Hari ke-20 — Lasem
─────────────────────
Langkah Kaki di Belakang: Kadang yang paling penting bukan suara yang datang. Melainkan orang yang memutuskan untuk tidak pergi.
Aku baru sampai di ambang pintu gudang—sol sepatu masih basah oleh jalan setapak dari warung Mbah Jum tempat aku membeli dua bungkus nasi tadi, niatnya untuk makan siang bertiga seperti yang sudah tiga hari terakhir jadi kebiasaan yang tak pernah kami sepakati secara lisan—ketika sesuatu di dalam ruangan itu membuatku berhenti sebelum sempat melangkah lebih jauh.
Bukan suara yang jelas. Lebih ke napas yang ditahan terlalu keras hingga terdengar seperti isak yang dipaksa jadi diam, gagal separuh jalan, lalu dipaksa diam lagi.
Aku tidak bertanya dulu. Yang kulakukan cuma berhenti dan melihat.
Toko di belakangku masih menyala satu bohlam kuning di dekat meja kasir—cahaya yang tak sanggup menjangkau sejauh sini, terlalu lemah untuk melewati rak-rak dan tumpukan karung goni yang sudah kupindah ke tepi minggu lalu. Dari posisiku, aku bisa melihat siluet Kiki berlutut di lantai gudang, satu tangan menempel ke dinding paling hitam, bahunya bergetar dengan ritme yang kukenali—bukan sebagai fotografer yang membaca komposisi cahaya dan bayangan, melainkan sebagai adik yang pernah mengintip dari balik pintu kamar mandi, bertahun-tahun lalu, ketika Ayah belum pulang dan tak ada yang tahu apa yang harus dimasak malam itu.
Aku melangkah masuk—perlahan, dengan langkah yang kupelankan sendiri seperti mendekati objek liar yang bisa lari kalau disergap terlalu cepat, meski yang di depanku bukan objek, bukan komposisi, hanya kakak sulungku yang berlutut di lantai berjelaga dengan jari-jari menghitam.
Jelaga masih menempel di jarinya.
Bungkusan nasi masih di tanganku, daun pisangnya sudah mulai dingin, dan aku meletakkannya di lantai tanpa suara sebelum duduk—tidak terlalu dekat sehingga terasa memaksa, tidak terlalu jauh sehingga terasa seperti menjaga jarak. Jarak yang entah bagaimana terasa benar, meski aku tak bisa menjelaskan dari mana aku tahu jarak itu.
Kalau ini foto, aku tak akan tahu cara memberi judulnya. Bukan karena tak ada yang bisa dikatakan tentangnya—ada terlalu banyak yang bisa dikatakan, dan aku belum tahu mana yang benar.
─────────────────────