Hari ke-21 — Lasem
─────────────────────
Kamera: Suatu hari kamu akan meletakkannya. Bukan karena baterainya habis. Tapi karena kamu akhirnya lebih memilih untuk berada di dalam gambar itu sendiri.
Aku bangun jam enam pagi tanpa alarm, dan hal pertama yang kulakukan bukan meraih kamera dari meja seperti biasa, melainkan mendengarkan.
Tidak ada suara keran dari kamar Kiki. Tidak ada derit lantai yang menandakan seseorang sudah turun. Rumah ini masih diam dengan cara yang berbeda dari diam biasanya—diam yang menahan sesuatu, bukan diam yang kosong. Aku sudah cukup lama tinggal di rumah ini untuk tahu bedanya, meski aku tak bisa menjelaskan bagaimana caraku tahu.
Semalam Bram turun ke gudang setelah mendengar pintu berderit dua kali. Aku tahu itu, sebab aku yang mendengarnya lebih dulu dari kamarku, lalu memilih tidak turun—bukan karena tak peduli, melainkan karena ada momen yang lebih baik dibiarkan hanya untuk dua orang yang sedang berada di dalamnya. Pagi ini, dokumen-dokumen yang kemarin berserakan di atas peti sudah rapi lagi di dalam map Bram. Kotak kaleng Davos sudah kembali ke dalam tasku, tempatnya sejak hari ketiga aku tiba di kota ini. Peti kayu jati sudah tertutup, tak terkunci, menunggu tangan yang tepat kalau suatu hari kain naga itu perlu dikeluarkan lagi.
Benda-benda itu sudah selesai bicara untuk sementara. Yang belum selesai adalah kami.
* * *
Aku turun dan menemukan Kiki sudah di dapur, berdiri di depan kompor dengan cara yang tak biasa—punggung terlalu tegak, tangan terlalu sibuk untuk sekadar merebus air. Dia tidak menoleh waktu aku masuk.
"Pagi," kataku.
"Pagi." Suaranya datar, tapi bukan datar yang dingin seperti biasanya. Lebih seperti seseorang yang baru bangun dari tidur yang sangat panjang dan belum yakin bahasa apa yang harus dipakai untuk kembali ke dunia yang biasa.
Aku tidak bertanya bagaimana tidurnya. Aku tidak bertanya apa pun soal semalam. Ada aturan tak tertulis yang entah bagaimana sudah kami sepakati bertiga tanpa satu kata pun diucapkan: kalau dia belum bicara duluan, kami tidak akan memaksanya.
Tapi jari-jarinya, waktu dia menuang air panas ke gelas, masih menghitam tipis di ujung kuku. Jelaga yang tak sepenuhnya hilang meski sudah dicuci berkali-kali semalam. Aku melihat itu, dan aku tahu Bram juga melihatnya, dari cara dia berhenti sesaat sebelum menyapa Kiki pagi ini—jeda yang terlalu singkat untuk disebut ragu, tapi cukup lama untuk kutangkap sebagai sesuatu yang sedang ditahan.
Tak satu pun dari kami bertanya apa yang terjadi di gudang. Tak satu pun dari kami perlu bertanya.
* * *
Truk buldozer datang pukul sembilan lewat sedikit, mesinnya lebih besar dari suara truk kontainer mana pun yang biasa lewat di jalur Pantura, bergerak dengan kelambatan yang terasa sengaja.
Aku sedang membantu Wawan menata rak depan ketika suara itu pertama kali terdengar—bukan deru biasa, melainkan sesuatu yang berat dan berirama, seperti mesin yang tahu dirinya sedang menuju sesuatu yang penting. Wawan berhenti menyapu di tengah gerakan. Mbah Jum keluar dari warungnya dengan kain lap masih di tangan, tak jadi mengelap apa pun.
Dua kendaraan lain mengiringi—satu mobil hitam yang sudah kukenali, satu lagi berlogo resmi yang belum pernah kulihat menempel di badan kendaraan mana pun di kota ini.
Aku mengeluarkan ponsel. Bukan kamera. Ponsel.
Ini bukan lagi soal komposisi, soal sudut yang tepat, soal cahaya pagi yang jatuh miring di etalase buram. Ini soal ada berapa banyak orang yang perlu melihat apa yang akan terjadi di depan toko ini dalam sepuluh menit ke depan.
* * *