Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #21

Bab 21. Flashback — Kiki Kecil

Lasem, November 2006 — Malam Kebakaran

─────────────────────

Korek Api: Dibeli sebatang, dua ratus rupiah. Nyalanya cantik di kegelapan. Sebelum menjadi sesuatu yang lain.


 

Sore itu Kiki duduk di sudut gudang belakang, di tempat yang sama yang selalu dia pilih kalau tidak tahu harus duduk di mana lagi.

Bukan karena disuruh. Tidak ada yang pernah menyuruhnya ke sana. Tapi di sudut ini, di antara tumpukan karung goni yang baunya seperti debu dan beras dan sesuatu manis yang tidak dia tahu namanya, dia merasa paling tidak terlihat—dan ironisnya, di sinilah juga dia paling bisa melihat Ibu bekerja tanpa harus meminta perhatian, tanpa harus jadi anak yang merengek minta ditemani.

Cahaya sore masuk lewat celah atap seng, jatuh miring ke lantai dalam garis-garis tipis yang bergerak pelan setiap kali angin menggoyang genting. Dari tempatnya duduk, Kiki bisa mendengar suara Ibu di gudang sebelah—bukan gudang ini, gudang kerja, tempat kain-kain digantung dan bau lilin malam tidak pernah benar-benar hilang—tapi suaranya terlalu jauh untuk didengar jelas, cuma gumaman yang naik turun seperti radio yang volumenya diputar sangat kecil.

Kiki menangis pelan. Bukan tangis yang keras, bukan tangis yang minta didengar siapa pun. Lebih seperti sesuatu yang bocor sedikit demi sedikit dari matanya sendiri tanpa dia minta.

Bukan untuk sesuatu yang besar. Sinta, teman sebangkunya, datang ke sekolah tadi pagi dengan baju baru Lebaran—kuning gading, ada renda kecil di kerahnya, masih kelihatan kaku karena baru pertama kali dipakai. Sinta muter-muter di depan kelas sebelum bel, minta semua orang lihat, dan waktu gilirannya bertanya ke Kiki, kenapa Kiki nggak pakai baju baru juga, Kiki bilang bajunya ada di rumah. Masih dibungkus plastik toko. Belum sempat dipakai.

Itu bohong. Kiki tidak punya baju baru. Bajunya tahun ini sama dengan baju tahun lalu, cuma dijahit ulang sedikit di bagian pinggang oleh Ibu supaya masih muat, dan Kiki tahu itu, dan dia benci tahu itu, dan yang paling dia benci adalah betapa gampangnya bohong itu keluar dari mulutnya—lebih gampang daripada bilang yang sebenarnya, lebih gampang daripada berdiri di depan Sinta dan bilang: bajuku yang lama, Bu jahit ulang, nggak apa-apa kok.

Dia menyeka matanya dengan punggung tangan, kasar, seperti marah pada air matanya sendiri karena keluar tanpa izin.

 

─────────────────────

 

Di sekitarnya, gudang penuh dengan barang-barang yang tidak lagi dipakai tapi belum juga dibuang—kaleng-kaleng kosong bekas minyak yang ditumpuk miring di sudut, karung goni yang sudah kempes isinya, sisa-sisa kayu palet yang menunggu entah apa. Kiki mengambil satu kaleng kosong, mengetuknya dengan buku jari, mendengarkan bunyi dentingnya yang kosong dan agak menggema, lalu meletakkannya lagi.

Tangannya menyentuh sesuatu yang lain di sela-sela tumpukan itu.

Kotak korek api. Kecil, warnanya cokelat kusam dengan gambar ayam jago di sisi luarnya yang sudah agak pudar, jatuh dari rak paling atas—mungkin terguling waktu Ayah atau Wawan mengambil sesuatu, mungkin sudah lama di situ tanpa ada yang sadar. Kiki pernah lihat kotak seperti ini di meja kasir, dijual sebatang-sebatang buat pelanggan yang butuh menyalakan kompor atau lampu teplok, dua ratus rupiah satu batang, dihitung Ayah dengan teliti setiap kali ada yang beli meski nilainya kecil sekali.

Lihat selengkapnya