Hari ke-13 — Lasem
─────────────────────
Kamera Saku Lama Berdebu: Ditemukan di laci meja kasir. Baterainya habis.
Kamera itu jatuh dari laci sebelum aku sempat menariknya keluar dengan benar.
Aku sedang mencari karet gelang—niatnya sesederhana itu, mau mengikat kabel charger yang sejak semalam menggantung longgar di colokan dekat meja kasir—dan laci kedua dari kiri, yang selama ini kukira cuma berisi nota kosong dan sisa permen yang sudah keras jadi batu, ternyata menyembunyikan sesuatu di bawah tumpukan kertas nota yang sudah menguning di tepinya. Sesuatu yang keras, persegi, lebih berat dari yang seharusnya untuk ukurannya.
Kamera saku. Merek yang sudah tidak diproduksi lagi, bodinya perak yang sekarang lebih mirip abu-abu karena debu menempel rata di seluruh permukaannya, lensa kecil di depan yang tertutup penutup geser yang macet setengah jalan—tidak bisa dibuka penuh, tidak bisa ditutup penuh, seperti mata yang lupa cara mengedip.
Aku duduk di lantai di depan laci yang masih terbuka, menggosok debu di badan kamera itu dengan ujung kaosku, dan sesuatu di dadaku melakukan hal yang agak memalukan untuk kuakui: berdebar. Bukan berdebar yang besar. Lebih seperti nemu action figure lama di kolong ranjang pas beberes rumah.
Aku menekan tombol power-nya. Nothing. Aku menekan lagi, lebih lama, pakai ibu jari sampai kukunya memutih.
Mati. Baterainya habis, dan dari jenis baterainya—AA dua biji, bukan baterai lithium yang bisa dicas—kemungkinan besar sudah habis sejak lama sekali, sejak sebelum aku bahkan punya HP sendiri.
Aku memutar-mutar kamera itu di tangan, mencari slot baterai, membukanya. Kosong. Entah siapa yang terakhir kali mengeluarkan baterainya—Ayah, mungkin, atau Ibu, atau seseorang yang sama sekali tidak kukenal namanya—dan tidak pernah menggantinya lagi.
Tidak ada baterai AA di toko ini. Aku sudah cek rak dekat kasir, tempat biasanya benda-benda kecil semacam itu dijual eceran, dan yang ada cuma baterai jam tangan dan baterai kotak buat radio tua. Aku bisa saja jalan ke warung Mbah Jum, tanya siapa tahu ada yang jual. Tapi entah kenapa aku tidak bergerak ke arah itu.
Kalau kameranya mati, bukan berarti yang dilihat ikut hilang.
Aku meletakkan kamera itu di atas meja kasir, di samping timbangan bebek kuningan, dan menatapnya sebentar seperti menatap orang yang baru bangun dari koma dan belum tahu harus ngomong apa duluan.
Ada sesuatu yang lucu—dan sedikit menyebalkan—soal baru sadar aku sudah tiga belas hari di toko ini dan caraku “melihat” selalu lewat sesuatu yang punya lensa. Kamera DSLR-ku sendiri, yang setiap hari kubawa ke mana-mana, sudah memotret etalase ini dari lima sudut berbeda, sudah menangkap timbangan ini dari bawah dan dari atas dan dari samping dengan bukaan f/1.8 yang bikin latarnya kabur cantik. Tapi aku tidak pernah benar-benar berdiri diam di depan sesuatu tanpa niat memotretnya. Selalu ada rencana di baliknya—komposisi, cahaya, mau diunggah atau tidak.
Kamera saku ini, dengan baterainya yang mati dan lensanya yang setengah macet, entah kenapa berhasil bikin aku ngerasa harus melihat toko ini dengan cara yang beda. Bukan lewat jendela bidik. Cuma pakai mata.