Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #22

Bab 22. Flashback — Kiki Kecil

Lasem, November 2006 — Malam Kebakaran

─────────────────────

Asap: Datang setelah api. Tapi kadang juga datang terlalu cepat untuk sempat dibedakan.



Kiki kecil menatap asap itu lebih lama daripada seharusnya, sebab bagian dari dirinya masih menunggu asap itu berhenti sendiri, sama seperti nyala-nyala sebelumnya yang selalu mati begitu batang koreknya habis.

Yang ini tidak mati.

Kepulannya melebar, tidak lagi lurus ke atas seperti benang, melainkan mulai bercabang, seperti akar yang tumbuh terbalik. Warnanya juga berubah—dari kelabu tipis jadi lebih gelap di bagian tengah, dan di sela-selanya, kalau Kiki menyipitkan mata, ada sesuatu yang berkedip. Kecil. Oranye. Tapi tidak lagi seukuran nyala korek yang bisa dia genggam di antara dua jari.

Awalnya cuma hangat. Lalu baunya berubah.

Bau yang tadi—bau korek yang habis, tajam sebentar lalu hilang—sekarang punya lapisan lain di bawahnya, lebih berat, lebih dekat ke bau karung goni yang biasa dia cium waktu Ayah membuka karung beras baru, cuma kali ini baunya gosong di ujungnya, seperti roti yang lupa diangkat dari atas anglo.

Kiki masih duduk di tempatnya. Belum berdiri. Sebagian dari dirinya masih mengira ini bagian dari sesuatu yang bisa dia kendalikan, sama seperti dia mengendalikan nyala tadi—cukup ditiup, cukup didiamkan, dan semuanya akan kembali seperti semula.


─────────────────────


Lihat selengkapnya