Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #33

Bab 33. Bram

Hari ke-27 — Lasem

─────────────────────

Buku Kas Bergaris Merah (Terakhir): Semua utang akhirnya tercatat. Termasuk yang tidak bisa dibayar dengan uang.


Kurir itu datang jam sepuluh pagi, dengan map plastik yang dia serahkan dan minta aku tanda tangani di buku tanda terima sebelum dia sempat menjelaskan isinya.

Aku sudah menduga isinya, sebab aku sendiri yang meminta rekan pengacaraku di Semarang mempercepat prosesnya minggu lalu, tapi menduga dan membaca kata-kata resminya di atas kop surat notaris adalah dua hal yang berbeda.

Akta Pengakuan Hutang Nomor sekian, tertanggal 2006, dinyatakan batal demi hukum, sehubungan dengan cacat dalam proses penandatanganan yang bertentangan dengan asas kebebasan berkehendak sebagaimana diatur Pasal 1320 KUH Perdata, serta keterkaitannya dengan tindak pidana pemalsuan surat yang saat ini dalam proses penyidikan Polres Rembang.

Tiga miliar rupiah. Selesai. Bukan karena dilunasi. Karena tak pernah sah dituntut sejak awal.

Aku membaca lembar itu dua kali di teras, berdiri, belum masuk ke dalam. Cap merah notaris masih sedikit lengket di jariku ketika aku membuka lipatannya terlalu cepat.

*    *    *

Aku menelepon rekan di Semarang begitu aku selesai membaca, bukan untuk mengonfirmasi apa yang sudah tertulis jelas di kertas itu, melainkan untuk memastikan langkah berikutnya.

"Sudah bisa kudaftarkan pencoretan hak tanggungannya ke kantor pertanahan?" tanyaku, berjalan sambil bicara, menuju meja kasir tempat map-map lain masih tersusun.

"Bisa langsung minggu ini, Mas. Aku kirim kuasa lewat email siang ini, tinggal tanda tangan dan kirim balik."

"Tolong dipercepat. Aku mau ini selesai sebelum aku balik ke Jakarta."

"Kapan rencananya?"

Aku berhenti sebentar sebelum menjawab, sebab pertanyaan itu, meski terdengar administratif, tak sepenuhnya administratif lagi bagiku. "Belum pasti," kataku. "Tapi bukan minggu ini."

Aku menutup telepon dan duduk di kursi kasir—kursi Ayah, dengan bantal tipis yang sudah kempes rata—dan meletakkan salinan pembatalan akta itu di atas meja, di samping map berisi berkas otopsi dan sertifikat palsu yang sudah kubawa ke mana-mana selama sepuluh hari terakhir.

*    *    *

Kiki turun dari kamarnya dengan kain sampel di tangan, warna merah tua yang lebih gelap dari yang biasa dia pakai, dan dia berhenti sebentar di dekat meja kasir waktu melihat kertas itu.

"Sudah keluar?" tanyanya.

Lihat selengkapnya