Jelaga Di Lidah

Dava Kalandra
Chapter #37

Bab 37. Junu

Hari ke-30 — Lasem

─────────────────────

Lampu Baru: Dipasang hari ini. Belum pernah dinyalakan. Tapi sudah ada di tempatnya.


Tidak banyak kata yang kami ucapkan sepanjang perjalanan menuju terminal, di dalam mobil sewaan yang akan Bram kembalikan di Rembang sebelum naik penerbangan sore dari Semarang, dengan tiket kereta Kiki yang sudah dia pesan tiga hari lalu untuk kembali menghadapi apa yang tersisa dari bisnis konveksinya. Kami sudah mengatakan cukup banyak selama tiga puluh hari terakhir, dan pagi ini terasa seperti waktu untuk diam yang berbeda—diam yang tak canggung, hanya lelah dengan cara yang baik.

Pelukan Bram selalu terasa seperti pelukan orang yang baru belajar caranya—kaku di bahu, terlalu singkat. Tapi pagi ini dia menahannya setengah detik lebih lama dari biasa.

"Kabari kalau butuh apa-apa," katanya. "Aku bisa bantu dari jauh."

"Makasih, Mas."

Kiki memelukku lebih lama, dengan cara yang tak kaku sama sekali.

"Jaga diri," katanya. "Dan kirim foto toko bukunya kalau udah jadi."

"Pasti."

Aku berdiri di terminal itu sampai kedua kendaraan benar-benar menghilang dari pandangan, sampai suara mesinnya melebur ke dalam suara mesin bis lain yang datang dan pergi, sampai tak ada lagi yang bisa kubedakan sebagai milik mereka berdua.

*    *    *

Perjalanan kembali ke Lasem terasa berbeda dari perjalanan-perjalanan sebelumnya, meski jalannya sama persis, meski aku mengendarai motor sewaan yang sama sejak minggu lalu.

Sepanjang jalan, aku memikirkan bahwa mulai hari ini, tidak ada lagi yang menungguku di toko. Tidak ada Bram dengan dokumen-dokumennya yang tersusun rapi di meja kasir. Tidak ada Kiki dengan sinismenya yang, aku sekarang tahu, adalah caranya melindungi diri dari dunia yang terlalu sering menyakitinya. Hanya aku, dan bangunan tua yang sudah menjadi rumahku lagi dengan cara yang belum sepenuhnya kupahami tapi sudah kupilih.

Aku memarkir motor di depan toko dan berdiri sebentar menatap papan nama SUMBER WARAS, kayu tanpa cat yang sudah bertahun-tahun dibiarkan menua, yang akan tetap seperti itu meski segalanya di baliknya akan berubah.

*    *    *

Lihat selengkapnya