Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #15

Bab 15. Bram

Hari ke-11 — Lasem

─────────────────────

Teh Tubruk Mbah Jum: Selalu terlalu pekat untuk orang lain. Tapi untuk yang sudah terbiasa, tidak ada yang lebih jujur.


Aku membeli kue dari toko roti di seberang pasar sebelum berjalan ke warung Mbah Jum—kebiasaan yang kupelajari bukan dari buku etiket mana pun, melainkan dari mengamati bagaimana klien-klien senior di firma selalu membawa sesuatu ketika hendak meminta sesuatu, sekecil apa pun permintaannya, sebagai cara membuka pintu sebelum mengetuknya secara verbal.

Kue lapis legit, setengah kilo, dibungkus kertas minyak cokelat yang sudah mulai berminyak di sudutnya sebelum aku sampai ke tujuan. Aku tak yakin apakah Mbah Jum menyukai kue lapis legit. Aku tak tahu cukup banyak tentang Mbah Jum untuk yakin tentang apa pun selain bahwa dia menangis paling keras di pemakaman Ayah, dan bahwa namanya muncul di setiap percakapan tentang masa lalu keluarga kami dengan cara yang menandakan dia tahu lebih banyak dari yang pernah dia bagikan.

Warungnya berada tepat di sebelah Toko Sumber Waras, begitu dekat sehingga aku heran tak pernah benar-benar memperhatikannya selama sebelas hari terakhir, meski aku pasti sudah melewatinya puluhan kali. Bangunan kecil dengan atap seng yang sebagian sudah berkarat, dua meja kayu panjang dengan bangku di kedua sisinya, dan papan menu yang ditulis tangan dengan kapur yang tulisannya sudah memudar di beberapa kata, sampai aku harus menebak apa yang dimaksud dengan “jamu kunir....” yang huruf-huruf terakhirnya sudah hilang sepenuhnya, terhapus oleh kelembapan udara yang sama yang melunakkan segalanya di kota ini, perlahan, tanpa terburu-buru.

*

Mbah Jum sedang mengaduk sesuatu di kuali besar ketika aku tiba, uap yang naik dari cairan cokelat gelap di dalamnya membasahi udara di sekitar wajahnya, punggungnya sedikit membungkuk dengan cara yang menunjukkan usia tanpa menunjukkan kelemahan—dia masih bergerak dengan tujuan yang jelas, masih punya kendali penuh atas tangannya meski kulitnya sudah keriput dan rambutnya sudah putih semua. Jari-jarinya yang menggenggam gagang sendok kayu itu bengkok di ruas-ruas tengahnya, tak lagi bisa diluruskan sepenuhnya—bengkak tua yang sudah lama berhenti terasa sakit dan hanya tersisa sebagai bentuk, dan di sela-sela kukunya yang pendek ada warna kuning yang tak bisa dicuci hilang lagi, residu kunyit dan temulawak yang sudah meresap ke pori-pori kulit setelah puluhan tahun meracik jamu dengan tangan yang sama.

Dia menoleh ketika mendengar langkahku.

“Nak Bram.” Suaranya hangat dengan cara yang langsung membuatku merasa seperti anak kecil lagi, meski aku tak ingat pernah benar-benar dekat dengan Mbah Jum semasa kecil. “Mau jamu apa? Atau cuma duduk?”

“Cuma duduk, Mbah. Kalau boleh.”

“Boleh, boleh. Duduk sana.” Dia menunjuk ke bangku terdekat dengan kuali yang masih dia aduk. “Saya bikinin teh dulu. Jamu kepekatan buat kamu yang baru sebelas hari di sini.”

*

Teh yang dia bawakan beberapa menit kemudian berwarna hampir hitam, dengan ampas yang mengendap tebal di dasar gelas kaca—gelas yang sama jenisnya dengan gelas-gelas yang kuingat dari masa kecil, bermotif bunga yang sudah pudar dari proses cuci bertahun-tahun sampai kelopaknya lebih mirip bayangan daripada gambar.

“Teh tubruk,” kata Mbah Jum, duduk di bangku seberangku dengan gerakan yang hati-hati tapi tak ragu. “Bukan teh celup yang biasa kalian minum di Jakarta. Ini diseduh langsung, daunnya tenggelam, kamu minum bareng ampasnya kalau sudah biasa.”

Aku meminumnya. Pahit di awal, dengan after-taste yang lebih kompleks dari yang kuduga, ada sesuatu yang hampir manis di baliknya meski tak ada gula yang ditambahkan. Aku meletakkan kue lapis legit di meja di antara kami.

“Untuk Mbah.”

Dia melihat bungkusan itu dan tersenyum dengan cara yang membuat kerutan di sekitar matanya semakin dalam. “Repot-repot, Nak.”

“Tidak apa-apa.”

Kami duduk dalam diam beberapa saat. Dari kejauhan, suara toko-toko yang mulai buka untuk sesi sore, suara seseorang menawar harga ikan di pasar yang jaraknya dua blok dari sini tapi suaranya terbawa angin sampai ke warung ini. Mbah Jum tak terburu-buru memulai percakapan, dan aku belajar dari sebelas hari di Lasem bahwa terburu-buru adalah bahasa yang tak dipahami kota ini.

“Bagaimana kesehatan, Mbah?” aku bertanya, karena itu pertanyaan yang sopan untuk dimulai, pertanyaan yang sama yang selalu kutanyakan kepada Ayah di telepon dua kali setahun.

“Masih kuat, Alhamdulillah. Lutut kadang sakit kalau hujan, tapi masih bisa jualan.” Dia mengaduk tehnya sendiri meski tak ada yang perlu diaduk, gerakan yang lebih terasa seperti kebiasaan tangan daripada keperluan. “Kamu bagaimana? Tidur nyenyak di sana?”

“Lumayan, Mbah.”

“Lantai kayu itu berisik kalau malam, ya?”

Aku tersenyum kecil. “Iya.”

“Dulu bapakmu sering komplain juga soal itu. Tapi nggak pernah mau ganti lantainya. Katanya, lantai itu yang ngasih tau dia kalau anak-anaknya masih di rumah. Kalau nggak ada bunyi derit, berarti nggak ada yang jalan.” Mbah Jum tertawa pelan, tawa yang terdengar seperti dia sedang mengingat sesuatu yang menyenangkan dari waktu yang sudah lama berlalu. “Bapakmu memang aneh caranya sayang sama kalian.”

Lihat selengkapnya