Hari ke-31 — Dalam Perjalanan ke Jakarta
─────────────────────
Angin Pantura—Tidak punya arah yang tetap. Tapi selalu bergerak. Selalu membawa sesuatu dari suatu tempat ke tempat lain.
Aku mengembalikan mobil sewaan di Rembang. Petugasnya memeriksa bodi mobil sebentar, mencatat kilometer di layar kecil, tak bertanya apa-apa tentang tiga puluh hari yang baru saja kuhabiskan di dalamnya.
Penerbangan sore dari Semarang tepat waktu. Aku duduk di kursi dekat jendela, menatap Jawa Tengah mengecil di bawah sayap sampai berubah jadi petak-petak sawah yang tak lagi bisa kubedakan satu dari yang lain, lalu awan yang menutupi semuanya sampai tak ada lagi yang bisa dilihat selain putih. Pramugari menawarkan air mineral. Aku menerimanya, meminumnya perlahan, dan tak membuka laptop yang biasanya sudah kunyalakan sejak roda pesawat mengangkat dari landasan.
Sekarang aku duduk di dalam taksi yang membawaku dari bandara ke apartemen di Jakarta, dengan kota yang sudah kukenal seumur hidup melaju di luar jendela dengan kecepatan yang terasa asing setelah tiga puluh hari di jalan-jalan Lasem yang tak pernah terburu-buru.
Aku tak menghidupkan playlist briefing perkara yang biasa kudengarkan dalam perjalanan seperti ini. Tak juga podcast hukum yang biasa kuputar untuk mengisi waktu yang terasa terbuang jika hanya diam.
Aku membuka jendela sedikit.
* * *
Angin yang masuk bukan angin Pantura. Ini Jakarta, dengan udaranya sendiri yang lebih berat, lebih penuh asap kendaraan dan kelembapan kota yang berbeda dari kelembapan laut Lasem. Tapi ada sesuatu dalam angin ini, betapapun berbeda, yang membuatku teringat perjalanan tiga puluh hari lalu, ketika aku pertama kali meninggalkan kota ini dengan kabar kematian Ayah yang baru saja kuterima.
Aku tak tahu apa yang menungguku besok di kantor. Tak tahu apakah pemeriksaan KPK terhadap firma akan berlanjut menyentuh namaku secara langsung, atau berhenti sebelum sampai sejauh itu. Tak tahu apakah Nanda akan menghubungiku lagi setelah enam menit empat puluh detik yang kami habiskan kemarin sore, atau apakah percakapan itu akan jadi satu-satunya percakapan jujur yang pernah kami miliki sebelum semuanya benar-benar berakhir.