Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #36

Bab 36. Bram

Hari ke-30 — Lasem

─────────────────────

Kemeja yang Dilipat: Di akhir perjalanan, kamu melipat sesuatu yang tidak akan segera kamu pakai lagi. Tapi kamu masih melipat dengan hati-hati.


Lipatan ketiga.

Kemeja putih di tanganku sudah terlipat dua kali sebelum aku benar-benar sadar sedang mengerjakannya—sudut-sudutnya presisi, jarak antarlipat konsisten, gerakan yang sama persis yang sudah kulakukan ribuan kali di lemari apartemen Jakarta tanpa pernah sekali pun memikirkannya sebagai gerakan yang butuh dipikirkan. Tanganku berhenti di lipatan ketiga, di tengah kamar yang bau lembapnya sudah menjadi bagian dari kulitku sendiri selama tiga puluh hari terakhir.

Besok aku pulang ke Jakarta.

Tak banyak yang perlu kubereskan sebenarnya. Beberapa kemeja yang sudah kehilangan kekakuan setrikanya sejak minggu kedua, dua celana kerja yang lututnya sedikit melar karena terlalu sering dipakai jongkok memeriksa bagian bawah meja kasir dan rak-rak berdebu, satu jas yang tak sekali pun kupakai sejak hari pertama tiba karena tak ada acara yang membutuhkannya—kain gelapnya sekarang terasa asing di tanganku, seperti pakaian orang lain yang kebetulan tersimpan di tasku selama sebulan penuh.

Aku melipat kemeja-kemeja itu dengan cara yang sama seperti selalu. Kebiasaan yang tak berubah meski banyak hal lain tentang diriku sudah berubah selama tiga puluh hari terakhir.

*    *    *

Aku berhenti sebentar di depan jendela kecil kamar ini, menatap keluar ke jalan yang sama yang kulihat malam pertama aku tiba—hujan rintik yang membasahi jasku sebelum aku sempat masuk, papan nama toko yang catnya sudah mengelupas terlihat lebih gelap dari yang seharusnya. Hari ini tak hujan. Langit sore justru cerah dengan cara yang jarang terjadi di musim ini.

Aku memeriksa ponsel sekali sebelum benar-benar duduk. Tujuh pesan dari firma yang belum kubalas, dua di antaranya dari bagian kepatuhan internal dengan subjek yang semakin pendek dan semakin dingin setiap minggunya, seolah jarak formalitas itu sendiri sudah cukup untuk menyampaikan bahwa namaku masih tercantum di beberapa dokumen yang sedang diperiksa komisi tertentu.

Aku tak membalasnya. Aku memasukkan ponsel itu ke saku jasnya yang sudah kulipat rapi di dalam koper, seolah menjauhkan alat itu dari jangkauan tanganku sendiri bisa menjauhkan juga keputusan yang menunggu di baliknya.

Aku mengeluarkan ponsel yang lain—ponsel yang sama, sebenarnya, hanya saja untuk keperluan yang berbeda—dan duduk kembali di tepi ranjang.

*    *    *

Aku duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan, menatap nama Nanda di kontak, untuk yang kesekian kalinya dalam beberapa hari terakhir.

Sejak percakapan dengan Kiki malam itu di meja makan, sesuatu di dalam diriku sudah bergeser—bukan pergeseran besar yang bisa kutunjuk sebagai satu momen pasti, melainkan pergeseran kecil yang terakumulasi, hari demi hari, sampai akhirnya aku sampai pada titik ini: duduk di tepi ranjang, dengan ponsel di tangan yang telapaknya mulai berkeringat, benar-benar berniat menelepon.

Aku sudah menyusun kata-kata yang ingin kukatakan, seperti biasa kulakukan sebelum presentasi penting atau argumen penutup di ruang sidang—paragraf pembuka, poin-poin pendukung, penutup yang meyakinkan. Tapi setiap kali kususun ulang, terasa terlalu formal, terlalu seperti pembelaan hukum.

Aku menghapus semua susunan kata itu dari kepalaku.

Lihat selengkapnya