Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #24

Bab 24. Kiki

Hari ke-19 — Lasem

─────────────────────

Jelaga: Bukan hanya warna hitam. Ia adalah sisa dari sesuatu yang pernah terbakar. Ia tidak berbohong tentang asal-usulnya.

 

Tidak ada yang memperhatikanku ketika aku turun siang ini.

Bram dan Junu entah di mana—suara mereka tak terdengar dari lantai atas maupun dari toko, dan Wawan sedang ke pasar membeli sesuatu untuk makan siang yang tak akan sempat kumakan. Toko kosong dengan cara yang jarang terjadi belakangan ini, dan kekosongan itu sendiri terasa seperti sebuah izin yang tak pernah kuminta tapi tiba-tiba tersedia begitu saja.

Aku berjalan ke arah gudang tanpa benar-benar memutuskan untuk berjalan ke sana. Kakiku sudah tahu jalannya jauh sebelum kepalaku mengejar, hafalan yang sama yang selama tiga malam terakhir membawaku turun tangga di jam-jam yang tak masuk akal, hanya untuk duduk di ambang dan tak pernah masuk.

Kali ini aku masuk sepenuhnya.

 

─────────────────────

 

Aku menyalakan lampu senter di ponselku sebelum melangkah masuk, dan cahayanya yang putih dan keras menjilat dinding-dinding gudang dengan cara yang tak pernah kulihat dari ambang pintu—setiap lapisan jelaga tertangkap jelas sekarang, hitam yang tak rata, hitam yang menyimpan tekstur di baliknya seperti kulit yang mengeras setelah luka yang tak pernah benar-benar diobati.

Lampu senter ponsel dinyalakan. Dinding hitam jelaga.

Aku berdiri di sana cukup lama, membiarkan cahaya senter bergerak pelan dari satu dinding ke dinding lain, dari lantai yang bernoda tak rata ke rak-rak yang sebagian sudah roboh. Udara di dalam sini terasa lebih tebal dari udara toko, lebih diam, seperti udara yang sudah lama berhenti berharap ada yang akan mengganggunya lagi.

Perlahan, seperti seseorang yang mendekati sesuatu yang sangat panas meski tak ada panas apa pun di ruangan ini selain panas siang yang menguap dari luar, aku berjalan ke dinding.

Setiap langkah terasa lebih berat dari langkah sebelumnya, bukan karena ada yang menahan kakiku secara fisik, melainkan karena sesuatu di dalam dadaku bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih lambat dari kecepatan kakiku sendiri, seperti berjalan melalui air yang mengental, setiap gerakan harus didorong lebih keras dari yang seharusnya diperlukan untuk sekadar melangkah di lantai kayu yang datar.

Aku sampai di depan dinding yang paling hitam.

Tanganku terangkat.

Bukan keputusan yang kubuat dengan sadar, atau mungkin memang keputusan, tapi keputusan yang dibuat oleh bagian dari diriku yang sudah lama menunggu momen ini tanpa pernah mengizinkan bagian lain untuk tahu bahwa dia sedang menunggu. Tanganku terangkat dengan pelan, dengan cara yang hampir menyerupai gerakan orang yang sedang menyentuh sesuatu yang tidur, sesuatu yang tak boleh dibangunkan terlalu tiba-tiba.

Lihat selengkapnya