Hari ke-10 — Lasem
─────────────────────
Buku Kas Bergaris Merah: Semua utang tetangga dicatat dengan rapi. Kecuali utang maaf pada masa muda Ibu.
Bram menyerahkan buku kas itu kepadaku pagi ini dengan cara yang tak biasa untuknya—bukan instruksi, lebih seperti permintaan yang dia sendiri merasa canggung mengucapkannya.
“Ada angka-angka yang aneh di halaman belakang,” katanya. “Aku sudah coba beberapa pendekatan tapi tidak nemu polanya. Sudah beberapa hari aku menatapnya, nggak ke mana-mana. Mungkin kamu bisa lihat dari sudut yang berbeda.”
Aku tak bertanya kenapa dia memintaku, bukan Kiki, untuk ini. Mungkin karena Kiki sedang di kamarnya sejak kemarin sore dengan pintu tertutup lebih lama dari biasanya—aku belum tahu apa yang terjadi di kamar Ayah kemarin, hanya melihat dari luar bahwa sesuatu di wajahnya berubah ketika dia turun. Mungkin karena Bram tahu bahwa cara aku melihat sesuatu, cara fotografer melihat, mencari pola visual sebelum mencari logika, kadang menemukan hal yang tidak ditemukan oleh cara melihat yang lebih sistematis.
Aku membawa buku kas itu ke meja makan lantai dua, di mana cahaya pagi masuk paling baik, dan mulai membuka halaman-halaman yang sudah ditandai Bram dengan lipatan kecil di sudutnya.
*
Angka-angkanya tidak terlihat seperti kode pada pandangan pertama. Mereka tersebar di antara pencatatan utang piutang yang biasa, nama, tanggal, jumlah, keterangan, muncul di margin atau di bawah entri terakhir sebuah halaman, ditulis dengan tinta yang sedikit lebih biru dari tinta hitam pencatatan utama—tinta yang di beberapa titik meresap sedikit lebih dalam ke serat kertas, seolah pena itu berhenti sesaat lebih lama dari yang seharusnya sebelum melanjutkan goresan berikutnya, seperti tangan yang ragu sepersekian detik sebelum memutuskan untuk menulis. Tidak ada pola format yang konsisten. Kadang dua digit. Kadang empat. Kadang muncul berpasangan dengan tanda hubung di antaranya, kadang berdiri sendiri.
Aku mengeluarkan kertas kosong dan mulai menyalin semua angka itu secara berurutan, halaman demi halaman, seperti mengumpulkan bingkai-bingkai dari sebuah rol film yang belum dicetak. Aku tak tahu apa yang akan terbentuk dari kumpulan ini. Tapi mengumpulkan dulu, melihat nanti—itu metode kerja yang kukenal baik dari ribuan jam menyeleksi foto.
Satu jam berlalu. Aku punya selembar kertas penuh angka yang tak membentuk apa-apa yang bisa kukenali. Bukan urutan Fibonacci. Bukan kode Caesar yang pernah kubaca di artikel iseng bertahun-tahun lalu. Bukan apa pun yang kutahu namanya.
Aku mencoba menghubungkannya dengan logika matematis sederhana—menjumlahkan, mengalikan, mencari selisih antara angka yang berdekatan. Tak ada yang menghasilkan sesuatu yang masuk akal. Beberapa kali aku hampir menelepon teman kuliahku yang jurusan matematika, tapi setiap kali aku mengangkat ponsel untuk itu, ada sesuatu yang menahanku. Rasanya keliru. Seperti membawa orang asing ke dalam ruangan yang seharusnya hanya berisi keluarga.
Aku meletakkan ponsel kembali.
*
Sekitar pukul sebelas, aku berhenti mencoba memecahkan apa pun secara aktif.
Mataku sudah mulai terasa kering di sudutnya dari terlalu lama menatap angka-angka yang sama sampai bentuknya berhenti berarti apa-apa—kelelahan tertentu yang hanya datang ketika kau menatap sesuatu terlalu keras, terlalu lama, sampai pola yang seharusnya muncul justru semakin kabur, seperti kata yang diucapkan berulang-ulang sampai kehilangan makna di lidah. Leherku kaku dari posisi membungkuk yang sama selama lebih dari satu jam, dan aku meregangkannya sekali, mendengar bunyi kecil dari ruas-ruas yang jarang kuperhatikan.
Pikiranku mulai melayang ke tempat-tempat yang tak ada hubungannya dengan buku kas ini—ke Lian yang kemarin lewat di depan toko dan sempat menatapku sebelum melanjutkan jalan, ke pesan dari klien yang masih belum membayar invoice, ke pertanyaan kecil yang tak penting tentang apakah aku perlu membeli baterai cadangan untuk kamera. Pikiran yang berkeliaran ke mana saja kecuali ke tempat yang seharusnya dia fokuskan.
Tanganku, sementara itu, mulai bergerak sendiri di sudut kertas yang sama dengan angka-angka yang kusalin.
Mencoret-coret. Bukan sengaja, bukan dengan tujuan. Hanya gerakan tangan yang butuh sesuatu untuk dilakukan sementara kepala sedang pergi ke tempat lain. Aku menulis tanggal lahirku sendiri di sudut kanan bawah. 14-03-2002. Kebiasaan lama—aku selalu menulis tanggal lahirku sendiri ketika sedang melamun, semacam tic yang tak pernah kuperhatikan sampai seseorang menunjukkannya kepadaku bertahun-tahun lalu.
Di sebelahnya, tanpa berpikir, aku menulis tanggal lahir Bram. 17-08-1992. Aku menulisnya karena aku menulis tanggal lahirku sendiri, dan menulis tanggal lahirku sendiri membuatku memikirkan tanggal lahir saudara-saudaraku—cara pikiran bekerja ketika dibiarkan berkeliaran tanpa arah yang jelas.
Kemudian tanggal lahir Kiki. 03-12-1996.
Tiga angka. Tertulis berdampingan di sudut kertas, di antara kumpulan angka misterius dari buku kas yang sudah kusalin di bagian utama kertas.