Lasem, November 2006 — Malam Setelah Kebakaran
─────────────────────
Surat Perjanjian: Selembar kertas yang bisa mengubah dua puluh tahun seseorang. Tidak ada tinta yang cukup merah untuk menuliskan apa yang sebenarnya dipertaruhkan.
Ranjang dorong itu terlalu besar untuk tubuh yang ada di atasnya, dan aku menghitung itu dulu, sebelum apa pun yang lain—tiga puluh delapan tahun menakar beras dan gula sudah melatih mataku untuk selalu tahu kapan sesuatu tak seimbang dengan wadahnya.
Selang oksigen melintang di wajah Kiki seperti benang yang salah pasang pada kain yang salah. Aku berjalan di sampingnya sepanjang koridor dengan tangan menggenggam tangannya yang lemas, tak melepaskannya sekali pun meski perawat sudah dua kali meminta aku memberi ruang, meski roda ranjang itu berdecit di setiap sambungan ubin dengan bunyi yang menempel ke gigi gerahamku dan tak mau pergi.
"Inhalasi asap ringan, Pak," kata dokter jaga, cepat, dengan nada seseorang yang sudah mengucapkan kalimat itu kepada terlalu banyak bapak lain di terlalu banyak malam yang berbeda. "Anaknya akan sadar beberapa jam lagi. Paru-parunya bersih."
Aku mengangguk. Tak sepenuhnya mendengar. Bagian dari kepalaku masih di gudang, di titik aku kembali masuk untuk kedua kalinya, di titik aku tak menemukan apa yang kuharap kutemukan.
Aku duduk di kursi tunggu di luar ruang tempat Kiki dirawat. Jaketku masih berbau asap, bau yang sudah meresap ke jahitan, ke kulit di balik kerah yang kubuka satu kancing tanpa sadar. Aku tak menangis. Ada mekanisme di dalam diriku yang menunda kehancuran itu, membungkusnya seperti barang dagangan yang belum waktunya dibuka—sebab sekarang belum waktunya. Sekarang waktunya mengurus. Bertahan cukup lama untuk memastikan yang masih hidup tetap hidup.
Petugas memberitahuku sekitar pukul sepuluh, dengan nada yang mereka usahakan sehalus mungkin, meski tak ada cara halus untuk mengatakan yang harus mereka katakan.
Aku sudah tahu. Sejak tanganku menyentuh sesuatu di dalam asap yang tak lagi bergerak dengan cara tubuh manusia seharusnya bergerak. Tapi mendengarnya dikonfirmasi resmi—nomor laporan, tanda tangan petugas—adalah sesuatu yang lain dari mengetahuinya sendiri dalam gelap.
Bram tiba dari rumah Doni, empat belas tahun, berdiri dengan cara yang membuat dadaku makin sesak melihatnya—sebab anak seusia itu semestinya belum tahu cara berdiri seperti orang dewasa yang menahan sesuatu. Junu, empat tahun, tertidur di rumah, dijaga Mbah Jum. Belum tahu apa-apa. Aku belum tahu bagaimana nanti menjelaskan kepada anak sekecil itu bahwa dunia yang dikenalnya kemarin sudah tak ada lagi hari ini.
* * *
Aku kembali ke toko sekitar pukul sebelas malam, meninggalkan Kiki di rumah sakit dengan Bram menjaga di sampingnya, sebab ada yang harus kuurus di sini dan aku tak tahan lebih lama di ruangan yang baunya disinfektan bercampur ketakutan orang lain.
Toko dalam gelap terasa seperti tempat yang berbeda dari toko yang kutinggalkan pagi tadi. Bau asap masih menempel di udara, samar, tapi tak mau pergi, meresap ke setiap permukaan yang biasanya berbau cengkih dan goni dan minyak tanah.
Aku berdiri di tengah toko yang gelap. Tak menyalakan lampu. Tak ingin melihat lebih jelas dari yang perlu.
Ketukan di pintu depan datang beberapa menit sesudahnya. Tak terukur seperti ketukan seseorang yang sudah lama berlatih menetapkan jarak antara sopan santun dan ancaman. Dua kali cepat, lalu satu kali lebih keras, seperti orang yang lupa dia sedang mengetuk pintu rumah duka, bukan pintu kantor kelurahan.
Aku membukanya dan menemukan Baskoro berdiri di sana.
Di bawah cahaya lampu jalan, wajahnya terlihat lebih tua dari yang kuingat—meski kami baru bertemu semalam. Dia tak mengenakan batik rapinya yang biasa. Hanya kemeja kancing yang salah satu kancingnya meleset satu lubang, jaket tipis yang disampirkan tergesa di bahu. Buku-buku jarinya masih kasar seperti dulu, seperti tangan yang belum sepenuhnya lupa bertahun-tahun mengangkut karung sebelum jabatan menggantinya dengan berkas dan tanda tangan.
"Sur." Suaranya pelan. "Aku dengar."
Aku tak menjawab. Membiarkan pintu terbuka, yang dia terima sebagai undangan untuk masuk.
* * *
Kami duduk di meja makan lantai dua—kursi yang sama tempat kami biasa makan malam. Baskoro menuangkan air untuk kami berdua dari kendi yang selalu ada di meja itu, gerakan yang sudah familier dari puluhan kali kunjungannya sebelum ini. Untuk sesaat aku merasa sedikit lega hanya karena ada orang lain di ruangan ini, siapa pun itu.
"Aku sudah dengar dari petugas," katanya akhirnya. "Soal Kartika."
Aku mengangguk. Tak sanggup berkata apa-apa.