Hari ke-9 — Lasem
─────────────────────
Gaun Hijau Tua: Disimpan di lemari yang tidak pernah dibuka. Bukan karena tidak dibutuhkan. Karena ada yang tidak sanggup melihatnya.
“Biar aku saja,” kataku, lebih cepat dari yang kurencanakan, sebelum Bram sempat menyelesaikan kalimatnya tentang siapa yang sebaiknya memeriksa kamar Ayah.
Dia hanya butuh dokumen tambahan—sertifikat lain, surat-surat lama, apa pun yang mungkin relevan dengan akta utang itu. Pekerjaan sepuluh menit, seharusnya. Aku tak sepenuhnya tahu kenapa aku menawarkan diri sebelum dia sempat memintanya kepada Junu, kenapa kakiku sudah bergerak ke arah tangga sebelum kepalaku selesai memutuskan.
Tidak ada satu pun dari kami yang sudah masuk ke kamar itu sejak tiba di Lasem sembilan hari lalu.
Pintunya tak terkunci—tak ada alasan menguncinya, ini rumah keluarga, bukan tempat yang butuh privasi dari pencuri. Tapi ada semacam kunci lain yang lebih sulit dibuka: kesepakatan tak tertulis yang terbentuk sejak hari pemakaman, bahwa kamar ini adalah satu-satunya ruang di rumah yang belum siap kami masuki. Gagang pintunya terasa dingin di telapak tanganku, dan ketika kudorong, engselnya melawan sesaat—kayu yang memuai oleh kelembapan sembilan hari tanpa ada yang membukanya, sebelum akhirnya menyerah dengan derit yang lebih panjang dari derit pintu mana pun di toko ini.
*
Kamarnya kecil. Lebih kecil dari yang kuingat, meski aku tak yakin kapan terakhir kali aku benar-benar masuk ke sini dengan memperhatikan ukurannya.
Ranjang kayu dengan kasur tipis berlapis sprei putih polos—bukan corak, bukan motif, hanya putih, cara orang yang sudah lama berhenti peduli pada estetika kamar tidurnya sendiri karena kamar tidur hanya tempat untuk tidur dan tak lebih dari itu. Meja kecil di samping ranjang dengan lampu baca yang bohlamnya sudah menguning karena usia, kabelnya sedikit mengeras dan retak halus di bagian yang paling sering ditekuk. Satu jendela kecil menghadap ke gang samping, gordennya pudar dari cokelat tua menjadi cokelat pucat, nyaris krem, dengan garis lipatan permanen di bagian bawah yang tak akan pernah lurus lagi meski disetrika.
Udara di dalamnya diam dengan cara yang berbeda dari udara di ruangan lain toko ini—diam yang lebih pekat, seperti udara yang sudah lama berhenti bertukar dengan udara luar, menyerap debu dan kelembapan sampai keduanya menjadi satu lapisan tipis yang menempel di setiap permukaan yang kusentuh.
Di dinding, hanya satu foto. Bukan foto keluarga lengkap—foto itu ada di ruang tamu, bukan di sini. Ini foto yang lebih kecil, berbingkai kayu sederhana, agak miring karena pakunya longgar. Aku tak mendekat untuk melihatnya lebih jelas. Belum.
Lemari pakaian ada di sudut kanan. Kayu jati tua, dua pintu, dengan kunci kecil yang tergantung di salah satu pegangannya—tergantung, bukan terkunci, seperti kebiasaan yang sudah lama tak lagi diperlukan tapi tak pernah dihentikan.
Aku membuka pintu lemari itu untuk mencari dokumen yang diminta Bram.
*
Isi lemari itu adalah Suryo Rahardjo dalam bentuk yang paling literal.
Deretan kemeja batik lengan panjang yang digantung rapi—enam, tujuh, mungkin delapan, semuanya dengan motif serupa tapi tak identik, semuanya warna gelap yang aman untuk dipakai bekerja. Di bawahnya, dua celana panjang berbahan kain yang digantung dengan klip, lipatan yang masih tegas meski sudah bertahun-tahun tergantung di tempat yang sama. Satu jas hitam yang tak pernah kuingat pernah dipakainya, mungkin untuk acara-acara yang tak pernah kuhadiri.
Aku menyisir bagian ini mencari map dokumen, amplop, apa pun yang berbentuk kertas. Tidak ada.
Aku menggeser gantungan baju ke kanan untuk memeriksa bagian belakang lemari yang lebih gelap, dan di sana—di balik baris terakhir kemeja batik, tersembunyi dengan cara yang terasa sengaja, bukan diletakkan asal, bukan terdorong ke belakang secara kebetulan, melainkan digantung dengan hati-hati di gantungan terpisah yang sedikit lebih jauh dari yang lain—ada sehelai gaun.
Hijau tua. Bukan hijau cerah atau hijau muda—hijau yang lebih dekat ke warna daun yang sudah agak layu, warna yang dalam katalog mana pun yang pernah kususun untuk koleksiku akan kusebut forest green atau emerald shadow, tergantung konteks pemasarannya.
Renda di bagian manset. Tak banyak, hanya garis tipis di sekeliling pergelangan tangan, detail halus dan tak berlebihan—jenis sentuhan yang ditambahkan seseorang yang tahu kapan harus berhenti menghias sesuatu.
Aku mengambil gantungannya dan menariknya keluar dari lemari.