Hari ke-12 — Lasem
─────────────────────
Sertifikat Kematian: Sebuah dokumen yang mengubah cara orang bicara tentang seseorang. Dari “ada” menjadi “pernah ada.”
Aku sudah berpakaian rapi untuk urusan yang seharusnya cuma butuh lima menit tanda tangan.
Blazer krem, satu-satunya warna netral yang kubawa dari Jakarta—tidak berkabung, tidak juga terlalu hidup, warna yang cocok untuk ruangan ber-AC di mana orang menyerahkan hak urus rumah keluarganya dengan meterai dan pulpen pinjaman. Map plastik bening di tanganku berisi apa yang diminta staf notaris lewat telepon kemarin: fotokopi KTP, akta kelahiran, dan surat kuasa pengurusan sementara yang sudah kuketik sendiri malam sebelumnya di laptop, font Times New Roman, spasi satu setengah, karena entah kenapa dokumen hukum selalu terasa lebih sah kalau formatnya membosankan. Bram belum setuju penuh soal menjual toko ini. Tapi dia juga tidak bisa menghalangi aku mengurus administrasi—itu bukan menjual, cuma memastikan seseorang yang sah bisa bicara atas nama toko kalau ada pihak yang perlu diajak duduk sebelum tenggat tiga puluh hari itu benar-benar habis. Menunggu persetujuan penuh dari seseorang yang bahkan belum yakin apa yang dia mau sendiri bukan strategi. Itu cuma kelumpuhan yang diberi nama lain.
Kantor notaris ada di Jalan Karangturi, dua kilometer dari toko—jarak yang di Jakarta akan kutempuh naik ojek online dalam tujuh menit tanpa berpikir dua kali, tapi di sini, pagi ini, kuputuskan jalan kaki. Bukan karena aku sentimental soal kota kelahiran. Lebih karena aku butuh waktu menyusun kalimat yang akan kukatakan ke Bram nanti malam, setelah surat ini kutandatangani tanpa bertanya dulu kepadanya. Dia akan keberatan. Aku sudah tahu itu sebelum dia sempat mengucapkannya, sama seperti aku sudah tahu potongan kain mana yang akan diprotes klien sebelum mereka sendiri sadar mereka tidak suka.
Sepatu bagusku—yang sebenarnya untuk pertemuan klien, bukan untuk trotoar Lasem yang separuh rata separuh menjebol karena akar pohon asam yang menolak diberi tahu bahwa dia sudah tidak diinginkan di situ—mulai menggesek tumitku di kilometer kedua. Embun pagi belum sepenuhnya menguap. Trotoar itu masih basah dengan cara yang membuat kulit sol sepatuku licin sekali dua kali, dan aku memakai kacamata hitam meski matahari belum terik, kebiasaan yang sudah tidak butuh alasan lagi untuk kupakai.
─────────────────────
Bangunan itu muncul di sisi kiri jalan tanpa peringatan—satu blok sebelum belokan yang seharusnya kuambil menuju kantor notaris, di antara toko kelontong lain dan bengkel motor yang bunyinya sudah terdengar dari sini.
SD Negeri tempatku dulu sekolah.
Aku tidak bermaksud berhenti. Kakiku yang memutuskan lebih dulu, seperti yang sudah terjadi berkali-kali sejak aku tiba di Lasem—tubuh yang bergerak sebelum kepala sempat menyetujuinya. Pagar sekolah itu setengah roboh di satu sisi, besinya berkarat sampai warnanya lebih dekat ke cokelat tanah daripada abu-abu logam, dan gerbang yang seharusnya terkunci hanya disandarkan begitu saja ke tiang, cukup longgar untuk didorong tanpa suara.
Sekolah ini sudah lama tak digunakan—entah sejak kapan, mungkin ketika jumlah murid di Lasem menyusut dan pemerintah menggabungkannya dengan sekolah lain yang lebih besar. Halamannya ditumbuhi rumput liar setinggi mata kaki, tiang bendera tanpa bendera, dan bangunan kelas satu lantai yang catnya mengelupas dalam pola yang tak lagi menyerupai warna aslinya—hijau pupus di beberapa bagian, bata telanjang di bagian lain, seperti kulit yang sembuh dari luka bakar dengan warna yang tak pernah kembali seragam.
Aku masuk lewat pintu kelas yang daunnya sudah lepas satu engsel, miring, menyisakan celah cukup lebar untuk kulewati tanpa mendorongnya lebih jauh.