rumit, ada layanan berbayar yang mengindeks dokumen pengadilan dan catatan korporasi dari seluruh Indonesia, dan langganan firma kami mencakup akses penuh ke layanan itu. Lima menit, kadang kurang, dan aku sudah punya cukup informasi untuk membangun argumen.

Aku berangkat ke kantor arsip Kabupaten Rembang pukul delapan pagi dengan asumsi yang sama. Asumsi yang keliru, sebagaimana akan kuketahui dalam beberapa jam ke depan, tapi pukul delapan pagi itu aku masih membawa cara berpikir Jakarta ke dalam mobil sewaan yang melaju di jalan yang separuhnya beraspal halus dan separuhnya berlubang dengan pola yang tak bisa kuprediksi.

Yang kucari pagi ini: catatan jabatan Pak Baskoro selama dua dekade terakhir. Riwayat kekayaan, kalau tersedia secara publik lewat laporan harta kekayaan pejabat. Sertifikat kematian Ibu yang salinannya sudah kupunya di rumah, tapi aku ingin memverifikasi siapa yang menandatanganinya dan apakah nama itu punya hubungan dengan nama-nama lain yang sudah mulai kukumpulkan.

Tiga pertanyaan. Kupikir bisa selesai sebelum makan siang.

*

Kantor catatan sipil dan arsip Kabupaten Rembang berada di kompleks pemerintahan yang dindingnya dicat krem dengan trim hijau—warna yang kuduga standar bangunan pemerintah di seluruh Jawa Tengah, sebab aku sudah melihat warna yang sama persis di kantor kelurahan tempat aku mengurus dokumen kematian Ayah minggu lalu.

Ruangannya kecil. Lebih kecil dari yang kubayangkan untuk sebuah kantor arsip kabupaten. Satu meja panjang dengan tiga kursi plastik di satu sisi untuk pemohon, satu meja kerja petugas di sisi lain, dan di belakangnya rak-rak besi yang menjulang sampai langit-langit, berisi map-map berwarna yang sistem pengarsipannya tak segera bisa kupahami dari posisiku.

Satu kipas angin berdiri di sudut ruangan, berputar dengan kecepatan yang terasa seperti keputusan personal dari kipas itu sendiri untuk tak terburu-buru. Tak ada AC. Udara di ruangan ini lembap dengan cara yang khas bangunan tua di dekat laut—lembap yang menempel di kertas, di kulit, di setiap permukaan yang cukup lama dibiarkan tanpa sirkulasi yang memadai. Aku bisa mencium kertas yang membusuk perlahan dari dalam tumpukannya sendiri, aroma yang lebih dekat pada jamur basah daripada debu kering, dan di sudut langit-langit, noda air berbentuk tak beraturan menandai titik di mana atap sudah menyerah sejak bertahun-tahun lalu tanpa pernah benar-benar bocor cukup deras untuk memaksa seseorang memperbaikinya.

Aku menjelaskan keperluanku kepada petugas yang duduk di meja kerja—seorang pria paruh baya dengan kemeja batik yang kancing atasnya terbuka satu, memperlihatkan kaus dalam yang sudah menguning di leher. Dia mendengarkan dengan ekspresi yang tak menunjukkan apakah permintaanku biasa atau tidak biasa, sesekali terbatuk kering ke arah bahunya sendiri—batuk kecil yang terdengar sudah jadi bagian dari ritme napasnya, jenis batuk yang kutebak lahir dari bertahun-tahun menghirup udara ruangan ini, udara yang sama yang membuat kertas-kertas di rak belakangnya menguning dan menggulung di tepinya.

“Untuk data jabatan, Bapak perlu surat pengantar dari kelurahan dulu,” katanya.

“Saya sudah punya,” kataku, menyerahkan surat yang kuurus kemarin sore di kelurahan Lasem—hasil dari menunggu dua jam dan menjelaskan keperluanku tiga kali kepada tiga petugas berbeda yang masing-masing memerlukan penjelasan dari awal.

Petugas itu memeriksa suratnya. Mengangguk. “Untuk data riwayat jabatan, saya perlu cari di arsip lama. Bukan yang terkomputerisasi. Sebentar ya, Pak.”

“Sebentar” itu, aku akan belajar, adalah satuan waktu yang berbeda di sini dari satuan waktu yang kukenal.

*

Petugas itu berdiri dari mejanya, berjalan ke rak besi di belakang, dan menghilang di antara lorong-lorong rak yang tak bisa kulihat ujungnya dari posisi dudukku.

Aku menunggu.

Lihat selengkapnya