Hari ke-21 — Lasem
─────────────────────
Akibat Pertama: Kadang yang paling berat bukan ledakan. Melainkan apa yang harus dibersihkan setelahnya.
Aku turun ke lantai satu setelah mendengar pintu gudang berderit dua kali—satu kali terbuka lebih lebar, satu kali seperti seseorang menahan daun pintunya agar tidak berbunyi terlalu keras. Bukan bunyi yang mencurigakan. Tapi cukup berbeda dari ritme toko yang biasa untuk membuatku meletakkan berkas yang sedang kubaca dan turun tanpa memutuskan dulu apa yang akan kulakukan begitu sampai di bawah.
Kiki sudah tidak berlutut lagi. Aku melihat itu lebih dulu daripada apa pun yang lain, dan entah kenapa fakta sederhana itu—bahwa dia berdiri, bahwa dia bisa berdiri—terasa seperti informasi paling penting yang kudapat sepanjang hari ini.
Yang perlu dilakukan sekarang bukan bertanya. Tapi memastikan semuanya tidak rusak lagi.
Junu ada di sampingnya, satu tangan masih menggenggam tangan Kiki, dan dari cara mereka berdiri—terlalu dekat untuk disebut kebetulan, terlalu tenang untuk disebut baru saja terjadi sesuatu yang besar—aku bisa menyusun sendiri sebagian dari apa yang baru saja terjadi tanpa perlu ada yang menceritakannya kepadaku.
Kiki sudah lewat puncaknya. Yang tersisa tinggal akibatnya.
Jari-jari Kiki masih menghitam di beberapa titik, terutama di ujung telunjuk dan ibu jari kanan, dengan cara yang tak bisa disalahartikan sebagai debu biasa. Wajahnya basah di sekitar mata, garis-garis tipis yang sudah mulai mengering di pipi tapi belum sepenuhnya hilang, dan napasnya, meski sudah jauh lebih teratur dari yang kubayangkan berdasarkan bunyi pintu tadi, masih sesekali tersendat di tengah, seperti seseorang yang baru selesai menangis dan tubuhnya belum sepenuhnya percaya bahwa itu sudah selesai.
Aku tidak bergerak mendekat lebih jauh dari yang perlu. Ada jenis kedekatan yang membantu, dan ada jenis kedekatan yang justru membuat seseorang merasa diawasi tepat pada saat dia paling tidak ingin diawasi—aku sudah cukup lama menjadi orang yang harus membaca ruangan sebelum bicara di dalamnya untuk tahu perbedaan itu.
“Ada air minum di atas,” kataku, bukan pertanyaan, bukan juga perintah. Sekadar informasi yang kuletakkan di udara, supaya siapa pun yang butuh bisa mengambilnya tanpa harus meminta.