Hari ke-29 — Lasem
─────────────────────
Kain Mori Yang Tidak Selesai: Bukan gagal. Hanya menunggu tangan yang tepat untuk melanjutkannya.
Kain itu terasa lebih ringan dari yang kuingat.
Bukan karena beratnya benar-benar berubah—kain batik Tiga Negeri seberat ini, dengan lapisan pewarna yang meresap sampai ke serat paling dalam, tak mungkin kehilangan gramasi apa pun hanya karena sudah beberapa kali berpindah tangan. Tapi ada sesuatu dalam cara aku mengangkatnya pagi ini dari dalam peti kayu jati yang tutupnya sudah tak lagi terkunci—tanganku tak lagi gemetar seperti malam pertama aku menyentuhnya di lantai gudang yang gelap, jariku tak lagi menahan napas setiap kali menyentuh bagian ekor yang masih kosong.
Udara gudang pagi ini sudah berbeda dari yang kuingat waktu pertama masuk—masih lembap, masih menyimpan bau tua di celah-celah kayunya yang tak akan pernah sepenuhnya hilang, tapi sekarang bercampur bau sabun colek dan air yang sudah mengering di dinding, sisa Wawan menggosok jelaga dua hari berturut-turut sampai lengan kemejanya sendiri, kata Bram, hitam sampai siku setiap kali dia turun untuk makan malam. Cahaya pagi jatuh lebih jauh ke dalam ruangan sekarang, menyentuh lantai sampai ke sudut yang dulu paling gelap, memantulkan debu yang melayang pelan seperti serbuk yang belum tahu ke mana harus mendarat.
Dinding yang dulu paling hitam masih menyisakan bayangan jelaga di beberapa titik—Wawan sengaja membiarkannya, katanya, supaya rumah ini tidak pura-pura lupa apa yang pernah terjadi di sini. Tapi sisanya sudah lebih terang, lebih jujur soal usia kayu di baliknya, bukan lagi kegelapan yang menyembunyikan segalanya sekaligus.
* * *
Junu masuk membawa bingkai, menendang pintu gudang yang sudah selalu terbuka itu sedikit lebih lebar dengan ujung sepatunya karena kedua tangannya penuh. Bukan bingkai mewah dengan ukiran rumit seperti yang biasa dijajakan di toko suvenir dekat alun-alun—hanya kayu jati polos yang dipernis natural, sambungan sudutnya masih menyisakan bau lem kayu yang belum sepenuhnya kering, dengan kaca bening di depannya, ukuran yang cukup untuk menampung kain naga tanpa perlu melipatnya sedikit pun.
"Muat, kan?" tanyanya, meletakkan bingkai itu di lantai dengan hati-hati, lalu mengibaskan kedua tangannya yang memerah di pangkal jari telunjuk—bekas menjinjing bingkai sejauh dari pasar tanpa berhenti sekali pun, dia mengaku itu sendiri sebelum aku sempat bertanya.
"Muat," kataku.
Kami membentangkan kain itu di atas meja kerja yang sama tempat Ibu dulu bekerja—meja yang masih berdiri di sudut gudang, berdebu tipis tapi strukturnya masih kokoh, seolah sudah menunggu bertahun-tahun untuk digunakan lagi.
* * *
Mbah Jum datang setengah jam kemudian, berjalan pelan dari warungnya sendiri sambil membawa kain lap basah yang tak diminta siapa pun—kebiasaan seorang perempuan yang seumur hidupnya selalu datang membawa sesuatu untuk dikerjakan, tak pernah datang dengan tangan yang benar-benar kosong. Punggungnya membungkuk lebih dalam dari yang kuingat dari pemakaman Ayah sebulan lalu, dan jari-jarinya, saat dia meraih ujung kain untuk membantuku membentangkannya, gemetar halus—bukan gemetar ketakutan, melainkan gemetar sendi yang sudah tujuh puluh tahun menahan berat kehidupan sehari-hari.
"Ini motif naga-phoenix," kata Mbah Jum, menyentuh tepi kain dengan ujung jarinya yang keriput tapi masih terampil. "Ibumu ceritain rencananya ke aku, waktu itu. Katanya mau bikin buat kamu."