Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #19

Bab 19. Kiki

Hari ke-14 — Lasem

─────────────────────

Celah Kayu Tua: Bau bisa tinggal lebih lama daripada nama.


Bau itu ada lagi.

Masih samar. Tapi sekarang cukup untuk membuatku berhenti di tengah gerakan mengancingkan kemeja tidur, satu tangan masih di kancing kedua dari atas, kepala miring sedikit ke kanan seperti orang yang baru dengar namanya dipanggil dari kejauhan dan belum yakin itu beneran atau cuma kupingnya yang iseng.

Aku sudah di kamar ini sepuluh menit. Cukup lama untuk tahu bau ini bukan menempel di baju yang baru kupakai, bukan dari sisa parfum yang sudah dua hari tidak kusemprot ulang karena malas, bukan juga dari lilin aromaterapi yang kubawa dari Jakarta dan sudah seminggu tidak kunyalakan karena korek apinya entah ke mana.

Bau ini datang dari ruangan. Bukan dari aku.


Aku berjalan pelan, mengikuti hidungku sendiri dengan cara yang terasa konyol kalau ada yang lihat—kepala sedikit maju, napas ditarik pendek-pendek lewat hidung, seperti anjing pelacak versi kacamata hitam dan kaus tidur oversized. Dekat jendela, baunya lebih tipis, hampir hilang, kalah oleh angin malam yang masuk lewat celah kusen. Dekat pintu, hilang sama sekali, digantikan bau lorong tangga yang lebih dekat ke debu dan kayu pernis.

Tapi di sudut kamar, dekat dinding yang menempel langsung ke bagian belakang bangunan—dinding yang selama tiga belas hari ini cuma jadi tempat aku menyandarkan koper karena satu-satunya sisi yang tidak kena angin langsung dari jendela—baunya lebih kentara. Tidak kuat. Tapi jelas lebih tebal di sana daripada di titik mana pun di kamar ini.

Aku berdiri di depan dinding itu dan mencoba menamainya, sebab menamai sesuatu adalah caraku mengontrolnya—kebiasaan lama, sama seperti caraku menyebut warna dengan istilah yang tepat alih-alih cuma bilang 'merah' atau 'cokelat' waktu klien bertanya soal palet kain. Bukan bau cat. Cat di dinding ini sudah terlalu tua dan terlalu kering untuk masih berbau apa-apa selain debu. Bukan bau lembap biasa juga—lembap yang biasa aku kenal, yang menempel di baju yang dijemur kurang kering, punya bau yang lebih flat, lebih datar, seperti kertas yang kena hujan. Ini beda. Ada lapisan lain di baliknya.

Bukan bau rokok. Bukan juga lembap biasa. Ada yang lebih tua di sana.

Sesuatu yang, kalau aku dipaksa memilih satu kata dari daftar kosakata yang biasa kupakai buat mendeskripsikan tekstil ke klien—smoky, earthy, charred, mineral—paling dekat ke charred. Tapi bukan charred yang segar, bukan bau sesuatu yang baru saja dibakar. Lebih ke charred yang sudah lama, yang sudah menyatu dengan bahan di baliknya sampai tidak lagi bisa dipisahkan mana asap dan mana material yang menyerapnya.

Lihat selengkapnya