Lasem, November 2006 — Malam Kebakaran
─────────────────────
Halaman Depan Toko: Tempat orang datang dan pergi. Tapi ada malam di mana seseorang berdiri di sini dan memilih untuk tidak masuk — dan tidak bisa melupakan pilihan itu seumur hidup.
Aku datang untuk bicara soal tanah.
Sepetak lahan di sisi timur Lasem, dekat jalur penghubung ke Rembang. Investor dari Semarang sudah menunggu jawaban sejak sore. Aku butuh nama Suryo di kertas itu—bukan uangnya, hanya namanya, sebab nama orang yang dipercaya satu kampung lebih berharga daripada modal berapa pun yang bisa dibawa orang luar.
Dia menolak di halaman depan toko, berdiri di antara pintu dan jalan, dengan cara yang tak pernah berubah sejak dua puluh tahun aku mengenalnya: tenang, tak terburu-buru menjelaskan, seolah penolakannya sendiri sudah cukup jadi alasan.
"Tanah itu bukan cuma tanah, Bas," katanya. "Ada sumur di sana. Ada rumah tiga generasi."
"Ini kesempatan, Sur."
"Buat siapa?"
Aku tak menjawab secepat yang seharusnya. Dan diamku sendiri, kurasakan, sudah menjawab untukku.
Kami masih berdiri di sana, di ambang perdebatan yang tak akan pernah selesai malam itu, ketika cahaya di jendela gudang belakang berubah warna.
* * *
Oranye. Bergerak. Terlalu terang untuk cahaya lampu petromaks yang biasa menyala di sana sampai larut.
Suryo yang pertama sadar. Aku melihat wajahnya berubah sepersekian detik sebelum dia berlari—bukan ke arahku, bukan ke arah mana pun yang melibatkanku, langsung menuju gang samping menuju halaman belakang.
Aku berdiri di tempatku.