Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #29

Bab 29. Bram

Hari ke-21 — Lasem

─────────────────────

Berkas Perkara: Setiap kasus punya titik di mana fakta tidak lagi cukup. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengatakan apa yang kamu lihat.


Di luar, suara massa sudah menyusut jadi gumaman jauh—satu-dua orang yang masih bertahan di trotoar, bertukar cerita tentang apa yang baru saja mereka saksikan, tapi tak lagi cukup keras untuk menembus dinding kayu toko ini. Di dalam, suaranya lebih sederhana: napas empat orang, dan kipas angin sudut yang berputar dengan kecepatan yang sama sejak pagi, tak peduli apa pun yang sedang dipertaruhkan di bawahnya.

Aku meletakkan map di meja makan—meja yang sama tempat Baskoro pertama kali meletakkan amplop cokelatnya dua puluh satu hari lalu. Aku memilih duduk di kursi yang sama dengan yang kududuki malam itu, sengaja, sebagai pengingat kepada diriku sendiri tentang siapa yang memegang kendali kali ini.

Kiki duduk di sisiku. Junu di ujung meja, ponsel sudah dimatikan sepenuhnya, bukan hanya disilent—aku memperhatikan itu, sebab dia biasanya butuh alasan yang cukup besar untuk benar-benar mematikan layarnya.

Baskoro duduk berhadapan dengan kami, tanpa diminta, di kursi yang dua puluh satu hari lalu dia pilih sendiri.

*    *    *

Aku menata map-mapku dengan urutan yang sudah kuhafal luar kepala sejak semalam, dan menyadari tanganku, untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun berkarier, tak sepenuhnya mematuhi kebiasaan lama yang membuatku selalu bisa menampilkan ketenangan sempurna di depan pihak lawan. Jariku sedikit lebih lambat dari biasanya menyusun kertas-kertas itu, seperti bagian dari diriku yang bukan pengacara sedang menuntut sedikit ruang untuk hadir juga di meja ini.

Aku meletakkan berkas otopsi di tengah meja terlebih dahulu.

"Kartika Rahardjo," kataku, suaraku kujaga serata mungkin. "Penyebab kematian: asfiksia akibat inhalasi asap kebakaran. Waktu kematian antara pukul dua puluh lewat lima belas dan dua puluh satu. Lokasi: gudang belakang Toko Sumber Waras."

Aku meletakkan sertifikat kematian resmi di sampingnya.

"Sertifikat yang beredar selama dua puluh tahun mengatakan serangan jantung mendadak, di kamar tidur, sekitar pukul dua puluh dua. Ditandatangani dr. Hartono—anggota Komite Kesehatan Desa yang saat itu diketuai oleh Bapak."

"Akta itu sudah diperiksa notaris resmi, Mas Bram." Baskoro angkat bicara untuk pertama kalinya, suaranya masih memakai Kromo Inggil yang biasa, meski aku bisa mendengar sesuatu yang sedikit tergesa di baliknya. "Sampun sah miturut hukum. Menapa ingkang panjenengan sebat wau sanes bab akta-nipun."

"Benar," kataku. "Akta itu sah secara formal. Tapi keabsahan formal sebuah akta tidak melindungi Bapak dari apa yang terjadi sebelum akta itu ditandatangani."

*    *    *

Aku meletakkan salinan akta utang.

"Ditandatangani malam yang sama, di meja ini, beberapa jam setelah kematian itu. Nominal dikosongkan. Jaminan: seluruh tanah dan bangunan ini." Aku menatap Baskoro langsung. "Dalam kondisi keadaan memaksa yang begitu ekstrem, Pak. Ayah saya baru saja kehilangan istrinya. Anak sepuluh tahunnya sedang pingsan di rumah sakit. Hukum perdata mengenal ini sebagai dwang—paksaan yang membatalkan sahnya kesepakatan, betapapun rapi surat itu ditandatangani di atas kertas bermeterai."

Lihat selengkapnya