Hari ke-25 — Lasem
─────────────────────
Gunting Karatan: Masih bisa memotong. Tapi tidak harus selalu digunakan untuk memutus.
Kertas di depanku sudah penuh coretan, dan aku belum menulis satu kalimat pun yang bertahan lebih dari beberapa detik sebelum kucoret lagi.
"Pak," tulisku. Lalu kucoret.
"Bapak," di bawahnya. Lebih formal. Terlalu mirip surat yang kutulis untuk pemasok kain yang menunggak, bukan untuk seseorang yang sudah dua puluh tahun aku salah pahami. Kucoret juga.
Percobaan ketiga lebih panjang sebelum aku berhenti: "Bapak, aku sudah tahu semuanya sekarang. Aku baca yang Bapak tulis di buku kas, aku dengar dari Mbah Jum soal malam itu, dan kemarin aku dengar sendiri dari Pak Baskoro." Aku berhenti di sana, membaca ulang, dan merasakan sesuatu yang aneh—menuliskan fakta-fakta itu berurutan, dalam kalimat yang rapi, membuat semuanya terasa lebih kecil dari yang sebenarnya, direduksi menjadi daftar seperti catatan belanja.
Aku mencoret itu juga.
Kertas di depanku sekarang penuh coretan, peta dari semua cara yang gagal untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana tapi entah kenapa tak bisa keluar dengan mudah. Tanganku sendiri—yang bertahun-tahun terlatih memotong pola dengan presisi milimeter, yang tahu persis kapan gunting harus berhenti dan kapan harus terus menyayat kain sampai ke ujung—sekarang tak tahu di mana harus berhenti atau kapan harus mulai lagi.
* * *
Aku meletakkan pulpen dan menyandarkan punggung ke kursi.
Mungkin surat ini tidak perlu selesai hari ini. Mungkin tidak perlu selesai sama sekali—mungkin fungsinya bukan untuk dikirim, bukan untuk dibaca oleh siapa pun termasuk aku sendiri di kemudian hari, melainkan sekadar sebagai tempat untuk meletakkan sesuatu yang terlalu berat untuk terus dibawa di dalam kepala tanpa bentuk apa pun.
Dari bawah, aku mendengar suara sapu menggesek lantai kayu—ritme yang familier, ritme yang sudah kudengar sejak kecil setiap pagi ketika Ayah atau Wawan membersihkan toko sebelum buka. Suara itu, entah kenapa, membuat sesuatu di dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Aku melipat kertas itu—bukan membuangnya, hanya melipatnya dan menyimpannya di laci meja, untuk nanti, untuk suatu hari ketika kata-kata mungkin datang lebih mudah—dan turun ke bawah.
* * *
Wawan sedang menyapu bagian depan toko ketika aku turun, dengan gerakan yang sudah dia ulang ribuan kali selama bertahun-tahun bekerja di sini, gerakan yang tak lagi membutuhkan pikiran untuk dilakukan dengan benar.
Di dekat pintu gudang, tergantung di sebuah paku karatan di dinding, aku melihat sepasang gunting tua—gagangnya kayu yang sudah menghitam oleh keringat tangan yang memegangnya selama puluhan tahun, bilahnya sendiri sudah berkarat di beberapa titik tapi masih menyatu rapat ketika kubuka dan kututup sekali, refleks tanganku sendiri yang tak bisa menahan diri untuk menguji ketajaman gunting apa pun yang kutemukan.
Aku menggantungnya kembali ke paku itu. Masih bisa memotong, kurasakan dari cara bilahnya menyatu barusan—karat di permukaannya tak sampai ke bagian yang benar-benar penting, bagian yang menentukan apakah sesuatu bisa dipisahkan atau tidak.