Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #20

Bab 20. Kiki

Hari ke-16 (Malam) — Lasem

─────────────────────

Pintu Gudang Berkarat: Bertahun-tahun digembok. Berkarat di engselnya. Tapi tetap berdiri — seolah tahu bahwa yang di dalamnya belum siap untuk keluar.


Bukan kilatan lagi. Kali ini gudangnya hampir utuh.

Dindingnya ada di sekelilingku, bukan cuma potongan yang muncul lalu putus. Aku bisa merasakan bentuk ruangannya—memanjang, langit-langit rendah, rak-rak di satu sisi yang bentuknya kukenali meski tak bisa kusebut dari mana aku mengenalinya. Cahaya di dalamnya kuning tua, bergoyang, jenis cahaya yang datang dari api kecil yang belum diberi tahu bahwa dia boleh membesar.

Asapnya sampai lebih dulu daripada apa pun yang lain. Menusuk, bukan seperti asap rokok yang kukenal betul cara ia menempel di baju dan rambut dan gorden. Ini lebih tajam di ujung hidung, lebih pahit di pangkal tenggorokan, jenis bau yang langsung membuat dadaku sesak sebelum aku sempat memutuskan untuk takut.

Lalu suara.

Suaraku sendiri.

Kecil. Terlalu kecil untuk suara yang kukenal sebagai suaraku sekarang, tapi cukup jelas untuk kutahu itu milikku—memanggil sesuatu, seseorang, dengan nada yang naik di ujung kalimat seperti pertanyaan yang tak sempat selesai jadi pertanyaan. Aku tidak bisa mendengar kata-katanya. Cuma bentuknya. Panik yang belum tahu harus dibentuk jadi kalimat yang mana.

Dan di bawah suara itu, di lapisan yang lebih dalam, ada batuk.

Bukan batukku. Batuk yang lain, dari arah yang terus berpindah—mendekat, lalu menjauh, lalu mendekat lagi, seperti seseorang berjalan lewat sesuatu yang tidak bisa dilihatnya sendiri, tangan terulur ke segala arah, mencari.

Mencariku.

Aku tahu itu mencariku tanpa ada yang memberitahuku. Pengetahuan itu tidak datang lewat kata-kata—datang lewat sesuatu yang lebih tua dari kata-kata, sesuatu yang bersembunyi di bawah tulang rusuk dan baru sekarang berani menampakkan diri.

Aku ingin bergerak ke arah suara itu. Di dalam mimpi, tubuh kecilku ingin bergerak, tapi kakiku tak menurut, seperti akar yang tumbuh terlalu cepat menembus lantai dan mengunci pergelangan kakiku di tempatnya. Asap semakin tebal. Batuk itu semakin dekat, lalu semakin jauh, lalu dekat lagi, dan di antara semua itu cahaya oranye membesar dengan cara yang tidak lagi terlihat seperti sesuatu yang bisa dipadamkan siapa pun.

Suaraku sendiri lagi. Lebih keras. Lebih pecah.

Dan tepat sebelum semuanya gelap, ada tangan.

Bukan tangan siluet tanpa wajah seperti di mimpi-mimpi sebelumnya. Tangan ini lebih dekat, lebih nyata, meraih ke arah tubuh kecilku dengan kepastian yang hanya dimiliki seseorang yang sudah tahu persis ke mana harus mencari meski tak bisa melihat apa pun. Jari-jarinya menyentuh lenganku.

 

─────────────────────

 

Aku terbangun sebelum sempat tahu tangan siapa itu.

Lihat selengkapnya