Hari ke-18 — Lasem
─────────────────────
Cermin Tua di Kasir: Menunjukkan wajah orang yang sedang berdiri di depannya. Tapi refleksi di cermin tua selalu sedikit tidak akurat — sehingga kamu melihat dirimu sendiri dengan cara yang berbeda.
Aku turun mencari Junu pagi ini karena kamarnya kosong sejak subuh dan tak ada jawaban ketika kuketuk pintunya untuk kedua kalinya.
Bukan kekhawatiran yang membawaku turun—setidaknya, bukan kekhawatiran yang siap kuakui sebagai kekhawatiran. Lebih seperti kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang, insting yang sama yang membuatku selalu tahu di mana kedua adikku berada bahkan ketika mereka masih kecil dan aku belum cukup umur untuk benar-benar bertanggung jawab atas keberadaan mereka.
Pintu gudang masih terbuka seperti hari-hari terakhir ini. Dan di sana, berdiri di depan sesuatu yang tak segera bisa kukenali dari ambang pintu, adalah Junu.
─────────────────────
Dia tak bergerak ketika aku masuk. Tak menoleh, meski dia pasti mendengar langkahku—lantai gudang ini berderit dengan cara yang berbeda dari lantai toko, lebih kasar, lebih jujur tentang siapa yang menginjaknya.
Aku mendekat dan melihat apa yang sedang dia tatap.
Peti kayu jati, tutupnya terbuka, dan di depannya terhampar selembar kain merah gelap dengan motif naga yang detailnya membuatku berhenti sejenak sebelum otakku sempat menyusun kalimat apa pun untuk menanggapinya. Aku bukan orang yang mengerti batik. Tapi bahkan aku bisa melihat bahwa ini bukan kain biasa, dan bahwa bagian ekornya yang kosong bukan cacat produksi, melainkan sesuatu yang berhenti di tengah jalan karena tangan yang mengerjakannya tak pernah sempat kembali.
“Ini punya Ibu,” kata Junu, suaranya datar dengan cara yang tak biasa untuknya. “Aku menemukannya kemarin. Kuncinya yang dari kotak kaleng Davos, yang sudah aku bawa sejak hari ketiga kita di sini.”
Aku tak bertanya kenapa dia tak langsung memberitahuku. Aku sudah cukup mengenal jenis diam itu—diam yang sama yang membuatku menyimpan berkas otopsi selama tiga hari tanpa mengatakan apa pun kepada siapa pun.
Kunci itu masuk dengan mulus. Seperti memang sudah menunggu tangan yang tepat.
Junu tak mengucapkan kalimat itu keras-keras, tapi aku bisa membacanya dari cara dia menatap peti itu, dari cara jarinya masih menggantung di dekat lubang kunci seolah baru saja melepaskan sesuatu yang lebih berat dari sekadar logam kecil.
Aku mengeluarkan amplop dari saku jaketku.
Tanpa penjelasan panjang, tanpa pembukaan yang biasa kupakai ketika mempresentasikan sesuatu kepada klien atau kepada hakim. Aku hanya meletakkannya di atas tutup peti yang terbuka, di samping kain naga itu, dan membuka amplopnya.
“Aku menemukan ini tiga hari lalu. Di laci ganda meja kasir.”
Junu mengambil lembar pertama. Membacanya. Aku memperhatikan matanya bergerak dari kata ke kata dengan kecepatan yang lebih lambat dari kecepatan orang membaca biasa, seperti seseorang yang sedang memastikan dia tak salah paham sebelum mengizinkan dirinya bereaksi.
“Berkas otopsi,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku.
“Bandingkan dengan yang ini.” Aku mengeluarkan salinan sertifikat kematian resmi yang sudah kubawa sejak hari pertama, meletakkannya berdampingan dengan berkas otopsi di bawah cahaya yang masuk dari pintu.