Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #16

Bab 16. Flashback — Kartika

Lasem, November 2006 — Malam Sebelum Kebakaran

─────────────────────

Canting Tembaga: Tangan yang sabar bisa menaruh cahaya ke atas kain tanpa membakarnya.


Lilin malam menetes dari ujung canting dengan ritme yang sudah kuhafal tanpa perlu melihatnya—tetes, jeda, tetes lagi, irama yang sama yang sudah kuulang ribuan kali sepanjang hidup yang kuhabiskan menggoreskan garis-garis kecil ke atas kain.

Malam ini aku mengerjakan ekor naga.

Kain Tiga Negeri yang sudah kukerjakan sejak lima bulan lalu, merah Lasemnya sudah selesai, sudah melalui proses pencelupan yang melelahkan dan menunggu yang lebih melelahkan lagi—kain yang akan kukirim ke Pekalongan untuk proses biru setelah kuselesaikan detail terakhir di sini. Motif naga di bagian tengah sudah hampir sempurna: sisik-sisiknya, kumisnya yang melengkung, matanya yang kubuat sedikit lebih besar dari proporsi biasa karena aku ingin naga ini terlihat waspada, bukan ganas.

Yang belum selesai hanya ekornya.

Kupilih mengerjakannya paling akhir sebab ekor adalah bagian yang paling membutuhkan kesabaran—lekukannya harus mengalir dengan cara yang terlihat alami meski sebenarnya direncanakan sampai ke milimeter terakhir, dan aku tak ingin terburu-buru di bagian yang akan jadi kesan terakhir yang dilihat orang ketika mata mereka menyusuri kain ini dari kepala sampai ke ujung.

Gudang ini hangat malam ini. Bukan dari cuaca—November di Lasem selalu lembap, jenis hangat yang menempel di kulit—melainkan dari petromaks yang kunyalakan karena listrik di sudut ini sering tak stabil dan aku tak mau ambil risiko cahaya tiba-tiba mati di tengah goresan yang membutuhkan presisi. Cahaya petromaks itu kuning keemasan, lebih hangat dari lampu listrik, jatuh ke permukaan kain dengan cara yang membuat merah Lasem terlihat semakin hidup, semakin seperti darah yang masih mengalir alih-alih warna yang sudah mati di atas kain.

Di sekelilingku, gudang ini penuh dengan hal-hal yang esok akan tampak seperti kesalahan yang mengerikan tapi malam ini hanyalah perabotan kerja yang paling biasa: karung-karung goni yang menumpuk kering di sudut, sisa kain perca dan benang yang menunggu giliran dibuang atau dipakai lagi, kaleng minyak tanah cadangan untuk mengisi ulang petromaks kalau sumbunya mulai redup sebelum aku selesai. Semuanya ada di tempatnya masing-masing, seperti yang sudah bertahun-tahun begitu, tak ada yang berbeda malam ini dari malam-malam sebelumnya.

*

Aku sudah memutuskan: besok aku akan memberikan kain ini kepada Kiki.

Bukan setelah selesai sepenuhnya—proses pewarnaan biru di Pekalongan dan finalisasi di Solo masih akan memakan waktu beberapa bulan lagi sebelum kain ini benar-benar jadi. Tapi aku ingin Kiki melihatnya sekarang, dalam kondisi setengah jadi ini, supaya dia tahu bahwa kain ini ada karena dia, dibuat untuk dia, bukan kejutan yang baru muncul ketika sudah sempurna melainkan sesuatu yang bisa dia ikuti perjalanannya dari awal.

Aku sudah memperhatikan Kiki akhir-akhir ini. Cara dia duduk lebih jauh di sudut gudang dari biasanya. Cara dia tak lagi menggambar dengan semangat yang sama seperti dulu, hanya mencoret-coret sesuatu tanpa benar-benar fokus, matanya sering melayang ke arah pintu seolah menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Aku tahu sebagian dari perubahan ini berasal dari perbandingan yang tak pernah dia ucapkan tapi selalu ada di antara dia dan kakaknya—Bram yang sebentar lagi lulus SMA dengan nilai-nilai yang membuat Suryo bercerita kepada setiap pelanggan yang datang, Bram yang setiap rupiah keluarga mengarah ke sana karena memang harus, karena pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar yang dipercaya Suryo untuk anak-anak kami.

Aku tak bisa mengubah cara Suryo membagi perhatiannya. Itu bukan keputusan yang bisa kuambil sendirian, dan aku tak yakin apakah itu keputusan yang seharusnya diambil sama sekali—Suryo mencintai ketiga anak kami dengan cara yang sama dalamnya, hanya saja cara dia menunjukkannya tak selalu terlihat adil dari mata seorang anak berusia sepuluh tahun yang hanya bisa melihat apa yang ada di depannya: baju kakaknya yang baru, baju dia yang sudah dimodifikasi dari baju lama.

Yang bisa kulakukan hanyalah ini. Kain yang kukerjakan dengan tanganku sendiri, malam demi malam, dengan motif yang kupilih khusus untuknya. Naga untuk kekuatan yang kulihat di dalam dirinya meski dia sendiri belum melihatnya. Sesuatu yang mengatakan, aku melihatmu. Aku selalu melihatmu, bahkan ketika aku sedang sibuk dengan hal lain.

Besok, pikirku. Besok aku akan duduk bersamanya dan menunjukkan kain ini, menjelaskan setiap motifnya, dan untuk sekali ini membiarkan dia tahu secara eksplisit apa yang selama ini hanya kurasakan tanpa pernah kuucapkan dengan cukup jelas.

*

Dari sudut gudang yang lebih gelap, tempat cahaya petromaks tak sepenuhnya menjangkau, aku mendengar suara kecil bergerak—Kiki, yang sudah ada di sana sejak setengah jam lalu, duduk di antara karung-karung goni dengan cara yang sudah jadi kebiasaannya.

“Bu,” katanya, suaranya pelan, hampir tak terdengar di antara bunyi malam yang masuk dari celah atap seng.

“Ya, sayang?”

“Kenapa Mas Bram selalu dapat baju baru?”

Pertanyaan yang sederhana, diucapkan dengan nada yang berusaha terdengar tak terlalu peduli tapi gagal menyembunyikan beratnya di belakang setiap kata. Aku meletakkan cantingku sebentar dan menatap ke arah suara itu, meski dari posisiku aku tak bisa melihat wajah Kiki dengan jelas di balik kegelapan sudut itu.

“Karena Mas Bram lagi tumbuh besar, badannya cepat berubah,” kataku—jawaban yang sebagian benar tapi tak sepenuhnya jujur, jawaban yang kuberikan karena aku belum siap menjelaskan keseluruhan rumitnya keadaan keuangan kami kepada anak berusia sepuluh tahun.

Hening sebentar.

“Aku juga lagi tumbuh,” kata Kiki, suaranya lebih pelan lagi.

Lihat selengkapnya