Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #31

Bab 31. Junu

Hari ke-24 — Lasem

─────────────────────

Siaran Terakhir: Tidak semua momen penting perlu didokumentasikan. Beberapa momen lebih berharga ketika dibiarkan hanya ada di dalam satu ruangan.


Kabar itu sampai lewat Wawan, yang mendengarnya dari seorang kenalan di kantor kelurahan, dan sampai ke kami dengan detail yang sudah dihaluskan oleh berapa kali ia berpindah dari mulut ke mulut: Pak Baskoro datang sendiri ke Polres Rembang pagi tadi, naik motornya sendiri, tanpa pengacara yang biasa mendampinginya.

Tak ada yang memaksanya. Bram bilang, secara hukum, kami bisa menunggu proses resmi berjalan dengan sendirinya—surat panggilan, jadwal pemeriksaan, semua birokrasi yang biasanya butuh waktu berminggu-minggu sebelum seseorang benar-benar duduk di kursi interogasi. Baskoro tidak menunggu jadwal itu.

Aku duduk di anak tangga depan toko waktu Wawan menceritakannya, kamera masih tergantung di leher dari kebiasaan pagi yang belum sempat kuubah, dan aku membiarkan cerita itu masuk pelan-pelan tanpa buru-buru bertanya lebih jauh. Ada bagian dari diriku yang ingin tahu detailnya—berapa lama dia duduk di kursi tunggu, apa yang dia katakan waktu petugas bertanya keperluannya, apakah tangannya gemetar. Ada bagian lain yang sudah cukup puas dengan tahu bahwa ini terjadi, tanpa perlu membayangkannya lebih detail dari itu.

"Katanya dia bilang mau kasih keterangan soal Bu Kartika," kata Wawan, suaranya pelan, seperti masih tidak percaya kalimat itu keluar dari mulutnya sendiri. "Tahun 2006."

Aku mengangguk. Tak ada yang perlu ditambahkan pada kalimat itu.

*    *    *

Warga mulai berkumpul di depan Toko Sumber Waras sore itu, begitu kabar sampai ke telinga terakhir orang yang belum tahu.

Bukan perayaan yang direncanakan. Tak ada yang mengundang, tak ada spanduk, tak ada pengeras suara seperti hari buldozer datang tiga hari lalu. Orang-orang hanya mulai berdatangan satu per satu, membawa apa yang kebetulan ada di tangan mereka. Mbah Jum membawa dua termos jamu yang dia bagikan gratis kepada siapa pun yang lewat, tangannya yang keriput menuang dengan kestabilan yang tak berkurang meski usianya sudah tujuh puluh lebih.

Wawan berdiri di depan pintu toko dengan senyum yang jarang sekali kulihat di wajahnya—senyum yang tak sepenuhnya lebar, seperti dia sendiri masih ragu berapa besar senyum yang pantas untuk hari seperti ini.

Bram berdiri di dekat pintu, masih mengenakan kemeja kerja meski tak ada sidang yang perlu dia hadiri hari itu, sesekali menjawab pertanyaan tetangga yang ingin tahu apakah toko benar-benar aman sekarang. Kiki duduk di kursi kayu dekat etalase, masih tanpa kacamata hitam, mendengarkan cerita-cerita yang dibagikan warga tentang Ayah dengan cara yang tak pernah dia lakukan sebelum hari-hari terakhir ini—benar-benar mendengarkan, bukan menunggu giliran bicara.

Lihat selengkapnya