Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #34

Bab 34. Junu

Hari ke-28 — Lasem

─────────────────────

Kunci Duplikat: Dibuat untuk yang baru. Karena yang lama sudah digunakan untuk membuka sesuatu yang tidak bisa dikunci kembali.


"Jadi beneran nggak balik ke Jakarta?" Kiki bertanya sambil menyendok nasi goreng yang aku masak asal-asalan pagi ini—telur terlalu matang di satu sisi, kecap kebanyakan, tapi tak ada satu pun dari kami yang cukup peduli soal itu untuk mengeluh.

"Beneran," kataku.

"Kamu udah bilang itu kemarin ke Bram soal IMB-nya. Aku cuma mau denger kamu bilang sendiri, bukan lewat urusan surat-surat."

Aku menyendok nasi, mengunyah lebih lama dari yang perlu, mencari cara menjawab yang tidak terdengar seperti pidato. "Aku nggak balik," kataku akhirnya. "Bukan cuma karena toko. Aku pengin coba hidup yang aku pilih sendiri, bukan yang kebetulan aku jalani karena nggak ada pilihan lain."

Kiki menatapku sebentar, lalu mengangguk, gerakan kecil yang di dua puluh delapan hari terakhir sudah kupelajari artinya: dia percaya, dan dia tidak butuh aku menjelaskan lebih jauh dari itu.

Bram, di ujung meja dengan kopi yang sudah setengah dingin, hanya berkata, "Bagus," lalu kembali ke ponselnya, membalas sesuatu dengan cara yang membuatku curiga dia sudah menganggap keputusan ini selesai sejak kemarin dan sarapan ini cuma formalitas yang perlu dilalui semua orang untuk merasa resmi.

*    *    *

Aku sudah janji ke tukang kunci di dekat pasar sejak dua hari lalu, dan pagi ini aku akhirnya punya alasan yang cukup untuk benar-benar ke sana—bukan sekadar niat yang mengambang di kepala, melainkan sesuatu yang perlu benar-benar dikerjakan sebelum Bram dan Kiki berangkat ke Jakarta minggu ini, meninggalkan rumah ini sepenuhnya jadi tanggung jawabku sendiri untuk pertama kalinya.

Kios itu tak lebih dari tiga meter persegi, diapit toko kelontong lain dan bengkel motor yang berisik. Seorang bapak setengah baya duduk di antara gerinda kecil dan papan berisi anak kunci kosong yang tergantung berjajar, belum diberi bentuk, menunggu untuk diberi gigi.

"Mau dikunci berapa, Mas?" tanyanya, tanpa mengangkat kepala dari kunci yang sedang dia jepit di ragum.

"Satu aja, Pak. Buat pintu depan toko."

Aku menyerahkan kunci asli—kunci pintu depan Toko Sumber Waras, yang selama dua puluh delapan hari terakhir masih dipegang bergantian oleh siapa pun yang bangun paling pagi, tak pernah benar-benar milik satu orang. Tangan bapak itu, saat menerimanya, hitam di pori-pori kukunya oleh oli mesin gerinda yang sudah bertahun-tahun tak sepenuhnya bisa dicuci hilang.

Lihat selengkapnya